Pemkab Karanganyar Tertarik Cara Banyuwangi Kemas Ekonomi Lokal
Jumat, 27 Oktober 2017
BANYUWANGI – Tertarik dengan cara Banyuwangi mengemas ekonomi lokalnya, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah datang ke Banyuwangi untuk belajar, Rabu (25/10). Kepala Bidang Ekonomi BAPPEDA Karanganyar, Joko Wiyono membawa 50 pelaku usaha dan jasa pariwisata.
“Kami datang kemari karena sesuai tugas kami sebagai perencana ekonomi, kami ingin mengetahui langkah-langkah Banyuwangi dalam mengembangkan ekonomi wilayah sesuai potensi yang dimiliki,” ujar Joko.
Joko mengaku, pihaknya sebelum datang ke Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyempatkan diri berkunjung ke pusat oleh-oleh yang ada di Banyuwangi. Di sana, imbuh Joko, pihaknya mengaku terkesan dengan produk tradisional yang dikemas dengan apik sehingga berkesan mahal.
“Tadi saya lihat ada empon-empon (tanaman obat) yang diiris, dikeringkan dan dikemas dengan baik di pusat oleh-oleh yang kami kunjungi. Kemasannya cantik sekali. Ini membuat kami tergerak untuk belajar lebih jauh bagaimana menghubungkan wirausahawan dengan pusat oleh-oleh seperti ini,” kata Joko.
Di Karanganyar, imbuhnya, sistem pengembangan ekonomi lokal dibagi atas kluster-kluster. Di antaranya kluster pertanian dan kluster wisata ‘Mbangunmakuthoromo’. Mbangunmakuthoromo merupakan singkatan dari Matesih, Giri Bangun, Tawangmangu, Sukuh, Cetho, Sondokoro, dan Colomadu. Yaitu daerah-daerah yang menjadi destinasi wisata di Karanganyar.
Jailani, ketua kluster di Karanganyar membeberkan, dibentuknya kluster di Jateng adalah untuk mempercepat pembangunan ekonomi kerakyatan, SDM, SDA maupun konten lokal yang ada di masyarakat. Yang tergabung di dalamnya terdiri dari berbagai stakeholder seperti pemerintah, swasta, dan akademisi.
“Prinsip kluster adalah partisipasi aktif masyarakat, ada unsur pemberdayaan, ada jejaring usaha sehingga menimbulkan rantai nilai. Misal di tempat wisata ada yang menyiapkan souvenir, ada yang khusus berjualan kuliner, dan sebagainya. Inilah yang ingin kami pelajari dari Banyuwangi, termasuk menjajaki kemungkinan membangun channel bisnis di Banyuwangi,” kata Jailani.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Ekonomi BAPPEDA Banyuwangi, Muhammad Lukman Hadi mengatakan Banyuwangi punya 1 kluster, yakni Ijen Tourism Cluster. Yaitu beberapa wilayah yang disatukan untuk mengembangkan destinasi wisata yang ada, khususnya Ijen.
“Masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) saling mem-back up. Misal kita ingin menjadikan tempat-tempat sebagai areal wisata baru, seperti sungai contohnya. Maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan bekerjasama dengan Dinas Pengairan akan bekerjasama untuk mewujudkannya. Ego sektoral kami hilangkan,” beber Lukman.
Meski baru satu kluster, kata Lukman, pemkab getol untuk menjadikan semuanya bisa bersinergi dan terus tumbuh. Misalnya, adanya insentif bagi pengelola objek wisata. Insentifnya antara lain terkait festival di Banyuwangi. Pengelola objek wisata bisa menjual paket wisatanya dengan menyesuaikan dengan momen Banyuwangi Festival.
Ada pula insentif untuk investor, yakni dengan cara memudahkan perijinannya.
Masyarakat juga diberi kemudahan untuk membangun homestay. “Homestay itu tidak harus rumah baru. Rumah yang ada bisa disekat. Pemiliknya ditempatkan dimana dan penyewanya dimana. Kami terus mendorong pendukung wisata untuk terus tumbuh, yakni atraksi, aksesibilitas (jalan-jalan diperbaiki dan ketersediaan kendaraan) dan amenitas (hotel),” terang Lukman.
Selain itu, lanjutnya, ada pelatihan guide dan kursus bahasa asing berbasis desa untuk meningkatkan kapabilitas warga sekitar, sehingga mereka siap menerima tamu asing yang datang ke wilayah mereka. Kini juga didorong agar masing-masing desa punya branding sendiri, misal Desa Kopi, Desa Bambu, dan sebagainya.
Sementara untuk para wirausahawan, pemkab khusus menghubungkan mereka dengan pengusaha atau toko-toko besar. (*)