Program Banyuwangi Berkebun Terus Disosialisasikan pada Masyarakat
Rabu, 12 Agustus 2015
BANYUWANGI – Pasca dilaunching pada Minggu (30/11/2014) silam, Program Banyuwangi Berkebun tak henti terus digaungkan untuk menyadarkan masyarakat pentingnya lingkungan yang sehat serta layak huni. Seperti yang dilakukan hari ini, Rabu (12/8), Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) mengajak masyarakat untuk sharing terkait Sosialisasi Program Banyuwangi Berkebun. Sosialisasi tersebut dimaksudkan untuk mengetahui lebih jauh apa itu berkebun dan sejauh mana manfaatnya bagi masyarakat urban.
Sosialisasi tersebut digelar di Kebun Bibit Banyuwangi Berkebun di sebelah barat areal kolam renang GOR Tawangalun Banyuwangi. Puluhan ibu-ibu dasawisma, PKK, Dharma Wanita beserta bapak-bapak yang menjadi penggiat kebersihan dan pertamanan di Banyuwangi tampak menyimak dengan serius topik yang tengah diperbincangkan oleh nara sumber. Bahkan, nara sumber dari Bali, Idnul Fitriya didatangkan secara khusus untuk membuka wawasan para warga.
Idnul adalah praktisi Indonesia Berkebun yang sekaligus menjadi penggerak Bali Berkebun. Idnul telah 5 tahun teruji dalam menyadarkan warganya. Dirinya juga mendapatkan tantangan serius untuk bisa menanami lahan berkapur di wilayah Jimbaran. Berkat ketekunan, keyakinan dan kerjasama timnya yang baik, Idnul akhirnya berhasil menyulap lahan yang tadinya tandus dan tidak berguna, menjadi lahan yang menghasilkan nilai ekonomi bagi warga hingga kini.
Langkah awal yang diambil Idnul beserta timnya kala itu dimulai dari mengumpulkan anak-anak sekolah, guru dan orang tua siswa untuk mengelola lahan berkapur hingga bisa ditanami. Setelah siap ditanami, mereka menyemai berbagai bibit tanaman sayuran seperti bayam, kangkung, kacang panjang, cabe, tomat. Tiap hari mereka turun secara bergantian merawat lahan tersebut. Upaya itu berlanjut sampai 1 bulan. Belakangan mereka bisa memanen seluruh sayuran yang ditanam rapi berderet-deret di lahan yang semula tak terawat itu. Sayuran hasil panen bahkan bisa dinikmati bersama seluruh warga sekitar, sebab usai panen mereka langsung membagi-bagikannya.
Dalam kesempatan itu Idnul membagikan tipsnya kepada para warga. “Sebenarnya alasan utama kenapa kita mau bikin kebun di tengah kota adalah kondisi stres, macet, dan kesulitan mendapatkan makanan sehat yang kerap dihadapi masyarakat perkotaan. Hal tersebut kalau dibiarkan, tentu tidak akan berubah. Maka, langkah yang saya dan kawan-kawan ambil yaitu mulai mencoba memanfaatkan lahan, yang semula tidak terpakai, menjadi lahan yang berhasil guna. Idenya dari situ,” ungkap Idnul.
Karena itu, kata Idnul, dirinya ingin mengajak masyarakat untuk mandiri pangan. Dia menegaskan, tak ada alasan untuk tidak berkebun. Meski lahan yang dimiliki sempit, panci bekas, pot, polybag bisa menjadi media tanam yang tak kalah luar biasa hasilnya, jika perlakuannya benar.
Idnul menekankan, mengapa yang ditanam harus sayuran? “Sayuran itu banyak manfaatnya. Kalau sekedar tanaman hias, kita hanya bisa melihatnya tanpa memanfaatkannya. Tapi sayuran sangat penting. Jika kita makan nasi atau karbohidrat terlalu banyak, itu akan menggumpal di usus kita. Sementara jika dalam menu kita terdapat banyak sayuran, akan melancarkan pencernaan kita sehingga kita jadi sehat,”tandasnya.
Tak hanya itu, kata Idnul, dengan menanam sayuran, konsep 3E yang ingin diterapkannya di masyarakat bisa berjalan. Konsep 3E yang dimaksud Idnul adalah Ekologi, Edukasi dan Ekonomi. Yakni dengan ekologi bisa menambah titik hijau dengan pemanfaatan ruang-ruang kota. Edukasi bisa memberikan pendidikan ke publik untuk cinta lingkungan. Ekonomi yaitu sebagai nilai tambah penghasilan dari pemanfaatan ruang – ruang kota.
Selain mendapatkan ilmu tentang pentingnya berkebun, warga juga diajari tentang cara membuat kompos sendiri dari sampah organik yang sehari-hari dihasilkan dari limbah rumah tangga.
Salah satu peserta sosialisasi, Putratomo mengaku gembira mengikuti kegiatan ini. “Saya bisa mendapat ilmu baru. Yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu,”katanya. Bahkan wanita yang menjadi wakil dasa wismanya ini mendapat tips bagaimana menghindarkan tanaman dari hama secara alami, tanpa perlu disemprot dengan pestisida.
“Saya jadi tahu, untuk mengusir hama bisa dengan memblender tembakau atau pun daun sambiloto dengan daun pepaya dan cabe. Setelah itu disaring, ditambahkan air dan didiamkan semalam. Baru keesokan harinya disemprotkan ke tanaman yang diserang hama. Ternyata solusinya mudah dan tak sesulit yang dibayangkan,” pungkasnya dengan senang. (Humas & Protokol)