Program Bumilristi Banyuwangi Jadi Inovasi Terbaik Pelayanan Publik Jawa Timur

Kamis, 4 Agustus 2016


BANYUWANGI – Untuk mempertahankan angka zero kematian ibu dan anak, Puskesmas Sempu Banyuwangi menggagas sebuah ide “Pemburu Ibu Hamil Resiko Tinggi (Bumilristi)”. Ide program ini pun terpilih menjadi inovasi terbaik bidang kesehatan dari Jaringan Informasi Pelayanan Publik (JIPP) Pemprov Provinsi Jawa Timur.

Dikatakan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, dr Widji Lestariono, bahwa program ini adalah ide murni dari bawah yang dilatarbelakangi dari kondisi yang ada di lapangan. Puskesmas ini, akhirnya menelurkan ide mebentuk program menekan angka kematian dan diajukan ke tingkat provinsi.

Program pemburu Bumilristi ini, lanjut dr. Rio, telah diuji dan dipaparkan di depan tim JIPP. Tim tersebut terdiri dari Biro Organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementrian Pendayagunaan dan Aparatur Negara – Reformasi Birokrasi, akedemisi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) penggiat inovasi.

Selain juga melibatkan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), institusi pemerintah Jerman yang membidangi kerja sama pembangunan bilateral dan kerja sama internasional yang digandeng Kemenpan RB untuk mengawal program inovasi pelayanan publik di Indonesia. “Inovasi Pemburu Bumilristi ini telah dipilih JIPP, menyisihkan 84 proposal inovasi dari seluruh daerah di Jawa Timur. Dari 84 proposal, kami masuk 10 besar. Setelah diuji lagi, akhirnya program kami juga lolos menjadi tiga besar, dan berhasil menjadi yang terbaik,” kata Hadi. Semenara itu, Kepala Puskesmas Sempu, Hadi Kusairi mengatakan Bumilristi yang digagasnya adalah gerakan menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah Puskesmas Sempu.

Dalam program ini yang akan bertugas menjadi pemburu Bumilristi adalah tim gabungan. Uniknya, tim ini juga akan melibatkan tukang sayur keliling, selain tenaga medis Puskesmas Sempu. Dalam melaksanakan program tersebut nantinya, imbuh Hadi, puskesmas akan menunjuk 10 pedagang sayur untuk diberdayakan mencari ibu hamil yang berisko tinggi di wilayah mereka berjualan.

Mereka dibekali smarthphone yang bisa langsung untuk mengirimkan informasi yang didapat. “Jika menemukan ibu hamil beresiko, mereka akan memotret dan mengirim identitas lengkap ke tim yang ada di puskesmas untuk selanjutnya kami tangani secara rutin. Khsusunya yang menjadi perhatian adalah ibu hamil dengan resiko tinggi,” ujar dia. Ibu hami yang berisiko tinggi ini adalah para ibu hamil yang berusia kurang dari 20 tahun dan di atas 35 tahun.

Selain juga jarak kelahiran yang terlalu dekat, banyak anaknya, persalinan pertama operasi, memiliki riwayat hipertensi dan tinggi badannya kurang dari 150 cm. Hasil laporan dari tim, akan ditindaklanjuti oleh tim medis puskesmas. “Mereka yang berisiko ini, akan kami sarankan dan bila perlu dirujuk melahirkan di rumah sakit. Ini untuk mengantisipasti kegawatdaruratan atas risiko tinggi tadi,” kata Hadi. Sekedar diketahui, dari hasil laporan identifikasi AKI dan AKB di Jawa Timur dalam satu tahun terakhir ini terdapat 567 AKI dan 5.000 bayi meninggal dari ibu berisko tinggi tersebut.

Di Kecamatan Sempu pada 2013 AKI (7 ibu) AKB (18 anak), 2014 AKI (5 ibu) AKB, (11 anak), dan 2015 zero alias tidak ada kasus AKI dan AKB. Sementara di Kabupaten Banyuwangi sendiri pada tahun 2015 AKI mencapai 23 orang dan AKB 163 bayi yang meninggal. “Program ini pada bulan Agustus ini juga akan segera kita awali. Dari informasi JIPP, program ini rencananya juga akan diadopsi pemprov untuk diduplikasikan ke seluruh wilayah Jatim,” pungkas Hadi. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :