Pemkab Banyuwangi “Nanggap” Paju Gandrung Sewu
Jumat, 22 November 2013
Sebuah pertunjukan kolosal yang menampilkan ribuan Gandrung dan Pajunya di atas lautan pasir. Mereka secara serentak akan membawakan penggalan cerita perjalanan Gandrung di Bumi Blambangan.
Setelah akhir pekan kemarin Pantai Boom menjadi arena perhelatan musik jazz, Sabtu ini 23 November, sewu (Seribu) pasang Paju Gandrung akan menjadikan kembali pantai yang berada di pesisir Selat Bali itu sebagai venue. Sebanyak 1.053 pasang penari dengan kostum dominasi warna merah akan membawakan tarian Gandrung. Pertunjukan kolosal ini diikuti penari Gandrung dari usia 9 tahun hingga 71 tahun, dan akan dimulai pukul 14.30.
Paju Gandrung Sewu ini merupakan sebuah pertunjukan yang menceritakan cuplikan cerita Gandrung yang berkembang di masyarakat. Dijelaskan Koordinator Paju Gandrung Sewu, Budianto, bahwa pertunjukan Gandrung yang ada di masyarakat terdiri dari tiga segmen. Diawali dari Podo Nonton yang menampilkan tarian Jejer Gandrung, lalu Paju Gandrung, dan dituutup dengan Seblang Subuh. “Jejer Gandrung telah kita sewu-kan tahun lalu. Giliran tahun ini Pajunya. Rencananya tahun depan, Seblang Subuh,” jelas Budianto.
Selain rentetan dari sebuah perjalanan Gandrung, Paju Gandrung diambil karena pertunjukannya melibatkan interaksi dengan masyarakat, di mana Paju adalah para penonton pria yang ikut diajak menari. “Paju Gandrung sering di-tanggap saat masyarakat Using menggelar hajatan,” jelas Budianto.
Paju Gandrung sewu ini diawali pemasangan sebuah kiling. Kiling adalah kincir angin yang dipasang di sawah untuk mengusir burung. Terbuat dari bambu, yang tingginya bisa mencapai 4 hingga 10 meter. Setelahnya akan ditampilkan sebuah fragmen yang menceritakan perjalanan seorang Gandrung.
Fragmen ini dibawakan oleh puluhan gandrung dan paju profesional. Para Gandrung senior ini memulai fragmennya dengan memunculkan Seblang, lalu Gandrung Marsam (gandrung laki-laki, red). Pada awalnya, Gandrung adalah seorang laki-laki, lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi.
Dalam fragmen ini, digambarkan penari gandrung akan menari hingga tengah malam, disitu para paju akan maju dan menari sambil memberi saweran pada para penari. Kadang diselingi dengan suguhan minuman keras. Sehingga praktek ini membuat citra kesenian gandrung menjadi buruk.
“Terjadilah dialog bahwa praktek itu akan menghalangi perkembangan tari gandrung di masyarakat. Akhirnya merekapun bersepakat bahwa gandrung tetap harus tumbuh di masyarakat dengan citra yang positif. Nah muncullah ribuan penari gandrung,” jelas Budianto.
Kolosalitas inilah menunjukkan bahwa gandrung masih tumbuh subur di masyarakat. Saat menarikan Paju Gandrung mereka akan diiringi gamelan Tembang Waru dan Embat-embat.
Selain 2.106 penari, pagelaran ini akan melibatkan sedikitnya 161 personal. Terdiri dari 6 orang pemikul semi, 30 orang penari gandrung profesional, 30 orang pemaju profesional. Lalu ada 9 orang seblang dan 9 orang gandrung marsam serta satu orang pemeran gandrung semi termasuk 24 wiyogo dan 30 orang sinden.
. Sebelum dimulai fragmen, penonton akan dihibur Reni Farida dan Roji menyanyikan lagu-lagu khas Banyuwangi tanpa menggunakan alat musik, cukup dengan angklung.
Sehari sebelumnya, Jum’at (22/11) sore setelah gladi bersih dilakukan pelepasan tukik (anak penyu, red) dari pantai Boom, oleh para penari Gandrung, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) dan para tokoh agama di Banyuwangi. Tukik yang dilepas sebanyak 242, jumlah ini disesuaikan dengan angka HUT Banyuwangi tahun ini. (Humas Protokol)