Petani Padi Banyuwangi Produksi 37 Persen Lebih Tinggi dengan Sistem SRI
Minggu, 16 Agustus 2015
BANYUWANGI – Para petani padi yang tergabung dalam Lkelompok Sekar Arum, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, mampu menghasilkan produksi hingga 8,3 ton per hektar, lebih tinggi sekitar 37 persen dari produksi biasanya yang sekitar 6,1 ton per hektar. Peningkatan produksi ini karena petani setempat menggunakan teknologi pertanian metode system of rice intensification (SRI) pada lahan percobaan mereka. SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara.
Di Banyuwangi sendiri, total ada 59 kelompok tani di 18 kecamatan yang didampingi untuk melakukan pengembangan program SRI.
Ketua Kelompok Tani Sekar Arum Nyono Subagio mengatakan, lahan yang dikelola dengan sistem SRI yang dipanen kali ini seluas 1,25 hektar. Dari luas tersebut mampu menghasilkan padi semi organik sebanyak 8,3 ton. “Dengan metode SRI, satu bulir benih bisa menghasilkan 157 anakan. Lebih optimal,” kata Nyono saat perayaan panen di areal persawahan Desa Sumber Agung, Pesanggaran, Minggu (16/8).
Nyono menjelaskan, metode tanam menggunakan SRI memang lebih menguntungkan karena memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya biayanya lebih hemat karena penggunaan benih yang lebih sedikit dari biasanya. Jika pada pola tanam konvensional membutuhkan benih sampai 50 kg per hektar, dengan SRI maksimal hanya 5 kg per hektar. Benih yang ditanam adalah benih muda, yakni 5 -12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal.
“Penanaman benihnya dengan sistem jajar legowo yaitu jarak tanam yang lebih renggang 20x35 cm. Hasilnya lebih bagus karena tanaman padi mendapatkan udara dan sinar matahari yang lebih baik. Airnya juga tidak perlu menggenangi tanaman terus tapi berselang dan hanya setinggi 2 cm, juga ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus),” imbuhnya.
Teknologi ini juga ramah lingkungan, karena tidak menggunaan bahan kimia. Pupuknya menggunakan pupuk organik (kompos, kandang dan mikro-oragisme lokal), begitu juga penggunaan pestisidanya. “Jadi kami tidak tergantung pada produk pabrik karena sebagian besar pupuknya organik, begitu juga untuk pembasmi hamanya. Bahan-bahan untuk pupuk dan pestisida pakai bahan-bahan lokal jadi tidak keluar biaya banyak,” kata Nyono.
Nyono melanjutkan, melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga daur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. “Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan produk akhir yang dihasilkan, yang notabene lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya,” terangnya.
Pemilihan metode budidaya padi organik secara SRI bisa menghasilkan produk akhir berupa beras organik yang memiliki kualitas tinggi sebagai beras sehat
Nyono mengaku, kelompoknyamulai mencoba metode SRI sejak 2012 dengan pendampingan dari Pemkab Banyuwangi. Kemudian dilanjutkan sampai saat ini dengan pendampingan dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) sejumlah perusahaan yang didorong oleh Pemkab Banyuwangi.
Dengan proses dan hasil yang terbukti menguntungkan tersebut, Nyono mengatakan, kelompok taninya tahun depan akan mengalihkan semua sistem tanam di lahan padi pada kelompoknya yang berjumlah 36 orang dengan metode SRI.
Bupati Abdullah Azwar Anas yang ikut dalam panen bersama ini menyambut gembira kesuksesan petani dalam meningkatan hasil produksi padi dengan sistem SRI. Menurut Anas ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia.
“Kami sangat gembira dengan kemajuan yang didapatkan oleh petani. Namun tidak semua petani dapat didampingi oleh pemerintah daerah, maka disinilah peran swasta untuk berkontribusi dengan menyalurkan CSR-nya di bidang pertanian dan ikut mensejahterakan petani,” harap Anas.
Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Ikrori Hudanto menambahkan, Banyuwangi sendiri telah menerapkan cara tanam metode SRI sejak beberapa tahun terakhir. Untuk tahun 2015 ini juga terdapat program pengembangan SRI seluas 2.500 hektar senilai Rp4 miliar yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat.
Ada 59 kelompok tani di 18 kecamatan yang masuk dalam pengembangan program SRI. Menurutnya rata-rata produksi padi yang dihasilkan dengan metode ini memang mengalami peningkatan dari biasanya. “Rata-rata petani bisa menghasilkan 7,8 ton padi per hektar-nya," pungkasnya.