Pendapa Kabupaten Banyuwangi Jadi Tempat Favorit untuk Berfoto Para Peserta Konferensi Indonesia Berkebun
Minggu, 7 Agustus 2016
Setiap melewati satu spot menarik, mereka yang terlihat akrab satu sama lain meski berasal dari daerah yang berbeda, langsung berfoto di tempat itu. Sejumlah titik disasar. Seperti areal bagian depan pendapa, guests house, dan halaman belakang, termasuk rumah Osingnya. Mereka pun tak melewatkan kesempatan untuk berfoto beramai-ramai bersama bupati.
Salah satu peserta, Lia Yuliandari asal Purwakarta mengaku senang bisa datang ke pendapa kebanggaan masyarakat Banyuwangi ini. “Keren ya pendapanya. Hijau, asri, nyaman. Halaman belakangnya cocok nih buat pesta kebun. Saya betah berlama-lama disini,” kata guru SD Plus II Al-Muhajirin Purwakarta itu sambil berulangkali menjepretkan kameranya ke berbagai sudut di pendapa. Sesekali Lia juga ber-selfie ria bersama sesama peserta lainnya.
Peserta lainnya yang merupakan bule satu-satunya, Joshua Parfitt juga tidak ketinggalan. Walau pun tak tampak membawa smartphone atau kamera, Parfitt malah banyak diminta berfoto bersama rekan-rekannya yang lain. “Banyak tempat bagus di dalam sini (pendapa, Red). Saya sama sekali nggak menyangka, kota kecil ini menyimpan banyak keindahan dan potensi,” ujar WNA asal Inggris yang kini tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, jurusan Bahasa Indonesia ini. Parfitt datang bersama 13 rekannya yang tergabung dalam komunitas Jogja Berkebun.
Para peserta Konferensi Indonesia Berkebun ini dijamu secara khusus oleh Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Ragam kuliner khas Banyuwangi dihidangkan agar mereka lebih mengenal Banyuwangi, mulai dari pindang koyong, nasi tempong hingga ikan bakar.
Kehadiran komunitas yang peduli lingkungan tersebut mendapat apresiasi dari bupati. Selain menceritakan progress perkembangan Banyuwangi dan program-program pemkab di hadapan peserta, Anas mengaku dirinya salut dengan ide yang digagas komunitas Indonesia Berkebun ini. “Apa yang dilakukan oleh Indonesia Berkebun adalah bentuk kepedulian terhadap penghijauan. Dan ini semakin menarik karena para pelakunya justru mengembangkan kesadaran terhadap lingkungan ini lewat media sosial sehingga terbentuk jejaring yang merangkul 25 kabupaten/kota se-Indonesia. Semoga komunitas ini terus hidup dan menginspirasi kita semua,” tandas Anas.
Konferensi Indonesia Berkebun yang digelar di Banyuwangi ini merupakan konferensi keempat yang diselenggarakan komunitas yang berdiri sejak 2010 itu. Kegiatan ini menjadi ajang bagi para delegasi masing-masing kabupaten/kota untuk membahas isu-isu global terkait lingkungan, menyamakan persepsi antara satu kabupaten/kota dengan lainnya, termasuk akademisi yang tergabung di komunitas Indonesia Berkebun. Mereka juga membahas program dan strategi bagaimana menularkan semangat kepada publik untuk menciptakan lahan hijau di lahan perkotaan yang terbatas, serta mencari solusi atas kendala-kendala yang dihadapi.
Usai menghadiri makan malam bersama bupati, peserta langsung meluncur ke destinasi andalan Banyuwangi, Kawah Ijen untuk menikmati keindahan blue fire sekaligus sunrise di puncak Ijen. Setelah puas menjelajah Ijen, peserta juga akan diajak menikmati kekayaan seni budaya Banyuwangi di Desa Adat Kemiren. (Humas)