Peserta Kursus Bahasa Asing Berbasis Desa Ikuti Uji Kompetensi Nasional

Senin, 9 November 2015


BANYUWANGI – Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar Uji Kompetensi Nasional (UKN) Bahasa Inggris bagi peserta kursus bahasa asing berbasis desa di SMK Negeri I Banyuwangi, Minggu kemarin (8/11).

UKN  ini merupakan rangkaian akhir dari kursus bahasa asing berbasis desa, setelah sebelumnya 19 Oktober 2015 lalu  mereka juga mengikuti  ujian di tingkat kabupaten yang diselenggarakan di GOR Tawangalun. Dengan mengikuti UKN ini, para peserta kursus bahasa asing berbasis desa tersebut akan  tersertifikasi dan bisa menggunakan kemampuannya untuk berkiprah di bidang yang sesuai minat dan bakatnya.

Kasi Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dispendik, Sunari mengatakan, peserta UKN ini adalah 321 peserta terbaik dari uji kompetensi yang diadakan 19 Oktober lalu. “ Pada ujian kali ini mereka harus mengerjakan materi ujian seperti Writing, Reading, Listening dan Speaking. Jadi materi yang diujikan lebih kompleks dari ujian di tingkat kabupaten,” tutur Sunari.

Ke depan Dispendik berkomitmen untuk melanjutkan program pelatihan bahasa asing ini. Bahkan agar kemampuan peserta tidak berhenti hanya sampai disini, Dispendik juga akan mendorong berdirinya kampung-kampung Bahasa Inggris, utamanya di desa-desa yang memiliki wisata unggulan.

Ketua LSK Bahasa Inggris Kemendikbud, Lusi Reni Intan yang bertanggung jawab mengawasi penuh pelaksanaan ujian tersebut menerangkan, dari seluruh peserta yang mengikuti ujian, 80 persen diantaranya dinilainya sudah menguasai bahasa Inggris dengan baik. Indikatornya, kata Lusi, dari 16 peserta yang ia tes, 12 orang sudah mahir berkomunikasi dengan lancar.

Lusi berharap, peserta yang sudah tersertifikasi, ke depan lebih memperdalam kemampuannya lewat training – training yang ada. Selanjutnya mereka juga diharapkan bisa mengikuti sertifikasi tingkat lanjut. “Ada 3 level yang kami ujikan. Pertama adalah Survival English. Mereka yang lolos ujian kali ini digolongkan dalam Survival English. Di level ini mereka sudah bisa memperkenalkan dirinya pada orang lain dan menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari,” terang Lusi.

Level kedua, imbuh Lusi, adalah English for Communication, dimana peserta bisa membuat konsep agreement (perjanjian), complaining, dan reservation (pemesanan). Level ketiga adalah Advance English for Communication. Ini adalah level tertinggi setara D III dimana pesertanya sudah bisa melakukan presentasi, diskusi dan debat.

Salah satu peserta, Fahmi Yulia (20) mengatakan dirinya cukup deg-degan mengikuti ujian ini. Terutama ketika harus melakukan perkenalan dan  menceritakan keluarganya di hadapan pengawas dan salah seorang peserta yang menjadi lawan berdialognya. Mahasiswa IAI Ibrahimy Banyuwangi asal Desa Kepundungan, Srono tersebut bahkan juga diminta menceritakan tempat wisata yang ada di desanya dan mendeskripsikan gambar wanita sedang menelpon sambil membawa peta yang disodorkan pengawas.

“Saya berusaha semampu saya meski agak deg-degan. Alhamdulilah saya bisa meski tak semahir lawan berdialog saya,” tukas Fahmi. (Humas & Protokol)

 

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :