Parade Gandrung Sewu Episode ‘Seblang Subuh’ Siap Digelar

Selasa, 25 November 2014


BANYUWANGI – Semakin dekat dengan pelaksanaan Parade Gandrung Sewu yang dihelat Sabtu (29/11) mendatang, para penari Gandrung, Selasa sore (24/11), mengikuti gladi kotor. Digelar di Taman Blambangan Banyuwangi, gladi kotor  itu menghadirkan 1200 penari gandrung.  Selanjutnya gladi bersih akan digelar sehari sebelum hari H (Jumat, 28/11) di Pantai Boom.

 Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda  menjanjikan kemasan Gandrung Sewu yang berbeda dengan Gandrung Sewu di tahun-tahun sebelumnya. “ Gandrung Sewu kali ini mengangkat tema ‘Seblang Subuh’,”kata Bram. Jika pada Gandrung Sewu pertama  ‘Jejer Gandrung’ menjadi episode pembuka, dilanjutkan dengan tema ‘Paju Gandrung’ di tahun kedua, jelas Bram, ‘Seblang Subuh’ mengemas tarian tersebut dengan sajian yang lebih lengkap dan iringan musik yang rancak, ditambah sedikit sentuhan teatrikal.

Seblang subuh  bermakna permohonan ampun kepada yang maha kuasa. Pertunjukan kolosal ini akan diawali dengan munculnya beberapa lelaki yang membawa penjor. Mereka adalah mantan prajurit-prajurit Blambangan yang tengah berusaha mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya di masa lalu. Setelah terkumpul beberapa orang, mereka mentasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki). Kemunculan Gandrung Marsan ini tepat pada masa pemerintahan bupati ke-5 Banyuwangi, yakni Bupati Pringgokusumo.

Kemudian ada prosesi meras gandrung atau mewisuda untuk menjadi gandrung. Suasana magis akan sangat terasa dari dupa yang dinyalakan saat prosesi ini dibawakan.

Pada awalnya, Gandrung adalah seorang laki-laki, lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi. Munculnya Gandrung Semi diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang menghambur dari berbagai arah dan kemudian menyatu di satu titik.

Keberadaan Gandrung Marsan tak lama. Ada peristiwa pajuan dimana terjadi perebutan posisi sebagai gandrung, antara gandrung laki-laki dengan gandrung  perempuan. Fragmen pajuan ini dibawakan oleh Gandrung Profesional. Pertikaian di antara mereka berlangsung hingga subuh tiba. Saat subuh datang dan mulai berkumandang suara adzan, tiba-tiba mereka yang sedang bertarung tersadar akan kesalahannya. Kedua belah pihak memohon ampun pada sang maha kuasa. Mereka menyadari bahwa menjadi gandrung adalah suratan tangannya, jadi harus dijalani, dan tak perlu diperebutkan. Ketika itu pula, mereka dinasihati tetua adat agar selalu berhati-hati, karena menjadi gandrung berarti harus berhadapan dengan banyak resiko. Mulai dari pencemaran nama baik, dihina sesama perempuan hingga dilecehkan laki-laki yang lupa diri.

Setelah itu ada adegan dimana salah seorang gandrung  diangkat dengan tandu dan dibawa  ke tengah-tengah arena. Gandrung perempuan yang jumlahnya ribuan kemudian mengerumuni gandrung yang ditandu itu, dan mengikuti kepergiannya. Bagian ini menjadi akhir dari pertunjukan Gandrung Sewu episode Seblang Subuh ini.

Uniknya, karena bermakna permohonan ampun pada yang maha kuasa, properti yang dibawa para penari gandrung ini selain kipas adalah sapu lidi. Simbolisasi bersih-bersih diri dan mohon ampun ditunjukkan dengan sapu lidi yang mereka bawa.

Di bawah pesona keelokan Pantai Boom yang berlatar belakang Pulau Bali, masyarakat akan dihibur mulai pukul 15.00 – 16.30 WIB. Praktis selama 1,5 jam mereka akan dihipnotis dengan suguhan apik Gandrung Sewu ‘Seblang Subuh’ ini. (Humas & Protokol)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :