Pemkot Tegal Belajar Pelayanan Publik, Tata Kota dan Penataan PKL ke Banyuwangi
Jumat, 16 Desember 2016
BANYUWANGI – Pemerintah Kota Tegal belajar pelayanan publik, tata kota dan penataan pedagang kaki lima (PKL) ke Banyuwangi. Selama dua hari, mulai Kamis (15/12) hingga Jumat (16/12), rombongan mengunjungi beberapa SKPD sekaligus mendatangi destinasi wisata pantai Banyuwangi dan beberapa Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di tengah kota Banyuwangi.
Jumat pagi, para tamu dari Pemkot Tegal tersebut diterima Asisten Administrasi Pemerintahan, Choiril Ustadi Yudawanto di Lounge Pelayanan Publik Kantor Pemkab Banyuwangi. Rombongan dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tegal, Dyah Kemala Sintha. Di depan para tamu, Ustadi menceritakan berbagai capaian program Pemkab Banyuwangi. Termasuk upaya pemkab menggunakan teknologi informasi (TI) dalam melakukan pelayanan publik. Sehingga layanannya berjalan lebih efektif dan efisien.
Menurut Ustadi, publik saat ini menuntut penyelenggara negara bisa merespon dan melayani masyarakat dengan cepat. "TI ini adalah jawabannya. Pelayanan kepada warga akan sangat mudah dan cepat dilakukan," kata Ustadi.
Ustadi mencontohkan program Smart Kampung yang digagas pemkab. Lewat Smart Kampung, imbuh dia, aparatur desa yang awalnya buta IT, sekarang menjadi mahir. Aparat desa dilatih mengoperasikan IT demi mempermudah pelayanan pada masyarakat.
"Bahkan jam layanan dibuka hingga malam hari. Di tempat itu masyarakat juga bebas memanfaatkan jaringan wifi yang tersedia untuk belajar. Inilah cara kami membuka mindset mereka,” kata Ustadi.
Ustadi juga mengungkapkan, dengan smart kampung, pemkab otomatis melakukan setidaknya tiga hal. Melipat jarak dan waktu pengurusan, menghidupkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai salah satu roda penggerak ekonomi, dan ketiga, membuat masyarakat mahir TI. "Lewat itu, kami yakin permasalahan di desa akan mudah terurai,” tutur Ustadi.
Sambil menikmati jajanan dan minuman khas Banyuwangi yang memang disediakan di lounge, rombongan Pemkot Tegal juga sempat menjajal mengakses berbagai informasi yang ada lewat LCD touchscreen yang berjajar. Mereka secara bergantian membuka website Pemkab Banyuwangi, capaian program pemkab, agenda Banyuwangi Festival, sampai tayangan CCTV yang ada di unit-unit pelayanan publik di berbagai kantor dinas dan fasilitas umum.
Sekda Kota Tegal, Dyah Kemala Sintha menyatakan rasa senangnya bisa mengunjungi Banyuwangi. Dyah datang bersama Asisten, para kepala dinas dan 24 lurah. Total berjumlah 40 orang. “Banyak hal yang ingin kami adopsi dari Banyuwangi. Sejak awal kedatangan kemari, kami menjelajahi Pantai Watu Dodol, Pantai Boom, Taman Sri Tanjung, Taman Blambangan dan Stadion Diponegoro. Semuanya bagus, bersih dan tertata,” puji Dyah.
Apalagi, lanjutnya, saat dilihatnya tak tampak PKL yang berjualan di sembarang tempat. “Kami penasaran, kok bisa ya para PKL itu terlokalisir di satu tempat. Jadi Banyuwangi terlihat bersih,” ujarnya.
Selain itu, imbuh Dyah, pihaknya juga terkesan dengan pelayanan publik yang seluruhnya sudah terkoneksi dengan teknologi informasi (TI). “Kami tadi banyak mendapat penjelasan tentang bagaimana pelayanan publik disini berjalan. Semuanya terkoneksi dengan TI. Juga piranti TI di lounge ini yang bisa memantau pelayanan publik di beberapa tempat anytime. Kalau kabupaten/kota lain ingin studi banding ke Banyuwangi, kami ingin studi tiru,”selorohnya.
Puas melihat-lihat dan mengakses layar touchscreen, rombongan langsung menuju ke Pameran Public Service yang ada di dalam areal Pemkab Banyuwangi. Ajang tersebut memamerkan program-program Pemkab Banyuwangi yang direplikasi nasional. Seperti Smart Kampung, Lahir Procot Pulang Bawa Akta, Siswa Asuh Sebaya (SAS), Transparansi Pengelolaan Anggaran Keuangan Daerah, Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP), e-village budgeting dan e - monitoring.
Kesempatan itu tak mereka sia-siakan. Para lurah langsung menyerbu tiap-tiap desk yang memamerkan layanan publik unggulan Pemkab Banyuwangi. Satu diantara para lurah yang terlihat aktif bertanya pada masing-masing petugas frontliner adalah Edi Suprayitno. Pria yang merupakan Lurah Desa Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur ini mengaku banyak hal yang ingin diaplikasikannya di daerahnya. “Banyak urusan terkait pemerintahan desa disini yang ingin saya aplikasikan di wilayah saya,” katanya.
Selama ini, tutur Edi, kalau ada warga yang mengurus surat-surat, mereka selalu mintanya cepat selesai. Padahal dokumen yang dibawa kurang lengkap. “Tadi saya bertanya pada petugas disini, bagaimana cara agar pelayanan berlangsung cepat. Seperti pada pengurusan akte kelahiran yang begitu bayi lahir langsung bisa dibawa pulang. Ternyata jauh-jauh hari, saat si ibu masih mengandung jabang bayi usia 7 bulan, nama sudah disiapkan. Dokumen yang dibutuhkan pun juga sudah siap. Ini yang akan kami adopsi,” pungkas Edi. (Humas)