Pemkab Banyuwangi Terus Lestarikan Motif Batik Khas Banyuwangi

Jumat, 25 September 2015


BANYUWANGI – Tak lama lagi Pemkab Banyuwangi akan menggelar Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2015. Event yang siap dihelat 10 Oktober mendatang tersebut merupakan salah satu upaya pemkab untuk terus melestarikan motif batik Banyuwangi.

Untuk menyambut event tersebut, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi menyelenggarakan lomba-lomba  pendukung untuk mensupport BBF. Mengingat  BBF   bertujuan untuk memperkenalkan batik asli Banyuwangi ke dunia luar, maka Disperindagtam juga membuat lomba yang terkait dengan batik. Yakni lomba Desain Motif Batik Khas Banyuwangi, lomba Model dan Desain Busana Batik Banyuwangi, serta lomba Mencanting Tingkat Sekolah Dasar. 

Lomba model  telah selesai dilakukan 11 September lalu dan desain busana batik Banyuwangi masih terus berlanjut hingga 4 Oktober. 160 besar yang terpilih berhak tampil dalam Fashion on the Pedestrian yang digelar 9 Oktober. Dan peserta  Fashion on the Pedestrian akan disaring 45 besar  untuk bisa tampil di BBF 2015. Sedangkan untuk lomba mencanting tingkat SD, pendaftaran masih akan ditutup pada 2 Oktober, sebelum akhirnya dilombakan pada 8 Oktober.

Kepala Disperindagtam, Hary Cahyo Purnomo mengatakan, setiap menjelang BBF, pihaknya memang selalu mengadakan lomba-lomba  tersebut. "Kami menggelar lomba - lomba itu bukan tanpa maksud. Lomba motif batik, misalnya. Tujuannya untuk menambah motif-motif baru yang nantinya akan memperkaya batik Banyuwangi yang sudah ada," kata Hary.

Motif batik Banyuwangi, terang Hary, bernuansa batik pesisiran. “Jenis batik itu ada dua. Pertama, batik kraton yang lazim kita temui di Solo atau Yogyakarta. Yang kedua adalah batik pesisiran, yakni karya batik yang dibuat orang-orang yang berasal dari luar kraton. Bentuk motifnya beragam, bisa menggambarkan flora fauna seperti  bambu, tukik dan sebagainya,” jelas Hary.

Lomba motif batik nyatanya mengundang ketertarikan sejumlah pihak. Sejak pendaftaran dibuka pada 18 Agustus hingga ditutup pada 17 September 2015, jumlah pendaftar mencapai 62 orang.  Dengan rincian, umum 22 orang dan pelajar/mahasiswa 40 orang. Masing-masing peserta pun punya narasi yang menceritakan filosofi dari motif batik yang dia buat.

Selanjutnya, kata Hary, para juri yang berkompeten di bidangnya akan mulai melakukan penilaian.  “Dari 62 orang tersebut, juri yang berasal dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, Paguyuban Batik Surabaya dan Dewan Kerajinan Banyuwangi akan mengambil 20 peserta terbaik yang kemudian akan diikutkan workshop. Usai workshop, peserta yang lolos 20 besar itu diminta untuk menuangkan hasil karya mereka ke dalam media kain. Kemudian juri akan mempersilahkan mereka untuk melanjutkan karyanya dengan mencanting sendiri atau menyerahkan pada IKM batik untuk membantu pencantingan hingga karya mereka selesai dituangkan ke kain mori,” tutur Hary.

Nantinya, saat penilaian akhir, juri akan menentukan juara 1,2,3 yang terbaik yang karyanya berhak untuk ditampilkan dalam BBF 2015.

Salah satu peserta lomba motif batik, Mahsun Kukuh Priyadi (38), terlihat bersemangat mengumpulkan hasil karyanya di Kantor Disperindagtam. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di Pasar Sobo tersebut mengatakan dirinya tidak pernah absen mengikuti lomba motif batik yang digelar Disperindagtam sejak BBF pertama.

“Awalnya saya mendengar dari radio kalau Disperindagtam menyelenggarakan lomba ini. Karena hobi saya corat-coret, saya memutuskan untuk ikut ambil bagian,” kata Mahsun.

Tahun 2015 ini, tema yang dibuatnya berbeda dengan tahun lalu. “Motif yang saya buat tahun ini bertemakan ‘Beteng Jebol’. Filosofinya, beteng atau dalam bahasa Indonesia –benteng- itu bangunannya kuat. Tapi kalau tidak dirawat dengan baik, bisa jebol juga suatu hari nanti,”terang Mahsun.

Mahsun menceritakan, saat BBF pertama dia sudah mencoba mengikuti lomba serupa, namun tidak mendapatkan juara. Saat itu dia mengangkat tema pengembangan dari ‘Gajah Oling’. Menjelang BBF kedua, Mahsun mendapatkan juara III atas karya batik yang dibuatnya, dengan tema pengembangan ‘Gajah Oling’, namun motifnya ia buat berbeda dari BBF I. Pada BBF III, Mahsun yang mengangkat tema ‘Kangkung Mekar Sewu’ yang merupakan pengembangan dari ‘Kangkung Setingkes’ memperoleh Juara II.

“Saya punya mimpi untuk mengembangkan motif  batik yang saya buat. Suatu saat saya ingin memasarkannya di toko yang saya punya atau bahkan membuat IKM yang memproduksi batik hasil karya saya sendiri,” ujarnya dengan percaya diri. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :