Pesona Gunung Ijen Jadi Ikon International Tour de Banyuwangi Ijen
Sabtu, 14 Mei 2016
BANYUWANGI - Hari ini, Sabtu (14/5) International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) memasuki etape 4 atau etape terakhir. Pada etape yang menempuh jarak 145,7 KM ini, balap sepeda mengambil start di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muncar dan finish di kaki Gunung Ijen, Paltuding, Banyuwangi. Dipilih sebagai ikon balap sepeda bergengsi daerah, Gunung Ijen memiliki sejuta pesona yang layak untuk diabadikan.
Selama lima tahun terakhir Ijen telah menjadi ikon kompetisi balap sepeda internasional kabupaten di ujung timur pulau Jawa ini. Sejak saat itu pula pamor Gunung Ijen sebagai destinasi wisata terus meningkat. Di kompetisiITDBI sendiri etape dengan rute Ijen juga menjadi yang paling istimewa karena menyuguhkan salah satu tanjakan terekstrem di Asia dengan ketinggian 1.871 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan kemiringan 45 derajat, di atas tanjakan di Malaysia yang hanya berkisar 1.500 mdpl.
Tidak hanya memberi adrenalin bagi para atlet sepeda, pesona keindahan alam Ijen juga menarik anrtusiasme wisatawan untuk berkunjung. Salah satu pesonanya yang paling memikat adalah blue fire yang hanya ada dua di dunia. Blue fire dapat ditemui di atas puncak Ijen dimalam hari, biasanya diatas pukul 01.00 WIB. Api biru ini berpijar di bawah kawah yang asalnya dari cairan belerang yang mengalir tanpa henti. Cairan inilah yang kemudian dikeringkan oleh angin dan menjadi batu belerang yang ditambang secara tradisional oleh penduduk sekitar.
“Gunung Ijen memang unik, tidak hanya menjadi tujuan wisata yang menarik, Gunung ini juga menjadi berkah bagi masyarakat sekitar sebagai sumber penghidupan dengan menambang belerangnya yang terus menerus diproduksi dan tak habis-habis,” kata Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi Bramuda.
Selain blue Fire, Gunung Ijen juga memiliki danau kawah luas yang menakjubkan. Luas kawahnya mencapai 5.466 hektar dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter. Air kawahnya tenang berwarna hijau kebiruan dengan volume sekitar 200 juta meter kubik dengan panas mencapai 200 derajat celcius. Pemandangan kawah yang indah ini bisa dinikmati saat matahari mulai terbit.
Kedepannya pariwisata di Gunung Ijen akan terus dikembangkan dengan konsep suistainabiliy dimana kelestarian lingkungan dan harmoni dengan masyarakat terjaga dengan seimbang. Apalagi Taman Wisata Ijen yang berada 2.368 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini telah ditetapkan sebagai salah satu cagar Biosfer dunia oleh organisasi PBB, UNESCO. Konsep ini juga mendapat dukungan dari kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang membentuk task force pembangunan TWA Ijen bersama-sama dengan pemerintah daerah.
"Pengembangan Ijen akan tetap jadi satu kesatuan ekosistem dimana kelestarian alam menjadi tumpuan utamanya, dan pariwisata menjadi pengembangannya. Masyarakat di sana pun akan berkembang sesuai konsep konservasi," kata Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tachrir Fathoni beberapa waktu lalu.
Gunung Ijen kini menjadi salah satu magnet pariwisata yang menarik ribuan pengunjung datang ke Banyuwangi. Seperti yang terjadi saat musim liburan pekan kemarin. Kawasan wisata alam ini dipadati pengunjung. Pada Kamis (5/5), 3.200 wisatawan masuk ke lokasi wisata yang terkenal dengan api biru alias blue fire-nya tersebut. Pada hari biasa pengunjung yang datang mencapai 1000 orang.
Pamor Ijen yang meningkat juga tak lepas dari berbagai even yang digelar Pemkab Banyuwangi untuk mempromosikannya. Selain International Tour de Banyuwangi Ijen, tiap tahun pemerintah juga menggelar even musik Jazz Ijen. Tahun 2016 ini akan ada tiga even Jazz yang dikemas dengan Ijen Summer Jazz pada Juli, September dan Oktober mendatang. (humas)