Pemkot Malang dan Denpasar Belajar SAKIP ke Banyuwangi

Sabtu, 21 Oktober 2017


BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi mendapatkan kunjungan dari dua daerah di Indonesia yang cukup kondang dengan potensi wisatanya, Jumat (20/10). Kedua daerah itu adalah Kota Malang dan Denpasar, Bali. Rombongan diterima Kepala BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo di Kantor Pemkab Banyuwangi.

“Kami ingin belajar dari Banyuwangi yang punya nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sempurna,” ujar Kepala BAPPEDA Kota Malang, Eryk Setyo Santoso. Selain SAKIP, Eryk mengaku pihaknya juga ingin melihat perkembangan Banyuwangi yang sangat signifikan.  

Sejak kedatangannya pada  Kamis (19/10) , rombongan Pemkota Malang  langsung keliling kota melihat bangunan penunjang sarana wisata yang luar biasa, investasi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di sektor pariwisata yang naik dengan pesat. “Kalau begini ini kami jadi yakin kalau SAKIP-nya Banyuwangi  tidak hanya di atas kertas atau di dunia maya saja, tapi memang benar-benar nyata adanya,” tandas Eryk yang membawa 30 anggota rombongannya.

Di luar itu, Eryk juga mempelajari pengembangan teknologi Informasi agar mampu mengimbangi pertumbuhannya yang sedemikian pesat di era e-government ini. “Kami ingin belajar dari Banyuwangi bagaimana mengintegrasikan TI dalam government . Kami ingin membangun mengubah budaya kerja di tempat kami. Selama ini kan kita sering terjebak budaya klasik. Nah Banyuwangi bisa seperti ini kan karena pasti membuka diri, punya budaya kerja yang kekinian. Ini yang ingin kami pelajari,” ujar Eryk.

Hal senada disampaikan Sekretaris BAPPEDA Kota Denpasar, I Putu Wisnu Wijaya Kusuma. Rombongan Pemkot Denpasar juga ingin belajar SAKIP serta mengetahui kiat Banyuwangi yang dinilai mampu mengubah mindset PNS-nya agar mau melakukan efisiensi dalam bekerja.

Sementara itu, Kepala BAPPEDA Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo menyambut baik kunjungan tersebut. “Kami meyakini, ilmu itu semakin diberikan semakin berkembang. Kami ini kampung yang jauh dari ibukota. Bupati mengambil  kebijakan untuk mengikutsertakan seluruh kepala dinas beserta istrinya dalam pelatihan (ESQ). Ini untuk menyamakan ritme agar istri bisa memahami dan men-support suami. Dan nampaknya ini berhasil. Kalau kita terlambat berangkat ke kantor, istrilah yang langsung mengingatkan terlebih dahulu,” beber Yayan, sapaan akrabnya.

Keberhasilan Banyuwangi atas penilaian  SAKIP yang dinyatakan terbaik, menurut Yayan, ada beberapa langkah yang dilakukan Banyuwangi dalam rangka implementasi SAKIP. Antara lain, komitmen pimpinan daerah dan pimpinan SKPD. Penguatan peran BAPPEDA dalam perencanaan, Inspektorat dalam evaluasi SAKIP dan Bagian Organisasi dalam pelaporan LAKIP. Dan Tim SAKIP Pemkab Banyuwangi selalu melakukan evaluasi terhadap kinerja SKPD dan intens berkonsultasi kepada Pemprov Jawa Timur dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi.

Yayan juga menjelaskan, Banyuwangi memilih pariwisata dan mengembangkan UMKM dalam mengembangkan daerah. “Daerah yang lain yang dekat ibukota punya beragam cara untuk memajukan daerahnya. Kami memilih pariwisata dan mengembangkan UMKM. Sebab dunia pariwisata ini tidak ada matinya, dan UMKM merupakan jembatan untuk mengembangkan roda perekonomian masyarat,” tandasnya.

Terkait TI, Yayan menceritakan bahwa Banyuwangi punya Dewan TI Daerah, dimana pengembangan TI didasarkan pada keinginan pengembangan user. “sistem ini murni kami bangun sendiri dan tidak melibatkan vendor manapun,” terangnya. (*)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :