Pelaku Wisata TWA Ijen Dilatih Tiga Bahasa Asing

Rabu, 25 Mei 2016


BANYUWANGI – Pesatnya perkembangan pariwisata Banyuwangi, mendorong para pelaku wisata di Bumi Blambangan ini terus meningkatkan keahliannya. Kali ini para pelaku wisata di daerah penyangga Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen ini belajar sejumlah bahasa asing. Mereka langsung dilatih oleh ahli bahasa dari Unit Pelayanan Bahasa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali.

Bertempat di Ijen Resto, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Rabu (25/5), sebanyak 100 pelaku wisata berlatih bahasa asing serta cara berkomunikasi dengan wisatawan asing Mereka yang berasal dari Kecamatan Licin, Glagah, Giri dan Kalipuro ini terdiri dari beragam profesi. Ada yang guide lokal, penambang, pengelola homestay/villa, pelayan rumah makan, pedagang, buruh perkebunan, hingga sopir travel.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STP Nusa Dua Bali, Dr. I Ketut Surata mengatakan pariwisata tidak lepas dari pelayanan yang excellent. Salah satunya adalah  kemampuan berbahasa asing dan etika komunikasi dari para guide dan pelaku wisata lainnya.

“Kemampuan berbahasa asing ini penting, apalagi di kawasan Ijen yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Lewat pelatihan ini akan kami perkuat conversation dan greeting langsung dalam 3 bahasa. Yakni Bahasa Inggris, Jerman, dan Perancis. Mengingat wisman yang kesini didominasi berasal dari benua Eropa,” ujar Surata.

Surata mengatakan pelatihan ini akan berlangsung selama dua hari, Rabu – Kamis (25/26 Mei). Sebanayak 19 ahli bahasa dari Unit Pelayanan Bahasa STP Nusa Dua Bali akan langsung mengajarkan percakapan dan etika berkomunikasi kepada wisatawan. “Mereka akan langsung diajarkan 3 bahasa asing itu sekaligus. Karena rata-rata mereka sudah terbiasa berkomunikasi dengan tiga bahasa itu meski terbatas,” ujar dia.

Seperti yang terlihat siang itu para peserta terlihat belajar berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Dimulai dari bagaimana menyapa seseorang, memperkenalkan diri, mengeja nama, dan menunjukkan waktu.

Selain itu, mereka juga diedukasi etika berkomunikasi dengan turis asing. "Saat berkomunikasi pertama kali dengan wisman, kita tidak boleh melakukan beberapa hal. Seperti menyentuh bagian tubuh mereka dan menanyakan jumlah anak. Justru, kita diperbolehkan menggunakan tangan kiri saat melayani mereka, meskipun dalam budaya kita itu kurang baik,” ujar Ni Kade Juli Rastitiati, dosen Bahasa Inggris Unit Pelayanan Bahasa STP Nusa Dua Bali.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama antara Pemkab Banyuwangi dengan STP Nusa Dua Bali sebagai upaya meningkatkan SDM pelaku pariwisata.

"Pelatihan ini juga diikuti pemandu wisata yang sifatnya temporer. Harapan kami, dengan pelatihan semacam ini, akan makin banyak masyarakat di sekitar kawasan wisata yang bisa menjadi guide profesional. Dan yang paling penting, semua masyarakat di sini bisa berpromosi potensi wisata di sini kepada setiap tamu yang ditemui," kata Bramuda.

Sebelumnya, STP Nusa Dua Bali telah melatih pelaku wisata Banyuwangi pembuatan sarapan, mengolah makanan, hingga penyajian makanan ala Western pada bulan April lalu. Kerjasama antara Pemkab BAnyuwangi dan STP Nusa Dua Bali merupakan tindak lanjut dari komitmen Kementerian Pariwisata RI untuk mengembangkan dunia pariwisata Banyuwangi. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :