Pedagang Tidak Setuju, Pembangunan Pasar Banyuwangi Dibatalkan
Kamis, 10 November 2016
BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi akhirnya memutuskan untuk membatalkan pembangunan pasar Banyuwangi. Hal itu disebabkan karena pedagang pasar yang semula menginginkan pasar dibangun, mendadak berbalik menolak pembangunan pasar yang direncanakan akan dimulai tahun 2017 mendatang.
Penolakan tersebut diungkapkan para 225 pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendapa Kabupaten, Rabu (9/11) malam.
Wakil Ketua Paguyuban, Asrun mengatakan, sebenarnya pihaknya mendukung rencana pembangunan pasar tersebut. “Kami sebenarnya mendukung pembangunan pasar ini. Tapi tidak sekarang, sebab kondisi perekonomian saat ini tidak stabil. Dagangan kami lesu. Takutnya kalau pembangunan dilakukan sekarang, kondisi ekonomi kami malah menurun,” ujar Asrun.
Asrun juga mempertanyakan apakah nantinya pembangunan pasar tersebut benar-benar memihak pedagang dan mampu menampung semua pedagang yang ada. “Kami sudah mengadakan pertemuan dengan seluruh anggota paguyuban. Semuanya sepakat pembangunan pasar ini ditunda dulu 1 sampai 2 tahun ke depan,” pinta Asrun, diamini rekan-rekannya.
Pemkab sebelumnya sudah menyiapkan anggaran APBD untuk membangun sisi utara pasar terlebih dahulu. Sementara sisi selatan pasar akan dibangun dengan dana APBN yang akan diturunkan kemudian.
Terkait rencana pembangunan pasar yang dilakukan dengan tidak serentak itu, diprotes pedagang lainnya, Kholiq. Dengan tegas Kholiq menyampaikan penolakannya. “Saya perwakilan pedagang pasar di sisi sebelah selatan. Baik pedagang di sisi utara maupun di sisi selatan ini kan sama-sama berjualan. Tidak seharusnya pembangunan hanya mendahulukan sisi utara dulu, sementara sisi selatan dibiarkan menyusul. Harusnya sama-sama dibangun. Atau kalau tidak mampu membangun sekarang, sekalian saja ditunggu sampai dua-duanya bisa dibangun secara bersamaan,”tukas Kholiq.
Sebab, imbuh Kholiq, pihaknya kuatir, pembeli nantinya akan lebih memilih belanja di sisi yang paling nyaman dulu, sehingga sisi yang belum terbangun menjadi sepi.
Anas terlihat serius menyimak dan memperhatikan masukan dan saran dari para pedagang tersebut. Mendengar sederet permintaan itu, Anas akhirnya setuju untuk membatalkan proses pembangunan pasar induk Banyuwangi. “Kalau memang Bapak Ibu tidak setuju pasar ini dibangun, ya sudah. Saya akan batalkan. Tapi jangan sampai ada omongan yang mengatakan bupati tidak peduli pada pembangunan pasar. Toh ini sudah saya tawarkan, tapi Bapak Ibu tidak berkenan,” tegas Anas.
Anas juga menanggapi curahan hati pedagang yang mengeluhkan sepinya pasar. Dia mengatakan, salah satu faktor penyebab pasar sepi adalah suasana pasar yang kurang nyaman. Selain itu kemunculan pasar-pasar lain diakuinya menjadi penyebab mengapa pembeli jarang berbelanja di pasar induk.
“Ini kan mekanisme pasar. Di masa sekarang, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus tumbuh. Sebenarnya ini justru bagus dan menjadi tantangan baru. Pilihannya hanya bagaimana menjadikan pasar menjadi nyaman. Caranya adalah memperbaiki pasar itu sendiri. Tapi karena banyak yang tidak setuju, ya sudah. Kita tidak jadi bangun,” cetusnya.
Sebenarnya proses relokasi pedagang sudah sampai pada tahap lelang dengan menyediakan anggaran relokasi sebesar Rp 2,4 miliar. Karena pedagang tidak setuju pasar dibangun, Anas mengatakan, proses lelangnya akan segera dihentikan. Penggunaan dana APBD pun diubah, yang tadinya diperuntukkan pada perbaikan pasar, kini beralih digunakan untuk perbaikan infrastruktur lainnya.
“Kami akan mengalihkan anggarannya untuk membangun puskesmas, pengadaan alat kesehatan, pembangunan infrastruktur jalan di kecamatan-kecamatan dan perbaikan drainase di jalan-jalan besar yang menyebabkan banjir,” ujar Anas.
Sedianya Pemkab Banyuwangi akan membangun sebuah pasar terpadu yang mengintegrasikan antara pasar, alun-alun kota (Taman Blambangan) dan Gedung Juang. Untuk pembangunan pasar ini disiapkan anggaran sebesar Rp 40 Miliar. Pasar tersebut punya desain unik dengan atap menyerupai ujung udeng (penutup kepala) khas Banyuwangi. Keunikan desainnya tak lepas dari tangan dingin arsitek kawakan Indonesia, Adi Purnomo.
Berdasarkan rencana awal, antara pasar utara dan pasar selatan dihubungkan dengan jembatan penyeberangan. Sementara untuk jumlah los yang bisa dipakai pedagang, di pasar utara terdiri atas 460 los dan pasar selatan 1072 los.
Bangunan yang didesain berlantai 3 tersebut awalnya direncanakan dengan 3 peruntukan yang berbeda. Di lantai dasar (basement) akan diperuntukkan bagi bahan-bahan yang bersifat basah. Misalnya sayuran, buah-buahan, jenis-jenis ikan laut, dan daging. Sedangkan untuk lantai II untuk barang-barang yang bersifat kering seperti sepatu, konveksi dan alat-alat dapur. Sementara lantai teratas yang berkonsep Ruang Terbuka Hijau (RTH) digunakan untuk areal parkir sekaligus ruang publik yang bisa digunakan untuk acara-acara tertentu di malam hari.
Saat pasar dibangun, pedagang akan direlokasi ke halaman dan areal sekitar Gedung Wanita. Untuk proses relokasi tersebut, pemkab menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,4 Miliar. Namun karena timbul ketidaksepakatan antara kedua belah pihak, pembangunan pasar ini urung dilakukan. (Humas)