Momen Langka, Para Penyanyi Kondang Banyuwangi Nyanyikan Lagu Hitsnya di Pendopo

Jumat, 2 Agustus 2013


BANYUWANGI – Malam tadi (1/8), sebuah momen langka terabadikan. Sebagian besar penyanyi kondang Banyuwangi secara bergantian menyanyikan lagu-lagu Using yang menjadi hitsnya. Nyanyian merdu mereka terlantun dalam gelaran ramah tamah Bupati Abdullah Azwar Anas bersama para pencipta lagu, penyanyi dan pelaku seni di halaman belakang Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko dan para pejabat komponen pemkab turut hadir bersama bupati.

Para penyanyi kebanggaan Kota Gandrung itu antara lain Reni Farida, Suliyana, Rozy Abdillah, Demi, Chandra Banyu, dan Gandrung Temu’. Ada juga Pipit, Dimas, Pieter, Neno, Yon DD beserta grup penyanyi Endro Wilis dan Denata . Hadir pula para produser dari Samudra Jaya Record (Miswan), Sandy Record (Momok) dan Scorpio Record (Dewi). Juga para player seperti Agung dari Green Studio Genteng, Joni LC, dan Victor. Serta para pencipta lagu seperti Andang CAE, Fatra Abal, Nasikin dan H. Tedjo.

Melihat  para seniman dan penyanyi baik senior maupun pendatang baru yang hampir 90 persen hadir dan sempat unjuk kebolehannya dalam menyanyi, Bupati Anas menyatakan kebanggaannya. “Saya merasa bangga karena anak-anak kita punya potensi suara yang luar biasa. Ini harus kita manage supaya ke depan bisa menjadi produktivitas baru yang membawa nilai positif bagi Banyuwangi,”tutur bupati.

Dalam kesempatan itu, bupati juga memperkenalkan pendopo dengan penataan baru. Menurut orang nomor satu di Banyuwangi ini, pendopo  bisa menjadi outlet bagi karya seni seperti lukisan yang banyak dipajang di dinding-dinding ruangan. “Tapi yang belum ada adalah lagu-lagu bernuansa Banyuwangi yang bisa diputar sewaktu-waktu di pendopo. Namun saya ingin yang diperdengarkan di pendopo adalah lagu Banyuwangi yang bernada optimisme atau menjelaskan peristiwa heroik. Semoga ke depan, para pencipta lagu Banyuwangi bisa membuat lagu-lagu semacam ini,”harap bupati.

Di akhir sambutannya, bupati mengingatkan para penyanyi agar lebih sopan dalam berpakaian, terutama ketika perform. Bupati miris ketika melihat banyak CD lagu-lagu Banyuwangi yang diputar di angkot-angkot (angkutan kota), kapal-kapal atau pun di restoran, lagu dan suaranya bagus, tapi cara berpakaiannya tidak senonoh. “Kalau suaranya sudah bagus dan performance-nya sopan, dibalut dengan pakaian yang sopan pula, maka dijamin  banyak orang akan menikmatinya,”tandas bupati. Dengan penampilan yang terjaga tersebut, tambah bupati, kalau perlu lagu itu tak hanya diputar di angkot saja, tapi juga bisa diperdengarkan di pesawat. “Ini bisa menjadi campaign bagi Banyuwangi,”pungkas bupati yang mendapat gelar master dari FISIP UI ini, seraya berterima kasih terhadap kontribusi para seniman yang memajukan Banyuwangi dengan cara dan kemampuan yang dimilikinya.

Salah seorang pencipta lagu Using kawakan Banyuwangi, Andang CAE juga didhapuk untuk memberikan testimoninya. Andang mengatakan, di dalam sebuah budaya terdapat kearifan lokal. Begitu pula dengan budaya Banyuwangi. “Sekarang kita lihat, budaya kita yang dulu tidak laku atau kurang dikenal, kini malah sudah  mashur hingga ke tingkat internasional. Misalnya lagu ‘Umbul-umbul Belambangan’ yang ternyata telah difestivalkan di Osaka Jepang tahun 1994 dan  ‘Luk-luk Lumbu’ yang juga diperdengarkan pada tahun 2000 di Korea. Semoga budaya Banyuwangi terus berkumandang, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional,”beber pengarang lagu ‘Umbul-umbul Belambangan’ ini.

Perlu diketahui, dalam rangka perlindungan hukum terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Pemkab Banyuwangi tahun ini telah melakukan penjaringan terhadap 72  lagu asli Banyuwangi. Dari 72 lagu yang diciptakan tersebut,  empat belas lagu difasilitasi perolehan hak ciptanya oleh Pemerintah Pusat, dan 15  lagu difasilitasi oleh Pemkab Banyuwangi. Sisanya, ada 43 lagu yang belum mendapatkan hak cipta. Namun secara bertahap ini akan ditindaklanjuti  oleh pemkab. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :