Peserta Wisata Jalan Kaki Camino De Ijen Senang Eksplor Alam Banyuwangi

Sabtu, 9 Desember 2017


BANYUWANGI – Sekelompok anak muda terlihat berjalan riang menyusuri jalanan, Jumat (8/12) . Mulai dari pematang sawah, tepian parit, pinggiran jalan hingga melewati rumah-rumah warga. Mereka tampak sangat menikmati perjalanannya.

Dengan santai, penuh tawa dan sesekali duduk menikmati keindahan alam, mereka tak henti menjepretkan kameranya. Sibuk mengabadikan pesona alam sekitar yang mereka lalui dan ber-selfie ria.

Sekumpulan anak muda tersebut tengah mengikuti wisata alam alternatif, yakni berjalan kaki menuju Kawah Ijen. Adalah Camino De Ijen, penggagas wisata jalan kaki asal Jakarta yang menemukan destinasi menarik ini untuk dijelajahi. Camino De Ijen berhasil mengumpulkan sejumlah pekerja di Jakarta yang ingin rehat sejenak dari rutinitasnya yang melelahkan. Beberapa pekerja muda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Semarang, Aceh, Padang itu secara khusus meluangkan waktunya untuk bisa datang ke Banyuwangi dan menjajal sensasi yang ditawarkan Camino De Ijen.

Salah satu peserta, Monitta Putri Lisa Mary, gadis muda asal Semarang yang bekerja di Jakarta mengaku sangat excited sejak hari pertama mengikuti kegiatan  yang digelar sejak 5 Desember dan akan berakhir pada 10 Desember nanti. “Ini sudah hari ketiga perjalanan kami, dan saya masih sangat menikmati perjalanan ini. Capek sih, tapi fun banget,” tukas gadis yang bekerja sebagai staf kepresidenan ini.

Monitta menyebut momen ini sebagai jalan keluar untuk me-refresh pikiran. “Ini semacam gateway untuk membersihkan pikiran dan hati. Bisa melihat alam dari dekat, kenal warga, main musik instrumen. Tahu sendiri kan kerja di kota besar seperti apa,” ujarnya.

Monitta merasa yakin, pulang dari jalan-jalan ini, pikirannya lebih plong dan siap beraktivitas kembali di Jakarta. “Ini semacam detoksifikasi bagi aktivitas yang menjemukan. Semuanya berkesan, sepanjang jalan disapa warga, jalanan yang penuh dengan pemandangan yang menyenangkan. Apalagi bisa menikmati kopi uthek, makan nasi lemang khas Desa Banjar plus makan jajanan tali abrem. Kita sudah habis tali abrem 1 kg lho hari ini,” ujar Monitta tertawa berderai.

Anggota karang taruna Desa Banjar, Ilham Agus, mengaku sangat senang dilibatkan Camino De Ijen. “Ini seperti memberi kami mimpi baru. Kami seolah dibukakan jalan untuk menjadikan tempat kami dikenal orang. Ke depan kami akan terus berbenah, seperti  memasang rambu-rambu menuju tempat wisata, memperbaiki fasilitas homestay, dan lain-lain,” ujar Ilham.

Koordinator Camino De Ijen, Agustina, wisata alternatif yang ditawarkan Camino De Ijen ini memang didesain agar orang nyaman berjalan kaki di desa. Juga bisa merasakan langsung tinggal di desa serta merasakan pengalaman di desa. Seperti memasak dari tungku bareng warga, membatik, bermain musik tradisional. Dan desa-desa di Banyuwangi dinilai Agustina  punya kesiapan untuk menerima tamu. “Desanya sudah siap, begitu juga dengan aparat dan pemuda desanya. Kalau gelombang camino jadi besar ke depannya, harapannya mereka lebih dipersiapkan. Ya homestaynya, ya SDM-nya,” pungkas Agustina.

 

Camino De Ijen menggagas perjalanan wisata dengan berjalan kaki menuju Kawah Ijen. Konsep jalan kaki ini diadopsi dari sebuah perjalanan yang terkenal dengan Camino De Santiago yang berarti jalan kaki menuju Santiago di Spanyol.

Perjalanan Camino De Ijen   dilakukan selama 4 hari 4 malam. Hari pertama rute yang ditempuh diawali dari Kota Banyuwangi, tepatnya di Taman Blambangan menuju Desa Macan Putih dengan jarak tempuh 15 Km.

Para pejalan kaki menginap di Desa Macanputih kemudian melanjutkan perjalanan di hari kedua menuju Desa Banjar. Jarak yang ditempuh dari Desa Macanputih ke Desa Banjar adalah 25 Km. Menginap di rumah penduduk di Desa Banjar, peserta akan diajak untuk belajar memainkan musik tradisional, membatik, menikmati kopi uthek dan nasi lemang khas Banjar.

Keesokan paginya perjalanan dilanjutkan ke Taman Langit, Desa Banjar  untuk menikmati pemandangan sebuah bukit dengan background sawah terasering.

Sementara di sisi kirinya terlihat laut yang membentang luas dan di sisi kanan terdapat pemandangan gunung yang berjajar. Usai makan siang, perjalanan dilanjutkan menembus hutan pinus dan berakhir di Rest Area Jambu di Desa Taman Sari dengan jarak 10 Km.

Malam ketiga di Desa Taman Sari, para pejalan kaki ini  harus bangun pagi jam 1 dini hari untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen, dan berkesempatan untuk melihat sunrise di puncak Ijen atau pun menikmati bluefire di areal kawah.

Malam keempat peserta akan menghabiskan waktu di Kota Banyuwangi sambil menikmati gelaran Festival Kuwung (Banyuwangi Night Carnaval) dimana berbagai seni dan budaya dari Banyuwangi maupun kabupaten/kota sekitar ditampilkan dalam acara tersebut. (*)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :