Pemkot Malang Timba Ilmu di Banyuwangi
Jumat, 16 Oktober 2015
BANYUWANGI – Pembangunan di Banyuwangi yang semakin maju mengundang ketertarikan Pemerintah Kota Malang untuk berkunjung ke Banyuwangi, Kamis (15/10). Tidak tanggung-tanggung, Asisten II Kota Malang, Yudhi K. Ismawardhi membawa seluruh sekretaris SKPD-nya untuk sharing tentang berbagai hal dan kebijakan yang dibuat Pemkab Banyuwangi.
Diterima Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Wiyono, di Kantor Pemkab Banyuwangi, Yudhi mengatakan, tujuannya berkunjung ke Banyuwangi ini untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan jalannya pembangunan di Banyuwangi. “Ujung-ujungnya tentu saja bagaimana menjadikan pelayanan publik kita lebih baik,”kata Yudhi yang berharap apa yang didapat lewat kunjungan ini bisa diaplikasikan di Kota Malang.
Selain kepegawaian dan perencanaan, sektor pariwisata menjadi topik yang hangat dalam pertemuan tersebut. Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Lusi, mengaku terkejut dengan perkembangan kota Banyuwangi yang sedemikian pesat. “Seperti simsalabim, Banyuwangi tempo dulu yang terlihat terbelakang, memalukan dan memilukan, sekarang jadi pesona yang menarik,” pujinya.
Lusi lantas menanyakan strategi pengembangan pariwisata yang bagaimana yang diterapkan Banyuwangi sehingga bisa seperti sekarang ini. Termasuk kemudahan-kemudahan apa yang ditawarkan pada investor sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di Banyuwangi.
Keingintahuan Lusi tersebut dijawab langsung oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Banyuwangi, Husnul Chotimah. Husnul yang juga menjadi anggota tim perizinan di Banyuwangi menjelaskan, Banyuwangi punya kiat khusus untuk menarik investor. “Kami punya konsep seperti Rumah Makan Padang. Silahkan datang, kami akan layani semaksimal mungkin. Mulai dari mempresentasikan tempat-tempat mana saja di Banyuwangi yang berpotensi untuk dijadikan areal bisnis, mengantarkan para investor untuk survei, hingga menyiapkan akomodasinya,” beber Husnul.
Plt Kepala Disbudpar Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda menambahkan terkait strategi pengembangan wisata Banyuwangi. “Kuncinya yang pertama adalah IT. Kita mengkoneksikan 24 kecamatan dan 189 desa di Banyuwangi secara online. Kedua, SKPD-nya harus bersatu. Saat rapat besar yang dipimpin bupati, program-program tiap SKPD dibahas detail, sehingga semuanya sama-sama tahu,” kata Bram.
Yang ketiga, lanjut Bram, anggaran Dokumen Pelaksanaan Anggaran ( DPA) SKPD saling menunjang program SKPD lain. Misalnya, event Banyuwangi Festival (B-Fest) 2015, ditanggung bersama oleh SKPD terkait.
Bram mencontohkan, saat event Banyuwangi Batik Festival digelar, semua SKPD langsung bergerak bersama. Konsep acara dirancang Disbudpar. Sound system, tenda disiapkan Bagian Umum. Bagian Perlengkapan menyiapkan barrier untuk acara. Humas khusus mempublikasikan event tersebut lewat baliho dan media. Protokol menyiapkan hotel, tamu dan makanan minuman. Dinas Kebersihan & Pertamanan (DKP) langsung menyiapkan bunga, karpet, toilet portable. Dinas Kesehatan bersiaga dengan tim medisnya. Sementara Dinas Koperasi bekerjasama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan menyiapkan tenda dan stand untuk pameran UMKM.
“Diselenggarakannya berbagai event menjadi inspirasi untuk menggandeng semua sektor. Termasuk penggunaan IT untuk percepatan dan memangkas birokrasi yang berbelit-belit,” tandas Bram.
Penjelasan tersebut mengundang kekaguman atas terobosan yang dibuat Pemkab Banyuwangi. “Banyuwangi kompak ya. Kami harus belajar untuk menerapkannya di tempat kami. Termasuk bagaimana cara mempersolid kerja tim lewat penyelenggaraan berbagai event yang kepanitiaannya dikerjakan secara bersama,” ujar Sekretaris Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kota Malang, Siti Mahmudah. (Humas & Protokol)