Pelajar SMP Adu Kemampuan Bercerita Lewat Lomba Bercerita
Jumat, 29 April 2016
BANYUWANGI – Puluhan pelajar SMP berseragam sekolah beradu kemampuan bercerita dalam lomba bercerita yang diadakan Pemkab Banyuwangi, Kamis (28/4) di Aula Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi. Mereka tampak antusias menceritakan tentang tokoh-tokoh pejuang seperti Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Jenderal Sudirman, Bung Tomo, HOS Cokroaminoto kepada khalayak yang hadir.
Lomba bercerita yang merupakan agenda tahunan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi ini digelar dengan tujuan untuk menumbuhkan budaya baca, khususnya pada generasi muda. Menurut Kepala Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Banyuwangi Riyanti Ananta, di Banyuwangi minat baca sudah mulai tumbuh. Banyaknya generasi muda yang mempunyai minat baca yang baik, tutur Riyanti, terlihat dari laporan kunjungan ke perpustakaan setiap harinya yang cenderung meningkat. Begitu juga dengan peminat buku-buku bacaan lewat mobil perpustakaan keliling yang ditempatkan di titik-titik keramaian yang selalu ramai dikunjungi.
“Disini sudah mulai banyak anak-anak muda yang suka membaca. Nah, kesukaan mereka terhadap membaca inilah yang terus kita tumbuhkan sehingga menjadi budaya membaca. Karena itulah lomba ini digelar,” terang Riyanti.
Lewat lomba bercerita tentang tokoh-tokoh perjuangan ini ini, Riyanti berharap, anak-anak muda semakin terasah pengetahuannya, terutama pengetahuan tentang sejarah. “Dengan lomba ini, selain kita memberdayakan dan membina anak-anak muda ini, jiwa nasionalisme mereka juga tumbuh. Mereka jadi tahu tentang sejarah dan akan semakin menghargai perjuangan para tokoh ini,” ujar Riyanti.
Dalam lomba bercerita ini, peserta diberi kebebasan untuk berkreasi dan berimprovisasi. Mereka tak diharuskan membawakan ceritanya dengan bahasa Indonesia, tapi boleh juga dengan bahasa lainnya, seperti bahasa Osing. Mereka pun bebas membawa alat peraga untuk memperkuat karakter tokoh yang diceritakannya.
Salah satu peserta, Ahmad Dwi Virnanda (12), misalnya. Ahmad merupakan satu diantara puluhan peserta yang banyak mendapat applause meriah dari penonton. Pasalnya, gaya berceritanya berbeda dengan peserta lainnya. Dengan percaya diri, remaja berperawakan mungil ini menggunakan bahasa Osing saat menceritakan tokoh Kartini. Secara runtut, diceritakannya Kartini sejak kecil hingga upayanya membuat martabat wanita sejajar dengan laki-laki. Gerak tubuh (gesture) –nya yang lucu dan bahasa Osingnya yang kental saat bercerita, membuat penonton terpingkal-pingkal. Sesekali dia juga mengajak penonton berkomunikasi dengan melontarkan pertanyaan ringan seputar Kartini. " Hei dulur, riko mangkane ojo lali karo perjuangane Kartini yo (Hei, Saudara...makanya jangan sampai lupa dengan perjuangan Kartini ya..)," kata Ahmad yang duduk di bangku kelas 7 ini.
Ahmad yang juga pandai qiro'ah, hadrah dan gamelan ini mengaku, dirinya mempersiapkan diri selama 1 bulan untuk mengikuti lomba bercerita ini. "Saya belajar tentang tokoh Kartini dari buku tokoh-tokoh perjuangan yang ada di sekolah. Setelah itu saya resume dalam bahasa Indonesia, baru kemudian saya alihbahasakan ke dalam bahasa Osing dengan dibantu guru pembina saya," ujar Ahmad yang tahun 2014 lalu pernah menjadi Juara 2 lomba bercerita bahasa Osing yang diadakan suatu instansi di Banyuwangi.
Selain Ahmad, ada Aulia Kharisma (13) dari SMPN 1 Banyuwangi yang tampil tak kalah percaya diri. Aulia bahkan membawa alat bantu berupa tongkat untuk mendeskripsikan sosok Jenderal Sudirman itu. Usahanya ini juga mampu menarik perhatian penonton yang spontan sibuk mengabadikan maupun merekam aksi gadis ini lewat ponsel mereka.
"Kalau baca cerita Jenderal Sudirman itu kan sakit paru-paru dan selalu membawa tongkat kemana pun. Jadi agar lebih menjiwai, saya sengaja bawa tongkat ini," tandas Aulia yang sebelumnya sudah sering ikut lomba bercerita tapi dalam bahasa Inggris (story telling).
Aulia berharap, Pemkab Banyuwangi rutin menggelar kegiatan-kegiatan serupa agar anak-anak muda seperti dirinya lebih suka membaca dan bisa mengembangkan kemampuannya menelaah suatu cerita.
Lomba bercerita ini tak hanya menuntut peserta untuk sekedar bercerita. Tapi mereka juga diminta menjawab pertanyaan yang diajukan para juri terkait tokoh tersebut. Jawaban dari peserta merupakan bentuk pemahamannya terhadap tokoh yang ia ceritakan. Semakin sulit pertanyaannya, semakin banyak nilainya, karena hal itu terkait dengan penguasaan materi. Selain itu dinilai pula tentang penampilan dan teknik vokal peserta.
Dalam lomba yang diadakan sejak pagi hingga sore hari tersebut, akhirnya terpilihlah tiga orang pemenang. Juara I diraih oleh Sri Lestari, siswi SMPN 1 Glenmore. Sementara untuk Juara II dan III secara berturut-turut disabet oleh SMPN 1 Banyuwangi. Yakni Lidya Utari di peringkat kedua dan Aulia Kharisma di posisi ketiga.
Lomba bercerita untuk siswa SMP se Kabupaten Banyuwangi ini diikuti 37 peserta. Lomba ini akan berlanjut untuk tingkat SMA yang akan digelar pada 3 - 4 Mei mendatang. (Humas)