Peserta Diklatpim Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan Benchmarking di Banyuwangi

Kamis, 6 April 2017


Peserta Diklatpim Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan Benchmarking di Banyuwangi

BANYUWANGI - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menerima kunjungan tamu  untuk melakukan studi, mulai dari manajemen pemerintahan hingga bidang pariwisata, Kamis (6/3).

Kali ini, ada 40 rombongan yang merupakan peserta pendidikan dan pelatihan (diklatpim) esselon IV, Pemerintah Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan. Rombongan diterima Asisten Administrasi Pemerintahan Pemkab Banyuwangi, Choiril Ustadi Yudawanto  di Aula Minakjinggo Pemkab Banyuwangi.

“Kami banyak mendapatkan rekomendasi dari rekan-rekan di pemerintah pusat maupun daerah lain untuk datang ke Banyuwangi. Karena kabupaten ini dinalai yang paling maju dalam penerapan sistem pelayanan publik berbasis online dan e-Gov,” kata Kepala Dinas Badan Kepegawaian dan Sumberdaya Manusia (BKSDM) Kabupaten Wajo, Amiruddin.

Amiruddin mengatakan, pihaknya begitu terkesan dengan penerapan teknilogi informasi dan komunikasi (TIK) yang telah diterapkan oleh Banyuwangi dalam berbagai layanan pemerintahan.  Mulai dari aplikasi e-SAKIP, e-village budgeting, SPM Online, e-tax monitoring, perizinan online dan yang lainnya. Ke depan Amiruddin ingin bisa segera melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemkab Banyuwangi.

 “Kami akan egera melaporkan kepada Bupati kami mengenai berbagai program yang bisa diadopsi oleh Kabupaten Wajo. Selanjutnya kami juga akan melakukan  MoU  untuk bisa mengadopsi aplikasi tersebut,” kata Amiruddin.

Sementara itu dalam sambutannya Asisten Administrasi  Pemerintahan, Choiril Ustadi memaparkan  bagaimana Bupati Abdullah Azwar Anas mendorong kinerja birokrasi untuk mau maju dan berinovasi. Kinerja pemerintahan dan pelayanan prima pada masyarakat terus ditingkatkan, salah satunya lewat pelayanan publik berbasis online.

“Tingkat kepuasan dan kepercayaan masyarakat  kepada pemerintah ini sangat penting. Karena itu kami memilih memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan transparan. Salah satunya lewat penerapan aplikasi e-gov, dimana semuanya berbasis online,” tuturnya sembari mempersilahkan para tamu menimba ilmu dari Banyuwangi seluas-luasnya.

Bersamaan dengan itu, Banyuwangi juga berupaya merubah image daerah dari yang dulunya masih tertinggal dari daerah lain hingga menjadi seperti sekarang. Mulai dari membranding daerah, hingga menyusun semangat kerja bersama untuk mengenalkan Banyuwangi ke dunia luar.

"Bagi kami, pariwisata menjadi payung semua kegiatan. Branding daerah diperkuat dengan tagline yang menunjukkan kekuatan dan ciri khas Banyuwangi, yakni the Sunrise of Java. Sunrise of Java dimaknai sebagai wilayah yang pertama kali melihat  matahari terbit  di Pulau Jawa. Itu sebagai spirit untuk meningkatkan kinerja," jelas pria yang akrab disapa Ustadi ini.

SementaraUntuk diketahui, berkat berbagai terobosan yang dibuat, Banyuwangi menuai berbagai penghargaan. Hal itulah yang kemudian membuat banyak kabupaten/kota di Indonesia tertarik untuk menjadikan Banyuwangi sebagai benchmark. Tercatat pada tahun lalu saja, sepanjang Januari hingga awal November 2016, sudah ada 345 lembaga maupun instansi dari luar kota yang datang untuk studi banding ke Banyuwangi. Sementara total rombongannya berjumlah 24.150 orang, dengan rata-rata tiap rombongan mencapai 70 orang. (Humas)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :