Menparekraf Kunjungi Pengrajin Handycraft dan Industri Mebel di Banyuwangi
Sabtu, 24 Mei 2014
BANYUWANGI – Dua hari berada di Banyuwangi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Mari Elka Pangestu tak menyia-nyiakan waktunya. Setelah membuka Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Competition, Menparekraf esoknya langsung mengunjungi sejumlah UMKM yang ada di Banyuwangi, Sabtu (24/5). Mulai dari pengrajin handycraft, galeri lukisan, industri mebel, hingga home industry kue tradisional khas Banyuwangi.
Dalam kunjungannya, Menparekraf tampak terkesan dengan geliat sektor industri kreatif di Bumi Blambangan. Diawali dengan melihat pusat produksi oleh-oleh khas Banyuwangi, Sherly yang menjual aneka kue khas Banyuwangi. Di sana Menparekraf sempat mencicipi rengginang dengan rambak kulit ikan.
Selain di Sherly, makanan khas Banyuwangi laen yang sempat dicoba Menparekraf adalah Soto’ Oesing yang ada Kejaya Handycraft. “Enak juga ya. Khas banget rasanya,” puji Menparekraf.
Setelah berkuliner khas Banyuwangi, Menparekraf mengunjungi Oesing Craft, UMKM yang memproduksi perabotan rumah tangga berbahan kayu. Di sana Menparekraf melihat langsung proses pembuatan wadah makanan. “Saya salut dengan Oesing craft ini. Dgn bahan kayu murah atau limbah tapi bisa menciptakan nilai tambah yg tinggi, bahkan bisa ekspor ke Jepang,” kata Menparekraf.
Oesing Craft telah mengekspor hasil produksinya berupa wadah makanan ke Mitsubishi Corporated. Nilai ekspornya mencapai 265 ribu US$.
Setelah itu, Menparekraf mengunjungi industri meubel PT Java Tectona dan PT Warisan Equendo. Di kedua tempat tersebut Menparekraf sangat terkesan dengan kualitas dan desain furniture yang diproduksi secara handmade. “Ternyata apa yang saya perhatikan di sini, ketrampilan tangan dan ketukangannya di sini sangat bagus. Buktinya pasar mereka sudah manca negara. Ini bukti kalau mereka sudah bisa memenuhi standar luar negeri,” tutur Menparekraf.
Di sektor industri kreatif, lanjut Menparekraf, kualitas dan desain berperan penting. Tantangan kita adalah bagaimana mengekspansi kapasitas skill SDM namun tetap mempertahankan kualitas. Karena handmade butuh tenaga yang terampil. “Kita jangan bilang industri massal. Ini kelas high-end. Dengan market yang terbatas, tapi nilainya tinggi. Seperti yg dilakukan di sini mendapat market di Jepang yang bisa nghasilin Rp 3-4 miliar pertahun,” kata Menparekraf.
Dalam rangkaian kegiatannya di hari kedua di Kota Gandrung, Menparekraf juga mengunjungi galeri lukis milik S Yadi K, kelenteng Ho Tong Bio, Wisma Blambangan, dan Ruang Terbuka Hijau Sayu Wiwit yang berada di depan kompleks Taman Makam Pahlawan. (Humas Protokol)