Para Supporter Liverpool All Out Bantu Pasien Katarak

Rabu, 15 Januari 2014


 

BANYUWANGI - Para supporter club sepak bola dari United Kingdom (UK),  Liverpool, yang ada di Indonesia, terlihat all out membantu pendanaan bagi para pasien katarak yang menjalani operasi pengangkatan kataraknya di markas PMI cabang Banyuwangi, Rabu (15/01).                        

Juru bicara para supporter Liverpool, Anfield Bunker mengatakan sudah sejak tahun 2013 lalu mereka bergabung dengan the John Fawcett Foundation (JFF) dan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI) untuk melakukan misi kemanusiaan, membantu kaum dhuafa yang menderita katarak dan  bibir sumbing. " Ketika pertama kali berkunjung ke Indonesia, kami terkejut melihat begitu banyaknya masyarakat Indonesia yang nyaris terkena kebutaan akibat katarak. Kami hanya berupaya melakukan langkah kecil untuk menolong mereka, sebab rasanya tidak adil membiarkan mereka menderita hanya karena tak ada biaya  untuk  berobat,"urai lelaki yang akrab disapa Vinny ini.

Menurut Vinny, pihaknya berkomitmen tak akan pernah berhenti untuk membantu kaum papa yang terkena katarak ini. Uniknya, suami dari Susi Albonetti, wanita asal Indonesia ini, menggalang dana dengan cara membuat video terkait program  ini dengan serius dan  menyebarluaskannya di UK, dan menjadi konsultan di salah satu radio FM terkait misi kemanusiaan yang dijalankannya. "Itu cara kami menjalin link dengan para businessmen, supporter Liverpool lainnya di banyak negara, dan siapa pun yang peduli," tandas Vinny.        Untuk menunjukkan keseriusannya, Vinny dan timnya bahkan ikut roadshow  bersama JFF dan YKI ke beberapa wilayah  seperti Bali, Jakarta, Bandung, Semarang, Jepara, Yogyakarta, Sumbawa dan Banyuwangi.                                  

Selain para supporter Liverpool, yang tak kalah berperan penting adalah JFF dan  YKI. Ketua Senior Program YKI, Drs Wayan Sukajaya mengatakan, ini adalah kesempatan baik untuk berbagi.  Dikatakan oleh Wayan, ini adalah kedua kalinya pihaknya datang ke Banyuwangi setelah tahun 2006 lalu juga berkeliling ke desa-desa di Banyuwangi untuk ‘menjemput bola’, mencari orang-orang yang patut dibantu lewat operasi katarak. "Setelah 6 tahun berlalu, ternyata penderita katarak di Banyuwangi  masih tinggi,"  cetusnya.  

Sama gigihnya dengan YKI, para medis dari JFF juga tak segan untuk 'bergerilya' di tengah-tengah kerumunan ratusan pasien untuk mencari pasien mana yang layak ditangani lebih dulu terkait parah atau tidaknya tingkat  katarak yang diderita. Masing-masing pasien menjalani tahapan sebelum dioperasi. Mulanya mereka dites untuk membaca sejumlah huruf dalam berbagai ukuran dengan jarak tertentu. Kemudian mereka menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis mata. Dari situ ditentukan apakah mereka akan menjalani operasi katarak ataukah hanya perlu mendapatkan bantuan kacamata akibat gangguan mata plus, minus atau silinder yang dideritanya. Bagi yang dinyatakan harus menjalani operasi katarak, maka mereka akan menjalani anestesi (pembiusan) pada daerah mata sebelum kemudian dioperasi.

Operasi katarak dilakukan di dalam sebuah bis yang dinamakan 'Klinik Mata Keliling'. Pada saat operasi, lapisan katarak pada bola mata akan diangkat dan dilakukan biometri atau penanaman lensa pada mata untuk menggantikan lensa mata yang rusak. Setelah itu pasien diperbolehkan pulang, dan keesokan harinya diminta kembali datang untuk kontrol hasil operasinya. (Humas  & Protokol)

 


Berita Terkait

Bagikan Artikel :