Owner Lazuardi Beri Pencerahan pada Pejabat Komponen Pemkab, Kepala SKPD dan UPTD
Selasa, 18 Maret 2014
Ubah Paradigma Soal Pendidikan
BANYUWANGI – Owner Lazuardi Tursina Global Islamic School, Haidar Bagir, didhapuk Bupati Abdullah Azwar Anas untuk memberikan pencerahan terkait pendidikan pada pejabat komponen pemkab, Kepala SKPD, camat, lurah dan UPTD Pendidikan, Selasa (18/3) di Pendopo Shaba Swagata Blambangan. Hal itu dimaksudkan agar seluruh elemen tersebut memiliki pemahaman yang sama tentang cara mendidik anak.
Bupati Anas, di depan seluruh audiens menjelaskan urgent-nya memiliki pemahaman yang sama, sebab sebagai pihak yang menjadi pengambil keputusan, penting untuk memahami kemana kebijakan akan diarahkan. Dengan gamblang Bupati Anas menjelaskan upayanya agar Lazuardi bisa berdiri di Banyuwangi, berawal dari pertanyaan beberapa investor. Mereka mempertanyakan, jika mereka masuk ke Banyuwangi untuk berinvestasi, apakah ada jaminan ada sekolah yang bagus untuk anak-anak mereka. Begitu pula bila mereka sakit, apakah ada rumah sakit yang lengkap untuk menangani penyakit mereka. “Ini akan jadi ikhtiar bagi kita supaya Banyuwangi punya sekolah yang bagus dan berkualitas,”tutur Bupati Anas.
Menurut Haidar, Lazuardi bukan semata-mata sekolah untuk anak-anak orang berduit. Tapi konsep yang diajarkan di situ bisa ditularkan ke sekolah-sekolah yang lain. “Konsep pendidikan saat ini telah berubah, yakni dari kesuksesan ke kebahagiaan. Kebahagiaan adalah dekat dengan Tuhan dan mencintai serta dicintai sesama manusia. Karena itu dalam mendidik anak jangan keliru, arahkan dia agar tak sekedar sukses saja, tapi juga bahagia dengan apa yang ia jalani,”ujarnya.
Yang tak kalah penting, beber Haidar, buat anak merasa nyaman. Cara paling bagus mengajak anak menghargai atau menghormati orang lain adalah diawali dari orang tua yang menghargai atau menghormati anaknya. Selain itu mengajarkan anak untuk mengembangkan skill-nya ke kreatifitas, sehingga dia terbiasa berinovasi dan berpikir berbeda dari orang lain (out of the box). Juga lebih mengutamakan pembelajaran sikap (bagaimana memiliki sikap yang baik) daripada sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, lebih menekankan soft skill daripada hard skill, yakni cenderung mengajarkan kreatifitas, leadership, self confident, kejujuran dan akhlak yang mulia. Haidar pun menekankan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Semuanya pandai. Hanya saja bentuk kecerdasan yang mereka miliki bermacam-macam.
Tak hanya Haidar Bagir yang berkesempatan berbagi ilmu. Pakar pendidikan berbasis multiple intelligences (kecerdasan ganda/majemuk-red) Munif Chatib juga tak ketinggalan. Penulis beberapa buku best seller, diantaranya ‘Sekolahnya Manusia’, ‘Gurunya Manusia’, ‘Orang Tuanya Manusia’, ‘Sekolah Anak-Anak Juara’ dan ‘Guardian Angel’ tersebut berbagi tips agar tak salah mendidik anak dan tak salah memilihkan sekolah bagi anak. Sebab, dengan cara mendidik yang salah, orang tua dan guru berperan menjadi pembunuh bakat anak.
Ada 5 bingkisan yang Munif tekankan untuk diberikan pada anak. Pertama, bintang. Maksudnya, mulai detik ini lihatlah anak-anak kita sebagai bintang, bagaimana pun kondisinya. Mereka adalah juara di rumah. Karena Allah tidak pernah memproduksi produk-produk gagal, dan setiap ciptaan Allah adalah masterpiece. Kedua, samudera. Pada dasarnya kemampuan anak-anak kita seluas samudera. Mereka belajar berbagai hal, seperti belajar percaya diri dan belajar menyelesaikan permasalahan yang mereka alami.
Ketiga, harta karun. Setiap anak cerdas dengan multiple intelegence, dan itu tak ada hubungannya dengan nilai tes. Tapi lebih kepada bagaimana anak-anak kita memunculkan karya-karya baru. Keempat, discovering ability (kembangkan kemampuan anak, dan kubur dalam-dalam ketidakmampuan anak). Sebagai orang tua, kita harus mampu menyelami dan menemukan kelebihan-kelebihan yang ada pada anak kita. Dan yang kelima, bakat. Antara potensi, hobby, bakat, minat dan profesi berhubungan erat. Karenanya kita harus mendekatkan sekolah anak kita dengan bakatnya, agar sukses dan bahagia dunia akhirat.
Dalam kegiatan yang bersifat memotivasi ini, seluruh audiens terlihat larut di dalamnya. Apalagi disertai dengan tayangan-tayangan film yang menggugah hati. Salah satu peserta yang juga Kepala Dinas PU Pengairan, Guntur Priambodo menyatakan, pelatihan ini memberikan pencerahan baru pada caranya mendidik ketujuh anaknya. Selama ini dalam mendidik putra-putranya, Guntur mengadopsi pola asuh dari orang tuanya. Dengan ilmu baru yang ia dapatkan, paradigmanya tentang pendidikan pelan-pelan juga akan ia ubah. (Humas & Protokol)