Menteri BUMN Saksikan Giling Perdana Pabrik Gula Glenmore Banyuwangi
Selasa, 2 Agustus 2016
Banyuwangi - Pabrik gula modern di Glenmore, Banyuwangi, akhirnya resmi beroperasi. Disaksikan langsung oleh Menteri Badan Usaha Milik negara (BUMN) Rini M Soemarno, pabrik berkapasitas giling 6.000 ton tebu.per hari tersebut memulai giling perdananya, Selasa (2/8).
Rini mengatakan, BUMN sebelumnya tidak pernah lagi membangun pabrik gula baru sejak terakhir kali pada 1982. Terakhir dilakukan giling perdana oleh pabrik baru tersebut dilakukan pada tahun 1985 atau 31 tahun yang lalu.
“Ini adalah sebuah kebanggan. Setelah 31 tahun, hari ini dilakukan giling perdana di pabrik gula modern yang semuanya dikerjakan benar-benar dari nol oleh putra-putri Indonesia,” kata Rini.
PG Glenmore yang mulai dibangun sejak tahun 2012 ini menempati lahan seluas 29 hektar. PG ini dikelola oleh PT Industri Gula Glenmore (IGG) yang merupakan konsorsium PT Perkebunan Nusantara XII dan XI. Nilai investasi IGG ini mencapai Rp 1,5 triliun, dengan pendanaan terbesar berasal dari kredit perbankan nasional.
Dikatakan Direktur Utama PTPN XII Irwan Basri, pabrik ini dikatakan modern karena telah menggunakan mesin yang mampu meningkatkan efisiensi hingga 80 persen. "Mesinnya prima dengan teknologi modern. Dipadu dengan budidaya yang bagus dari petani tebu di Banyuwangi, kami yakin rendemen atau kadar gula dalam tebu bisa mencapai 8,5 - 9 persen. Tentunya produksi gula akan bisa maksimal," ujar Irwan.
Selain itu, lanjut Irwan, PG Glenmore menggunakan sistem karbonasi, dimana pengolahannya tidak menggunakan asam sulfat. Sehingga gula yang dihasilkan berupa gula kristal putih premium. “Pada produksi gula ada istilah ICUMSA yang disepakati secara internasional. ICUMSA menunjukkan kadar warna gula. Untuk gula premium warnanya putih bersih dengan ICUMSA dibawah 100. Sedangkan gula yang kualitasnya kurang, ICUMSA-nya 300-500,” terang Irwan.
Irwan menambahkan, PG tersebut juga layak disebut sebagai pabrik gula modern karena selain memproduksi gula juga terintegrasi dengan beberapa industri turunan yang memanfaatkan limbah tebu. Diantaranya Limbah produksinya diolah menjadi energi listrik, pupuk organik dan pakan ternak.
"Listriknya yang dihasilkan mencapai 2 x 10 megawatt. Listrik didapatkan dari ampas tebu atau bagas yang diproses dengan sistem cogeneration. Ke depan, bahkan akan kami olah lagi menjadi bioetanol dari tetes tebu. Perkiraan bioetanol yg bisa dihasilkan sekitar 80 KL per hari. Bioetanol ini untuk campuran BBM, sehingga bisa membantu pemerintah dalam memenuhi ketahanan energi nasional," ujar Irwan.
Direktur PT Industri Gula Glenmore (IGG) Ade Prasetyo mengatakan IGG memiliki kapasitas giling 6000 ton tebu perhari (tth) perhari dan akan dimaksimalkan kapasitasnya hingga 9000 tth pada tahun depan. Produksi gula yang dihasilkan diperkirakan menghasilkan 58 ton gula siap konsumsi perhari. “Hasil ini tergantung rendemen tebu saat produksi. Tapi kami memperkirakan rendemen tebu di IGG 8-9,” ujar Ade.
Saat ini IGG berdiri diatas lahan seluas 29 hektar. Sedangkan untuk lahan tebu yang akan memasok pabrik akan disiapkan 11 ribu hektar. Saat ini PTPN XII telah memiliki 7000 hektar. “Tahun depan akan ditambah dengan lahan swasta seluas 1000 hektar dan lahan rakyat 180 hektar,” ujar Ade.
Menjadi pabrik gula baru yang modern kedepannya IGG juga disiapkan menjadi wisata edukasi industri berbasis tebu. “Kami juga menyiapkan lokasi ini menjadi wisata edukasi. Kami telah menyiapkan 20 mess dan aula untuk itu,” pungkas Ade. (Humas)