Pemkab Fasilitasi Hafidz Quran Kuliah di IAIN Jember
Rabu, 8 Juli 2015
BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi berikan jalur istimewa bagi para hafidz (penghafal) Al- Quran untuk bisa kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Kemudahan bagi para hafidz ini merupakan bagian dari Program Banyuwangi Cerdas yang telah dicanangkan pemkab sejak 2011 lalu. Peruntukannya diutamakan bagi para hafidz yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Seperti yang terlihat Rabu pagi (8/6) ini di Aula Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi. Para hafidz Quran tersebut tampak lebur diantara siswa miskin berprestasi lainnya yang tengah sibuk mengerjakan tes tulis yang menjadi persyaratan untuk memperoleh beasiswa masuk ke IAIN Jember.
Sekretaris Dispendik, Dwi Yanto mengatakan, para penghafal Al-Quran tersebut diberikan kuota khusus. “Mereka ini mendapatkan kuota khusus. Jadi yang mendaftar berapa pun kami terima. Asalkan saat dites hafalan Qurannya, mereka bisa membuktikan kemampuannya tersebut,” kata Dwi Yanto.
Saat Program Banyuwangi Cerdas (PBC) ini diumumkan di tiap sekolah, imbuh Dwi Yanto, ada 5 penghafal Quran yang merespon. Mereka dengan dukungan sekolahnya masing-masing langsung mendaftarkan diri kepada Dispendik. “Ada 1 orang yang hafal 30 juz. Menariknya, dia yang berasal dari Desa Jambewangi, Sempu ini merupakan lulusan program paket C. Kemudian yang hafal 10 juz, lulusan MAN Banyuwangi. Satu orang yang hafal 7 juz adalah perempuan, lulusan SMA Sunan Ampel – Bangorejo, sedangkan 2 orang yang hafal 5 juz merupakan lulusan MA Unggulan Mamba’ul Huda,” terang Dwi Yanto sembari menegaskan, kelimanya sudah dinyatakan lolos seleksi.
Dan tak hanya para penghafal Quran tersebut yang berkesempatan untuk melanjutkan kuliah di IAIN Jember. Kuota juga terbuka untuk 15 siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu. Namun mereka tidak serta merta bisa mendapatkan beasiswa tersebut, melainkan harus bersaing lewat tes yang diujikan.
“Kuota untuk jalur umum kami buka untuk 15 orang. Sementara pendaftar mencapai 71 orang. Ya, mau tidak mau mereka harus berkompetisi untuk memperoleh beasiswa ini,” tandas Dwi Yanto.
Jika para penghafal quran hanya dites hafalannya saja, berbeda dengan peserta jalur umum. Mereka harus menjalani serangkaian ujian seperti tes tulis yang meliputi pengetahuan umum dan dasar, pengetahuan agama serta potensi akademik. Selain itu juga tes baca tulis Al-Quran, praktek ibadah, menulis surat pendek, hafalan surat pendek serta wawancara. Hasilnya akan diumumkan pada 10 Juli mendatang.
Dwi Yanto berharap program ini akan memotivasi anak-anak yang saat ini tengah nyantri maupun sedang belajar menghafal Al-Quran. “Saya berharap ini bisa menyemangati mereka, bahwa bukan tidak mungkin mereka yang hanya lulusan pondokan dan mengikuti ujian Kejar Paket C, bisa bersekolah di perguruan tinggi,” ujar Dwi Yanto.
Sementara itu, Suyitno, perwakilan dari IAIN Jember yang turun langsung untuk menguji peserta ini pun menyatakan rasa bangganya atas kompetensi yang dimiliki para peserta tes asal Banyuwangi. “Mereka yang punya kemampuan luar biasa ini layak untuk difasilitasi. Apalagi beberapa diantaranya telah mampu menghafal Al-Quran,” puji Suyitno yang juga menjabat sebagai Pengelola Laboratorium Fakultas Dakwah IAIN Jember ini.
Suyitno dengan blak-blakan juga memberikan acungan jempol bagi Pemkab Banyuwangi yang telah menggagas PBC . “Ini sangat bagus dan kami harap terus berlanjut. Sebab selain mengakomodir siswa miskin berprestasi, khususnya bagi mereka yang hafal Al-Quran, program ini pun membuka jalan bagi mereka untuk lebih mendalami islam sekaligus mensyiarkan kepada khalayak luas,” ujarnya.
Salah seorang peserta tes, Mohammad Sofi menyatakan rasa senangnya bisa terjaring program ini. “Saya sangat berterimakasih kepada pemkab. Program ini benar-benar berguna bagi orang tidak mampu seperti saya agar bisa pandai dan membantu keluarga saya keluar dari kemiskinan,” kata Sofi. Lulusan MAN Banyuwangi ini berharap bisa menjalani kuliah sambil terus melanjutkan menghafal Al-Quran.
Sofi adalah satu diantara peserta tes yang hafal Al-Quran. Pemuda yang tinggal di Kelurahan Penataban dan pernah mondok di Pondok Pesantren Al- Anwari Banyuwangi ini mampu menghafal 10 juz. Sofi berkeinginan besar untuk memperbaiki hidupnya di kemudian hari dan membahagiakan ibunya yang hanya seorang buruh unting (pengikat) kangkung itu. (Humas & Protokol)