Pokdarwis Kaki Raong Komitmen Konservasi Tanaman Pakis

Kamis, 27 April 2017


BANYUWANGI - Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kaki Raong (Karo) berkomitmen  melakukan konservasi tanaman pakis, Rabu (26/4). 

Bentuk komitmen mereka itu ditunjukkan dengan penanaman pakis bersama sekaligus memperingati hari bumi yang jatuh setiap tanggal 22 April. 

Penanaman pakis jenis pakis kentang tersebut dilakukan oleh para anggota Pokdarwis Karo, dengan dipimpin  Camat Songgon bersama Administrator/Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Banyuwangi Barat, dan diikuti perwakilan dari Dinas Pariwisata, para pemuda setempat, dan pelajar.

Sebanyak 2500 bibit pakis kentang ditanam di areal tepi sungai, tepatnya di bawah pepohonan pinus. Pinus  berfungsi sebagai tanaman pelindung dari sinar matahari bagi pakis kentang. Selain pakis kentang, di tepian sungai yang tidak terdapat pinus, dilakukan penanaman bibit manting dan mahoni. Ada 200 bibit manting dan mahoni yang ditanam secara bertahap. Bibit tersebut merupakan pemberian secara cuma-cuma dari Perhutani Banyuwangi Barat.

Salah satu personil Pokdarwis Karo, Baim Saputra mengatakan, Karo selama ini dikenal sebagai wahana rafting di Banyuwangi. "Kami tak ingin hanya dikenal sebagai provider wahana bersenang-senang saja, tanpa berkontribusi untuk lingkungan. Maka kemudian mulailah kami mencari berbagai hal yang memberikan manfaat untuk lingkungan. Satu di antaranya dengan melakukan konservasi terhadap pakis," beber Baim.

Ide awalnya, cerita Baim, sebenarnya muncul dari ibu-ibu yang menjadi koki di dapur Karo. Biasanya saat menyiapkan makanan untuk para tamu yang berkunjung, menu pakis selalu menjadi menu andalan di sana. Namun mereka selalu membeli pakisnya di pasar. Lambat laun terlalu sering belanja pakis di pasar dinilai tidak efektif, sehingga mereka memutuskan untuk bertanam sendiri. 

Alasan lain yang menjadikan anggota pokdarwis ingin bertanam pakis, lanjut Baim, adalah mata pencaharian masyarakat setempat yang kebanyakan menambang pasir dan batu. Juga adanya kebiasaan bertanam selada air yang dinilai mengganggu rumpun-rumpun bambu dan tanaman kluwih yang ada di tepian sungai. Padahal tanaman-tanaman tersebut merupakan tanaman yang baik untuk resapan air. Pola perilaku yang tidak ramah lingkungan tersebut ingin dirubah secara perlahan. 

Menurut Baim, respon masyarakat sekitar cukup bagus. Mereka, khususnya yang punya lahan/tegalan mau diajak bekerjasama menanam pakis kentang ini. "Sudah ada 5,5 hektar lahan yang kami tanami sejak awal 2016 lalu. Dan yang sudah bisa dipanen seluas 2,5 ha," terang Baim yang mengaku pihaknya menargetkan tahun ini akan menanam seluas 10 ha lagi.

Sedangkan masyarakat yang selama ini dilibatkan dalam merawat tanaman pakis sebanyak 55 kepala keluarga (KK). "Ke depan akan ada 22 KK lagi yang bergabung, tinggal menunggu masa tanam tanaman pokok mereka berakhir," jelas  Baim.

Tanaman pakis ini, terang Baim, berprospek cukup bagus. "Pakis beras yang sering kita jumpai di pasar dijual dengan harga Rp 1000 -2000 per ikat. Tapi pakis kentang bisa mencapai Rp 3.500 - 4000 per ikat. Hal itu dikarenakan pakis kentang ini teksturnya lembut dan lebih enak. Jadi kami harapkan dengan beralih ke budidaya pakis, masyarakat akan lebih sadar lingkungan dan meninggalkan kebiasaan buruknya menambang batu pasir dan menebang bambu-bambu di sepanjang bantaran sungai," harap Baim.

 Sementara itu, Adm/KKPH Banyuwangi Barat, Aries Indra Supartha mengatakan, pihaknya sangat mendukung upaya konservasi pakis yang digagas Pokdarwis Karo.

"Ini ide bagus yang layak didukung. Kami mengapresiasi sekali, sebab mereka punya keinginan untuk menjaga  hutan yang berada di kawasan kami. Mereka peduli pada pakis, yang notabene  di tempat lain dibiarkan tumbuh liar," kata Aries. Aries berharap, tanaman pakis bisa menjadi icon baru bagi Karo yang selama ini dikenal dengan program  edukasi ekologinya.

 

Aries mengatakan,dukungan penuh selalu diberikan pihaknya kepada setiap ekowisata yang ada di bawah naungan Perhutani KPH Banyuwangi Barat. “Luasan hutan kami 47. 400 ha. Dari angka tersebut, luasan hutan produksi sebesar  29 ribu ha. Yang dimanfaatkan untuk ekowisata luasnya tidak sampai 1 persen,” ujar Aries.

Hingga saat ini sudah ada 7 ekowisata yang bekerjasama dengan Perhutani KPH Banyuwangi Barat. Antara lain Wana Wisata Rowo Bayu, Wisata Pinus Songgon, Air Terjun Legomoro, Air Terjun Watugedek, Air Terjun Kedung Angin Pakel, Camping Ground dan Karo Rafting, serta Kali Badeng. “Ada 7 lokasi wisata ekologi lagi yang akan bekerjasama dengan kami. Total ada 14 tempat. Agar tidak terjadi persaingan, temanya kami bedakan, tapi tetap fokusnya pada wisata ekologi. Misalnya kalau di Karo lebih mengacu pada pakisnya sebagai ikon, di Wisata Pinus Songgon  lebih pada pengenalan tanamannya,” pungkas Aries.

Acara yang berlangsung sejak pagi tersebut ditutup dengan rafting  bersama menyusuri jalur Sungai Batih yang terkenal dengan jeramnya yang menantang. (Humas)

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :