Puluhan Pelajar Ikuti Lomba Bercerita

Rabu, 15 Juni 2016


<span 1.6em;"="">BANYUWANGI – Puluhan pelajar SMP dan SMA mengikuti lomba bercerita yang digelar Pemkab Banyuwangi di halaman Stadion Diponegoro, Selasa (14/6). Meski dalam kondisi berpuasa, para peserta  terlihat antusias dan tetap bersemangat menceritakan kisah-kisah bernuansa islami.

Menurut Kepala Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Banyuwangi, Riyanti Ananta, lomba bercerita ini merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan Ramadhan 1437 Hijriah. Tak hanya lomba bercerita saja, tapi ada pula lomba peragaan busana muslim casual dan mewarnai tingkat TK, serta lomba adzan tingkat SD/MI. Lomba bercerita ini sendiri  diadakan untuk menumbuhkan budaya baca.

“Di Banyuwangi sudah mulai banyak generasi muda yang suka membaca. Kesukaan mereka terhadap membaca inilah yang terus-menerus kami tumbuhkan sehingga menjadi budaya membaca. Untuk itulah kami menggelar lomba ini,” tutur Riyanti.

Melalui lomba bercerita tentang tokoh-tokoh muslim dan keteladanannya tersebut, Riyanti berharap anak-anak muda semakin terasah pengetahuannya. “Semoga dengan lomba ini anak-anak bisa mengasah pengetahuannya tentang para tokoh islam ini dan meneladaninya. Jangan berpikir menang atau kalah dalam lomba ini, tapi kalian semua mendapatkan pengalaman berharga yang bisa di-share untuk orang lain,” harap Riyanti.

Dalam lomba ini, peserta diberi kebebasan untuk berkreasi dan berimprovisasi, termasuk mengutip ayat-ayat Al-Quran dalam ceritanya. Selain itu mereka diperkenankan untuk memilih, bisa membawakan cerita dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Peserta juga bebas membawa alat peraga untuk memperkuat karakter tokoh yang diceritakannya. Isi cerita pun bersifat memberikan keteladanan seperti mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan dan menjauhi perbuatan buruk.

Salah seorang peserta, Oka Murdayanti (17) terlihat santai dalam membawakan ceritanya di atas panggung. Dia mengajak penonton larut dalam kisah kelinci kecil dan Nabi Sulaiman yang ia bawakan dalam bahasa Indonesia dengan gaya hangat dan lucu. Ceplas-ceplos namun mengena di hati pendengarnya.

“Lewat cerita ini saya ingin mengajak orang lain agar selalu bersyukur atas apa pun yang diberikan Allah pada kita. Semakin kita bersyukur, maka nikmat Allah yang kita rasakan akan semakin besar,” ujar siswi SMAN 1 Banyuwangi ini.

Kepada penulis, Oka menyampaikan harapannya agar lomba-lomba semacam ini bisa rutin digelar. “Ini kegiatan yang positif bagi anak muda. Tak sekedar membaca, tapi kita bisa menelaah jalan ceritanya, dan kemudian menyampaikannya pada orang lain. Semoga ini bisa terus ditindaklanjuti ke depannya,” tandas  Oka yang mengaku lomba ini menjadi pilihannya untuk mengisi liburan.

Berbeda dengan Oka, peserta lain yang bernama Elma Nawa Wulan memilih bercerita dalam bahasa Inggris. Kisah  yang dibawakannya adalah Alqamah, anak yang durhaka kepada ibunya. Ibunya menganggap Alqamah lebih mengutamakan istrinya dibandingkan ibunya, sehingga ibunya sangat marah kepadanya. Diceritakan, meski giat beribadah, rajin sholat, banyak puasa dan suka bersedekah, namun saat ia sakit dan ajal hendak menjemputnya,  mulut Alqamah kelu dan tak bisa mengucap La Ilaaha Illallah.

Singkat cerita, ibunya dipanggil dan diminta untuk memaafkan Alqamah agar ia dimudahkan Allah mengucap kalimat talqin (La Ilaaha Illallah). Ibunya tidak mau memaafkan. Maka Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar untuk membakar tubuh Alqamah. Ibunya jatuh iba dan memohon agar anaknya tidak dibakar.

“Then Rasulullah said,” Alqamah’s mother, you know that Allah’s wrath is more severe and longlasting. If you want Him to forgive your son, you have to forgive Alqamah. Because without your forgiveness, his prayer, fasting and charity won’t give him benefit at all,” said Rasulullah.

Ibu Alqamah akhirnya memaaafkan putranya. Dan saat itu juga Alqamah bisa mengucapkan kalimat talqin dan kemudian meninggal dunia.

Saat menguburkan Alqamah, ceritera Elma, Rasulullah mengatakan pada orang-orang yang menghadiri pemakaman Alqamah. “Hey you,  all of Muhajirin and Anshor clans. Who preferred his wife than his mother, he will get the anger of Allah, the angels and the people. Allah will not received the goodness he done  unless he wants to change, turn good to his mother and ask for her forgiveness. Because the ridho of Allah is depend on the ridho of your mother,” pungkas siswi kelas 3 SMAN 1 Genteng ini mengakhiri ceritanya. (Humas)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :