Nelayan Pantai Waru Doyong Gelar Ritual Rebo Pungkasan
Rabu, 15 November 2017
BANYUWANGI - Pantai Waru Doyong yang berada di Kecamatan Kalipuro Banyuwangi dipenuhi masyarakat, (Rabu (15/11). Mereka yang notabene adalah masyarakat nelayan memadati areal tersebut sejak pagi untuk memperingati Rebo Pungkasan. Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko turut hadir turut hadir di tengah-tengah masyarakat.
Rebo Pungkasan adalah sebuah tradisi yang hidup di tengah masyarakat pesisir. Sebagai doa bersama dan bentuk ungkapan syukur pada sang pencipta, mereka melarung sesaji ke lautan lepas. Sesaji yang dilarung tersebut terdiri atas kepala kambing, hasil bumi seperti pisang raja, ketela pohon, talas. Juga ada kelapa gading, kembang telon, dan telur. Serta sejumlah makanan seperti nasi tumpeng tujuh warna, cendol, pepes tawon, juga cangkaruk goreng yang diurap dengan kelapa. Sesaji tersebut diletakkan dalam sebuah miniatur kapal berukuran kecil yang nantinya akan dihanyutkan ke tengah laut.
Sebelum melepas sesaji untuk dilarung, Wabup Yusuf mengajak masyarakat untuk merenung. " Apa yang kita lakukan di sini adalah sebagai wujud permohonan pada sang kuasa. Jangan lupa untuk terus berdoa. Semoga masyarakat bisa bekerja dengan baik dan ikan di sini juga melimpah. Kalau ikan melimpah, maka pendapatan dan perekonomian masyarakat juga membaik," ujar Yusuf.
Ritual ini digelar setiap bulan Safar pada hari rabu terakhir. Dijelaskan oleh tokoh masyarakat setempat, Ahmad (62), tradisi ini pernah mengalami kepunahan. Namun warga bersama tokoh masyarakat di wilayah tersebut bersama-sama menghidupkannya kembali sejak tahun 2000-an.
"Kalau kita kaji makna di dalamnya bagus sekali. Ini melambangkan keguyuban masyarakat, di samping juga kita mohon pertolongan pada Allah agar dijauhkan dari bala dan diberikan panen ikan yang melimpah,"tuturnya.
Dan apa yang dibawa dalam sesaji, imbuh Ahmad, juga tidak asal-asalan. Seperti misalnya cendol atau dawet. "Cendol itu juga ada maknanya. Maksudnya, kalau kita mencari ikan di laut, harapannya mendapatkan ikan yang banyak. Tapi bukan ikan kecil-kecil melainkan yang besar-besar," terangnya sambil melepas rombongan kapal yang melarung sesaji.
Ritual tersebut diakhiri dengan doa bersama dan selamatan warga. Mereka menggelar makan nasi tumpeng dan bubur merah putih bersama-sama. (*)