Pasok Permintaan Pasar, Ibu Rumah Tangga Banyuwangi Mulai Dilatih Menganyam Bambu

Selasa, 8 November 2016


BANYUWANGI - Memenuhi permintaan pasar akan kerajinan bambu, para pengrajin di Banyuwangi mulai melibatkan ibu-ibu rumah tangga. Para perempuan ini dilatih cara membuat bahan baku anyaman bambu untuk kemudian dipasok ke pengrajin bambu.

Siang itu, Selasa (8/11), puluhan ibu-ibu tampak antusias mengikuti pelatihan yang bertempat di rumah salah satu warga di Dusun Pekarangan Desa Kelir Kecamatan Kalipuro. Sebagian terlihat sedang membuat rautan bambu kecil-kecil, sebagian lagi serius menyelesaikan anyaman bambu yang tengah mereka kerjakan. Mereka ini sedang membuat kerangka truntum (bahan dasar anyaman bambu).

Truntum merupakan bahan dasar yang bisa dibentuk menjadi beragam kerajinan bambu. Seperti lampu hias, tudung saji, songkok, tempat kue, parcel buah, dan masih banyak lagi. Satu lembar truntum, berukuran 50 x 60 centimeter.

“Harus telaten dan sabar untuk menganyam bambu ini. Jangan sampai lupa mengunci ujung anyamannya biar gak lepas. Soalnya kalau lepas, bisa rusak lagi, jadi tambah pusing,” ujarnya sambil terus menganyam.

Jamiatun mengaku baru pertama kali ini mencoba menganyam bambu. Dia mengikuti pelatihan ini karena rasa penasaran selain juga ingin menambah keterampilan. Dia pun terlihat telaten menganyam bambu. Satu persatu bambu-bambu tipis  untuk bahan yang telah diserut itu dijalin rapi oleh tangannya. Jamiatun pun merasa bisa menguasai ketrampilan ini.

“Kalau sudah bisa menganyam dengan rapi, saya kepingin usaha truntum ini. Lumayan, bisa dikerjakan sambil momong anak di rumah. Tentunya bisa nambah penghasilan di rumah juga,” kata dia.  

Hal yang sama juga dilontarkan peserta lain, Ani Karimah (21). Ani merasa pelatihan ini bakal bisa bermanfaat bagi dirinya. “Lumayan susah, apalagi kalau pas menganyam pola baru. Tapi saya senang bisa diajari menganyam bambu ini,” kata Ani.

Pelatihan menganyam bambu ini difasilitasi langsung oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi. Kepala Disperindagtam, Hary Cahyo Purnomo, mengatakan saat ini permintaan pasar terhadap kerajinan bambu Banyuwangi semakin tinggi. Para pengrajin di Banyuwangi pun mulai kewalahan menyediakan truntum (lembaran anyaman bambu) yang terbatas. 

“Pengrajin yang ada di Gintangan kesulitan mendapat pasokan truntum. Mengisi kekurangan ini, kami berinisiatif menggelar pelatihan membuat truntum bambu untuk perempuan," ujar Hary.  

Ditambahkan Hary, pelatihan semacam ini dilakukan di wilayah yang memiliki potensi tanaman bambu. "Selama ini pengrajin bambu hanya disuplai dari Desa Gombengsari, dan ini sangat kurang jika dibandingkan dengan permintaan yang ada. Oleh karenanya, kami gelar pelatihan  di wilayah lain yang juga ada potensi bambu agar semakin banyak wilayah yang bisa menyediakan pasokan truntum. Seperti Desa Kelir ini,” kata Hary. Selain di Desa Kelir, pelatihan serupa juga digelar di dua tempat lainnya, yaitu Desa Bulusari, Kalipuro dan Desa Tamansari, Licin.

Ibu-ibu mendapat pelatihan membuat truntum, langsung oleh Amanto, pemilik usaha kerajinan bambu UD. Karya Nyata di Desa Gintangan, Rogojampi, Banyuwangi. Gintangan merupakan sentra kerajinan bambu di Banyuwangi.  Selama enam hari, mereka akan dilatih teknik menganyam hingga pewarnaan bambu.

Menurut Amanto, dengan mekanisme seperti ini menimbulkan simbiosis mutualisme. Masyarakat mendapat keuntungan dengan memperoleh keterampilan, dan uang hasil penjualan bahan baku anyaman bambu. Sedangkan dirinya bisa memenuhi permintaan pasar. 

Amanto mengakui, saat ini pihaknya membutuhkan banyak truntum. Ini karena permintaan produk anyaman bambu sangat besar, sehingga membuatnya kewalahan. Produk Amanto telah banyar tersebar ke berbagai pulau, Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, bahkan manca negara.

Amanto mengaku, dia memproduksi lebih dari 50 macam kerajinan anyaman bambu. Di antaranya kopyah, lampu hias, dan tudung saji. Selain di Jawa, pasarnya pun sudah merambah hingga Bali, Sumatera dan Kalimantan. Bahkan, sudah dua tahun ini dia telah mengekspor produk kerajinannya ke Saudi Arabia.

“Produk saya yang paling laris saat ini adalah kopyah. Tapi khusus ke Saudi, saya mengirimkan tempat kue sesuai pesanan,” ujar Amanto.

Untuk sekali kirim ke Saudi, lanjut dia, Amanto mengirim sebanyak 2.000 tempat kue (500 set) dengan harga Rp. 380 ribu per set nya. “Ini saya kirim setiap menjelang puasa. Alhamdulillah, hasilnya lumayan. Sekali kirim, saya bisa mengantongi Rp. 190 juta,” pungkas Amanto.

Ditambahkan Amanto, ke depannya dia siap menampung truntum yang diproduksi warga binaannya ini untuk memenuhi pesanannya yang berasal dari berbagai daerah, bahkan manca negara. “Berapa pun jumlahnya akan saya beli. Harganya sesuai kesepakatan, yaitu berkisar Rp. 10-12 ribu per lembar truntum,” kata dia.

"Karena itu, kerja sama dengan Disperindagtam seperti ini sangat bagus dan menguntungkan," kata Amanto. (humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :