Perkembangan Ekonominya Dinilai Bagus, OJK Ajak Warga Banyuwangi Berbisnis di Pasar Modal

Sabtu, 23 April 2016


BANYUWANGI – Perkembangan ekonomi Banyuwangi yang pesat, menjadikan Otoritas Jasa Keungan (OJK) Republik Indonesia menggelar seminar investasi lewat reksadana pasar modal. Lewat seminar ini, OJK mengajak warga Banyuwangi menginvestasikan dananya dengan cara baru.

Seminar tersebut menghadirkan nara sumber pelaku ekonomi nasional, seperti Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA)Jahja Setiaatmadja, dan Deputi Direktur Perijinan Pengelolaan Investasi I Imade B Tirthayatra. Seminar sehari tesebut digelar Jumat (22/4) di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi.

Menurut  Jahja melihat kemajuan ekonomi Banyuwangi beberapa tahun terakhir ini maka sudah saatnya warga Banyuwangi mulai dikenalkan dengan cara investasi baru. Yakni investasi lewat pasar modal.

“Saya melihat daerah Banyuwangi adalah daerah yang berkembang pesat. Dilihat  dari income perkapita penduduk, dan kemajuan ekonominya. Saya kira ini saat yang tepat untuk dikenalkan variasi investasi yang baru kepada masyarakat sini, yakni bisa reksa dana atau pasar modal.  Sebuah investasi yang tidak harus mengeluarkan biaya yang gede, namun potensinya besar sekali,” ujar Jahja.  

Ditambahkan Jahja, seminar ini didakan untuk memberikan semacam pengertian dan pemahaman cara berinvestasi dengan cara baru, yang tidak konvensional. Cara investasinya bisa lewat saham, obligasi, ataupun reksa dana.  Namun ini memberikan sisi lain bagaimana masyarakat berinvestasi dengan cara lain, walau dananya tidak harus besar.

Selain itu, Jahja menilai secara umum Banyuwangi ini bisa dikategorikan sebagai percontohan  daerah dimana perkembangan ekonomi, dan makromya dinilai kinerjanya bagus. “Ini contoh bagi semua daerah bagaimana Banyuwangi bisa mengurangi tingkat kemiskinan, GDP growth-nya juga fenomenal. Saya pikir ini luar biasa. Potensi di sini besar tinggal bagaimana lagi melengkapi infrastrukturnya agar bisa lebih berkembang,” ujar Jahja.

Sekedar diketahui, angka kemiskinan di Banyuwangi yang sudah menurun hingga 9,29 persen. Indeks ketimpangan juga sudah turun dari 0,33 menjadi 0,29. 

Data terbaru, pendapatan per kapita Banyuwangi sudah naik 80 persen dari RP 20,8 juta per orang per tahun pada 2010 menjadi Rp 37,53 juta per tahun pada 2015. Pendapatan per kapita Banyuwangi berhasil melampaui sejumlah kabupaten/kota di Jatim yang sebelumnya selalu di atas Banyuwangi. Pendapatan Domestik Regional Bruto juga meningkat, dari yang 2010 Rp 32,4 triliun, pada 2015 meningkat tajam menjadi Rp Rp 60 triliun.

Sementara itu, Deputi Direktur Perijinan Pengelolaan Investasi Made senada dengan Jahja juga mengutarakan bahwa potensi pelaku ekonomi di Banyuwangi sangat tinggi sehingga pihak OJK merasa perlu menggelar seminar bertajuk “Ayo Berinvetasi di Reksadana dan Pasar Modal” di Banyuwangi. Tujuannya,  lanjut dia,  agar semakin banyak masyarakat yang melek dan paham cara dan berbagai keuntungan bertransaksi  lewat pasar modal, dan bersedia berinvestasi di sana.

“Investasi lewat reksa dana dan pasar modal ini banyak manfaatnya. Pertama, karena potensi return-nya tinggi, keuntungan pendapatannya berpotensi besar. Selain itu, semakin banyak masyarakat yang berinvetasi di pasar modal, maka dana yang tersedia untuk membiayai pembangunan juga semakin tinggi. Untuk itu kami menggelar seminar ini,” ujar Made.

Selain itu, lanjut Made, seminar ini juga memberikan pemahaman kepada masyarakat apa itu investasi bodong. Made mengimbau agar masyarakat  tidk mudah tergiur atas tawaran investasi yang besar, namun di belakang hari ternyata bodong. 

“Kalau mau bertransaksi lewat reksa dana, cari dan cek listnya di website OJK. Semua ada di sana. Kalau tidak ada di sana, bisa dipastikan bodong, karena tidak dalam pengawasan otoritas keuangan di Indonesia,” ujar Made.

Seminar ini ditutup dengan menyaksikan konser rock yang bertajuk “Busra Rock” dengan menghadirkna rocker kenamaan Indonesia, Ahmad Albar dan Dony Fatah. (humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :