Praktisi Pendidikan Finlandia, Allan Schneitz, transfer knowledge ke Banyuwangi
Senin, 23 Maret 2015
BANYUWANGI- Upaya Pemerintah Banyuwangi untuk mencetak siswa berkualitas dan berprestasi tinggi tanpa merenggut kebahagiaan ditangkap Dream School Project dari Finlandia. Sebagai implementasinya, mereka datang ke Banyuwangi untuk sharing bagaimana menerapkan pendidikan yang berkualitas.
Sharing yang intinya transfer knowledge ke tenaga pendidik ini dihadiri koordinator Dream School Project dari Finlandia Allan Schneitz, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan ratusan tenaga pendidik. Dalam Sharing Session yang digelar di Hotel Santika Banyuwangi (23/3), Schneitz sebagai nara sumber memaparkan bagaimana sistem pendidikan di Finlandia.
Dikatakan dia, dalam sistem pendidikan di Finlandia dari jenjang TK sampai dengan SMA tidak ada pengawasan eksternal juga tidak ada kurikulum yang standard. Selama pendidikan berlangsung juga tidak ada ujian kecuali saat mereka duduk di kelas akhir. Kelas akhir di Finlandia rata-rata berusia 16 tahun.
Di Finlandia, sekolah juga tidak mengajarkan budaya kompetisi, sehingga siswa tidak mengalami tekanan dalam proses belajar mereka. “Negara kami dikenal sebagai negara yang prestasi siswanya terbaik di dunia dengan pengalaman sekolah yang menyenangkan dan membahagiakan. Sehingga negara kami dikenal dengan ungkapan jika siswa tidak belajar dengan rasa senang, mereka akan mudah melupakan tanpa rasa sesal “, kata Schneitz.
Secara teknis Schneitz memaparkan, bagaimana suasana sistem belajar mengajar di Finlandia. Di kelas tidak ada meja guru, karena hal itu dianggap memberikan gap secara fisik antara guru dan siswa. Tanpa meja, guru bebas berinteraksi dengan murid-muridnya. Sementara bangku siswa dibuat berkelompok agar siswa bisa bersosialisasi dan berdiskusi dengan kawannya. Ruang kelas dibuat homey (seperti di rumah sendiri). “Tidak hanya itu, durasi pembelajarannya yang tadinya hanya 45 menit telah diubah menjadi 75 menit. Meskipun waktunya panjang tetapi tidak membuat siswa bosan, sebab di dalamnya mereka bisa belajar dengan menyenangkan. Penggunaan sistem teknologi informasi juga dimaksimalkan di dalam kelas,” kata Schneitz.
Senada dengan Schneitz, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan memiliki konsep pendidikan yang sama untuk diterapkan di Banyuwangi. “Secara makro, strategi peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan oleh mayoritas negara di dunia, termasuk Indonesia, adalah melalui kompetensi, tes dan penerapan sanksi. Siswa dipaksa untuk dapat nilai bagus dan dituntut untuk bersaing ketat dengan teman-teman mereka. Selama ini ranking anak adalah gengsi orang tua. Jadi anak di-push untuk mendapatkan nilai yang sempurna. Melihat ini saya mengajak para tenaga pendidik untuk membuka wawasan dan berusaha mengubah paradigma pendidikan,” kata Bupati Anas. (Humas Protokol)