Pesta Kopi, Banyuwangi Suguhkan Ribuan Cangkir Kopi Bagi Pengunjung

Sabtu, 5 November 2016


Banyuwangi - Banyuwangi kembali menggelar pesta kopi. Ribuan cangkir kopi terhidang di sepanjang jalan Desa Kemiren saat berlangsungnya Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Sabtu (5/11).  Tidak hanya warga lokal, wisatawan dari luar kota sampai turis manca negara ikut melebur untuk menikmati kekhasan kopi banyuwangi yang bercitarasa istimewa.

Malam ini Desa Kemiren, Kwcamatan Glagah Banyuwangi berubah menjadi lautan manusia. Sejak dimulai pada tahun 2013 lalu, penikmat kopi di festival ini memang terus bertambah. Seolah tak ingin ketinggalan, semua orang ingin ikut menikmati rasa khas kopi banyuwangi yang disediakan secara gratis oleh warga desa. Tidak hanya kopi, warga juga menghidangkan aneka camilan khas Kemiren di halaman rumah  yang disulap menjadi ruang tamu.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang membuka acara mengatakan Festival Ngopi Sepuluh Sewu merupakan salah satu event dari 53 rangkaian festival di Banyuwangi. Melalui festival ini Anas berharap akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Desa Kemiren.

"Terima kasih pada masyarakat Kemiren yang terus menguatkan tradisi ini. Pemerintah daerah memberikan apresiasi atas swadaya masyarakat hingga terselenggaranya festival ini. Kegiatan ini akan menjadi bagian yang akan mendorong perekonomian masyarakt desa" kata Anas.

Ketua lembaga adat Desa Kemiren, Suhaili menuturkan bahwa menyuguhkan kopi telah menjadi tradisi warga setempat dalam menyambut tamu. Tradisi ini diperkuat dengan filosofi warga "sak corot dadi seduluran", dimana dengan meminum kopi yang disuguhkan sebagai simbol menyambung silaturahmi dan menambah persaudaraan. 

"Ngopi telah mrnjadi tradisi warga, kalau belum minum kopi pasti akan pusing. Dengan festival ini kami berharap semua yang datang saat ini nantinya akan rindu untuk kembali ke desa Kemiren untuk menikmati suguhan  kopi dari kami. Kedatangan mereka, telah kami anggap sebagai saudara kami," kata Suhaili.

Salah satu pengunjung yang datang menikmati Festival Ngopi Sepuluh ewu adalah turis mancanegara Donna Debets asal Belanda. Donna yang merupakan penyuka kopi ini mengatakan sangat antusias mengikuti festival di Desa Kemiren ini. "Saya berlibur selama 5 hari di Banyuwangi salah satunya ingin hadir di Festival yang unik ini.  Saya juga suka rasa kopinya, enak," ujarnya yang datang ke Banyuwangi juga ingin mendaki Gunung Ijen.

Begitu juga dengan rekannya, Philip Leonard dari Inggris. Pria yang mengaku sangat menyukai kopi ini juga menikmati cita rasa kopi Banyuwangi. "Saya sudah minum 3 gelas, nice taste of coffee," ujarnya.

Puluhan Barista dari berbagai daerah di Jawa Timur juga tidak ketinggalan mengikuti even ini, di antaranya dari Malang, Surabaya, dan Mojokerto. Salah satu barista Titik Rahma yang mengatakan kedatangannya bersama rekan lain satu profesi ini memang sengaja ingin mengikuti uniknya festival ngopi sepuluh sewu sekaligus sharing seputar kekhasan kopi Banyuwangi. 
"Festival ini menurut kami sebuah even yang kreatif. Masyarakat desa memiliki prakarsa dan berpartisipasi aktif mengangkat potensi desanya sendiri," ujarnya.

Titik saat itu juga ikut menikmati suguhan kopi warga. "Cita rasa kopi Banyuwangi ini unik, aroma dan rasanya kuat. Rasanya lebih ke fruity yang menyegarkan," kata Titik yang siang tadi juga mengunjungi perkebunan kopi rakyat di DesaTlemung, Kalipuro Banyuwangi.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini tidak hanya festival minum kopi, namun juga menyuguhkan sebuah edukasi seputar kopi yang disampaikan oleh Banyuwangi Coffee Community (BCC). Salah satunya, cara penyuguhan kopi tubruk yang menjadi suguhan khas Kemiren.

Dalam acara itu, sejumlah barista yang tergabung dalam BCC pun unjuk gigi di hadapan pengunjung. "Selama ini ada orang yang mengeluh perut nya kembung karena minum kopi sebenarnya bukan kopinya yang salah, mungkin cara menyajikannya yang tidak tepat," kata penggiat BCC, Agung Pribadianto.

Teknik penyajian kopi yang nenar, lanju dia, bisa memperkuat citarasa kopi dan membuat kopi aman diminum bagi siapa saja.

Untuk menyajikan kopi yg benar, lanjut Agung air panas yang digunakan minimal bersuhu 90 derajat celcius. Takaran airnya juga harus pas, 10 gram kopi dengan 100 ml air. Setelah memasukkan bubuk kopi kedalam cup, air panas pun dimasukkan hingga mencapai berat kurang lebih 35 gram.

"Airnya  jangan langsung dimasukkan semua ke gelas, sedikit dulu lalu didiamkan selama 5 -10 detik sampai dia blooming, atau proses pemecahan atau ekstrasi bubuk kopi. Setelah itu sisa air dimasukkan. Kopi juga tidak perlu diaduk karena sudah tercampur pada proses tadi," ujarnya. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :