PMI Gandeng Pemkab dan YKI Gelar Operasi dan Pemeriksaan Mata Gratis

Selasa, 20 Oktober 2015


BANYUWANGI - Sebagai bentuk kepedulian pada kaum dhuafa,  Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Banyuwangi kembali mengadakan operasi katarak gratis, Selasa (20/10).

Ini adalah tahun ketiga dilaksanakannya operasi katarak gratis. Kegiatan  yang  dijadwalkan berlangsung selama 5 hari,  mulai Selasa hingga Jumat (20 – 24/10)) mendatang ini juga memfasilitasi masyarakat miskin dengan pemeriksaan mata di luar katarak. Mereka yang menderita mata minus, plus atau silinder diberikan bantuan kacamata. Ada pula pemasangan bola mata palsu (protase).

Dalam pelaksanaan program yang dilangsungkan di markas PMI di Jalan Kartini Banyuwangi ini, PMI tidaklah sendiri. Selain Pemkab Banyuwangi, sejumlah pihak digandeng, diantaranya Yayasan John Fawcett Foundation, dan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI).    

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, ketika membuka acara tersebut menyatakan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian banyak pihak untuk mengurangi tingkat kebutaan di Banyuwangi. "Pemkab dan PMI tidak mungkin bekerja sendiri tanpa bantuan para pihak. Karena itu kegiatan semacam ini kami support penuh dan akan kami tindaklanjuti ke depannya,” ujar Bupati Anas.

Sambil berseloroh, bupati juga berpesan pada para pasien, “Selamat ya, sebentar lagi bapak ibu akan bisa melihat dengan  normal kembali. Dari gelap menjadi terang. Kalau bisa, pertama kali jangan gunakan mata untuk nonton bioskop dulu. Tapi gunakan untuk mengaji atau membaca,” pesannya disambut tawa para pasien yang rata-rata memasuki usia senja itu.

Operasi katarak ini, uniknya dilakukan di dalam 2 bus klinik yang disediakan YKI. Bus tersebut biasanya digunakan untuk jemput bola, dimana pasien dikunjungi dan operasi langsung dilakukan di tempat, tanpa perlu dirujuk ke rumah sakit. “Bus ini biasa kami bawa berkeliling ke Sulawesi, Kalimantan, Sumbawa, Lombok, Morotai dan sebagainya. Kami bercita-cita, nantinya 1 bus bisa stand by di Banyuwangi,” kata Senior Manager YKI, Wayan Sukajaya.

Sementara itu, di tengah kerumunan pasien terlihat seorang gadis kecil yang berlari-lari dan sesekali mengintip ke arah bupati. Dia adalah Lintang Elok (5), siswi TK Trisula yang ternyata mata sebelah kirinya tidak mempunyai bola mata. Elok, sapaan akrabnya, terlihat asyik mencorat-coret kertas dengan cat air yang sengaja dibawakan ibunya, Fery Balqis (33).

Elok yang sempat bertegur sapa dan cium tangan pada Bupati Anas tampak begitu percaya diri meski memiliki kekurangan. “Anak saya punya keistimewaan sejak lahir. Ketika itu saya tidak tahu kalau sedang hamil 3 bulan, dan harus dirawat karena sakit liver dan tiphus. Setelah saya dinyatakan sembuh dari sakit itu, saya baru ngeh kalau hamil. Rupanya,  pengobatan itu berpengaruh pada janin saya dan berakibat seperti ini,” kata Balqis.

Rasa sedih Balqis atas kondisi putrinya  tak berlangsung lama. Dia segera tersadar bahwa Elok adalah rezeki luar biasa yang dianugerahkan Allah padanya. “Saya terus konsultasi ke dokter soal perawatan mata Balqis. Matanya rutin diberi obat tetes mata agar tidak kering. Dia pakai protesa sejak usia 4 tahun. Tapi anak segini cepat besar. Protesanya juga tidak lagi sesuai dengan ukuran matanya sehingga sering terjatuh. Saya bersyukur, lewat kegiatan ini Elok mendapatkan protesa baru,” kata warga Jl. MH Thamrin yang tahu tentang program ini dari Puskesmas Singotrunan.

Kegiatan ini mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Hal itu terlihat dari banyaknya jumlah pendaftar yang mencapai 2000 orang. Jumlah ini jauh lebih banyak dari pasien tahun-tahun sebelumnya. Di tahun pertama hanya 250 orang, dan di tahun kedua 1500 orang.

Pada pelaksanaan pemeriksaan mata ini, pada hari pertama ada 200 pasien yang diperiksa, dengan 50 orang menjalani operasi. Di hari kedua 700 pasien, dan 50 orang yang dioperasi. Hari ketiga 600 orang dan 50 yang menjalani operasi. Hari keempat 50 orang menjalani pemeriksaan mata. Dan pada hari terakhir hanya difokuskan untuk pemeriksaan mata dari orang-orang yang telah selesai menjalani operasi.

Sejumlah dokter, perawat, tim medis dan relawan juga diterjunkan untuk memberikan pelayanan pengobatan mata bagi masyarakat Banyuwangi yang kurang mampu. (Humas & Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :