Menparekraf Tertarik Desain Arsitektur Banyuwangi

Sabtu, 24 Mei 2014


BANYUWANGI -   Dalam kunjungannya ke Banyuwangi Menparekraf Marie Elka Pangestu tanpa disangka menaruh perhatian lebih pada arsitektur bangunan di Kota Banyuwangi. Untuk itu secara khusus, Menparekraf mendapatkan pemaparan mengenai desain arsitektur beberapa bangunan yang tengah dibangun maupun yang masih dalam tahap perencanaan. Bahkan salah satu arsitek nasional yang terlibat dalam design Kota Banyuwangi Budi Pradono,  ikut memaparkan secara langsung karyanya di hadapan Menparekraf.

Budi Pradono mengatakan sangat penting bagi pemimpin daerah untuk didampingi seorang arsitek dalam membangun kota. Sebab sebuah bangunan tidak hanya dibuat berdasar fungsinya saja tapi harus mampu menjadi sebuah ikon yang menarik dan tak lekang waktu. Disinilah peran  arsitek untuk memberi pertimbangan dan mewujudkannya dalam  sebuah desain bangunan.

“Seperti Soekarno, beliau selalu mengkompensasikan bangunan yang didirikannyadengan masa berpuluh tahun kedepan, sehingga bangunan ini menjadi ikonik. Kita juga belajar dari Cina yang banyak bangunannya benar-benar memperhatikan ciri arsitektur sehingga unik dan tak lekang jaman,’ kata Budi.

Salah satu desain ikonik yang dipaparkannya adalah Desain lapangan atletik GOR Tawang Alun. Budi mendesain tribun penonton yang dari luar nampak seperti kubah yang terbuat dari susunan daun. “Ini dibuat dengan struktur atap menggunakan rangka baja dengan selimut membran motif daun. Karena kan Banyuwangi terkenal sebagai penghasil kopi,” kata Budi.

Bangunan ikonik lainnya adalah rest area menuju Gunung Ijen. Budi mendesign beberapa rest area menggunakan bambu yang dibentuk sedemikian rupa hingga seperti gunung terbalik. “Masyarakat yang menyaksikan Tur De Ijen disini bisa mengabadikan dirinya di bangunan ini sebagai ikon Ijen. Bangunan ini tidak besar karena membuat ikonik tidak perlu mahal, yang penting bisa memunculkan kebanggaan bagi sapapun yang hadir disana,” ujar Budi.

Tidak hanya menjadi ikonik namun bangunan juga didesign multifungsi seperti desain Stadion Sepakbola Diponegoro, Banyuwangi. Design yang dibuatnya terinspirasi dari Stadion Sansiro di Milan, Italia. Tribun di Stadion ini didesain, bagian atas berfungsi sebagai tempat penonton bola menyaksikan pertandingan dan dibawah tribun dimanfaatkan untuk membuka toko-toko baik suvenir maupun lainnya.

 “Agar walau tidak ada pertandingan bangunan ini tetap berfungsi. Kita juga menghadirkan ikonik pada dinding luar Stadion yang dipasang gambar penari Gandrung menggunakan teknologi dressing tercanggih” kata Budi.

Pada kesempatan itu juga dipaparkan beberapa gedung karya desain arsitek nasional lainnya yang mengangkat kekhasan lokal seperti konsep Green Building di Bandara Blimbingari dan Gedung Poliwangi dengan atap rumah Using yang didesain oleh Andra Matin. Juga dijelaskan desain Dormitory Pulau Merah dan Perpustakaan Genteng karya arsitek Yori Antar

Sementara itu Menparekraf memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap langkah Banyuwangi menggandeng arsitek nasional dalam membangun kota. Sudah terbukti bangunan yang memiliki makna-makana ikonik di seluruh dunia mampu menarik kunjungan wisatawan. “Seperti Perancis, orang-orang datang kesana untuk melihat ikonnya, kalau semua nanti terealisasi akan luar biasa dampaknya bagi Banyuwangi,” kata Menparekraf.

Menparekraf melanjutkan, tantangan kedepan setelah gedung-gedung terealisasi adalah perlunya aktivasi yang berkelanjutan. “Kuncinya adalah adanya aktivasi yang berkelanjutan pada bangunan-bangunan ini sehingga ia dapat terus bermanfaat dan akhirnya mandiri dalam pengelolaannya serta mendatangkan pendapatan bagi daerah dan masyarakat Banyuwangi,” pungkas Menparekraf.

Secara terpisah, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, pengembangan Banyuwangi tidak pernah dilepaskan dari kearifan lokal. Termasuk dalam pendirian bangunan-bangunan penting di pemerintahan, privat  maupun ruang publik, harus memiliki penanda lokal. “Kami ingin kekuatan lokal menjadi bagian dari desain gedung-gedung kami. Agar Banyuwangi memiliki idestitas yang kuat dan menjadi pembeda dari daerah lainnya,” kata Bupati.

Untuk mewujudkan ini, Pemkab telah membuat proteksi melalui kebijakan. Salah satunya ijin pembangunan hotel keluar apabila desain arsitekturnya memenuhi arsitektur lokal. “Contohnya Hotel Alila mau merubah design, tidak kita setujui kalau tidak menyertakan rumah using. Sekarang mereka sedang hunting rumah using tua untuk ditempakan di hotel itu. Ini bagian policy kami untuk menjaga eksistensi kearifan lokal,” ujarnya. (Humas Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :