Pengusaha Banyuwangi Berkesempatan Masuk Pasar Cina
Sabtu, 8 Maret 2014
BANYUWANGI – Para pelaku usaha di Banyuwangi kini memiliki kesempatan besar untuk memasarkan produk-produknya ke negara Cina. Caranya melalui program exchange centre yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Senior Advisor Jawa Timur yang menangani exchange center di Tianjin, Cina, Jasper Ho hadir secara langsung di Banyuwangi untuk mensosialisasikan program tersebut di hadapan puluhan pengusaha di Pendopo Shaba Swagata, Jumat (7/3).
Jasper Ho mengatakan program kerjasama antara Tianjin, Cina dan Jawa Timur telah ada sejak tahun 2003 kemudian diperkuat dengan penandatanganan MoU yang antara lain berisi pengembangan exchange centre pada 2012. Dirinya menjadi wakil Jawa Timur mengurusi promosi perdagangan dan investasi Jawa Timur di Tianjin. “Gubernur Jawa Timur menggunakan exchange centre untuk mempromosikan barang-barang Jawa Timur di Cina,” kata Jasper.
Hubungan perdagangan Cina dan Indonesia, lanjut Jasper saat ini masih dalam tahap pengembangan. Jadi kesempatan untuk meningkatkan kerjasama itu masih sangat besar. Apalagi saat ini kebijakan ekonomi di Cina mulai bergeser yang sebelumnya berorientasi ekspor menjadi impor. Alasannya antara lain semakin menipisnya sumber daya alam di Cina sebagai bahan baku industri dan menguatnya nilai mata uang Cina di dunia. “Jadi lebih menguntungkan jika Cina melakukan impor dari pada ekspor,” terang Jasper. Bahkan Cina juga memiliki kebijakan tidak memungut pajak ekspor impor dengan negara-negara ASEAN.
Dengan kedatangannya ke Banyuwangi, dia berharap dapat memperoleh produk-produk pelaku usaha lokal yang potensial dan dapat dipasarkan di Tianjin. Saat ini barang-barang Jawa Timur sudah banyak yang dipasarkan di Cina. “Ini adalah saat yang tepat bagi produk Banyuwangi mulai masuk ke Cina,” ujar Jasper.
Perwakilan Biro Administrasi Kerjasama Setda Provinsi Jawa Timur Cipto Wibowo mengatakan alasan Provinsi Jawa Timur melakukan program exchange centre dengan kota Tianjin di Cina antara lain karena Tianjin merupakan pusat ekonomi terbesar di Cina Timur. Selain itu kota Tianjin dikelilingi 12 provinsi dengan jumlah total penduduk mencapai 600 juta jiwa. Pendapatan perkapita pertahun warga Tianjin mencapai Rp. 150 juta. “Ini adalah market yang sangat potensial untuk memasarkan produk-produk di Jawa Timur,” kata Cipto.
Selama ini produk-produk dari pelaku usaha di Jawa Timur dikirim ke Tianjin melalui kontainer dengan jalur laut. Pemprov tidak memungut biaya untuk setiap barang yang diikutkan dalam pengiriman ini. “Namun ongkos pengiriman dari Banyuwangi ke Surabaya serta packing ditanggung pengusaha dengan cara menambahkannya kedalam harga produk yang akan dibeli konsumen,” kata Cipto.
Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas menyambut baik program exchange centre yang berikan oleh Pemprov Jatim tersebut. Menurut Bupati, sudah saatnya pengusaha Banyuwangi masuk ke pasar yang lebih luas. “Sudah saatnya kita expand. Ini sebagai permulaan kita menjelang berlakunya perdagangan bebas AFTA di 2015,” tutur Bupati. Bupati juga berpesan agar program yang dilakukan ini konkret dan terukur. ( Humas & Protokol)