Pertumbuhan Ekonomi Kreatif di Banyuwangi Pesat
Rabu, 12 Oktober 2016
Banyuwangi - Sektor-sektor ekonomi kreatif tumbuh pesat di Banyuwangi. Misalnya besaran ekonomi sektor kuliner, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tumbuh 70 persen dari Rp 475,76 miliar (2010) menjadi Rp 811,7 miliar (2014). Industri furnitur tumbuh hampir 60 persen dari Rp 193 miliar menjadi Rp 304,1 miliar. Industri kayu, barang anyaman bambu, rotan dan sejenisnya tumbuh hampir 50 persen dari Rp 634 miliar menjadi Rp 941 miliar. Industri pakaian (fashion) tumbuh 53 persen dari Rp 60 miliar menjadi Rp 92 miliar. Adapun sektor jasa lainnya yang di dalamnya ada subsektor kesenian, hiburan, dan rekrasi tumbuh dari Rp 403 miliar menjadi Rp 564 miliar.
Berdasarkan data BPS, sektor-sektor ekonomi kreatif di Banyuwangi telah menyumbang 5,15 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Namun, Anas menjelaskan, tidak semua subsektor ekonomi kreatif terwakili dalam perhitungan BPS.
Bekraf merumuskan ada 16 subsektor kreatif, yaitu fashion, kriya (kerajinan), arsitektur, aplikasi-pengembangan game, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, film, seni pertunjukan, seni rupa, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, televisi, dan radio.
<p dir="ltr" rgb(34,="" 34,="" 34);="" font-family:="" arial,="" sans-serif;="" font-size:="" 12.8px;="" line-height:="" normal;"="">Dari 16 subsektor tersebut, Banyuwangi memilih fokus untuk tujuh subsektor saja, yaitu fashion, kriya (kerajinan), seni rupa, seni pertunjukan, kuliner, musik, dan desain komunikasi visual. Pilihan terhadap tujuh subsektor tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan Banyuwangi dan subsektor yang paling berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. "Kita punya potensi besar pada tujuh subsektor tersebut. Khusus desain komunikasi visual, itu untuk menunjang semuanya. Produk bagus tapi kalau komunikasi visualnya tak bermutu, produknya tak akan laku di pasar," pungkas Anas. (Humas)