Puncaki Festival Ramadhan, Festival Patrol Resmi Dibuka Bupati Azwar Anas
Senin, 27 Juni 2016
BANYUWANGI – Festival patrol yang akan berlangsung pada 26-27 Juni, resmi dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Minggu malam (26/6) di lapangan parkir depan Stadion Diponegoro. Festival patrol sendiri merupakan puncak Festival Ramadhan yang digelar Pemkab Banyuwangi sejak 8 hingga 27 Juni 2016.
Patrol adalah musik etnik khas Banyuwangi yang seluruh instrumennya terbuat dari bambu dengan bentuk gong, kempul, angklung, kendang, dan seruling. Dimainkan oleh sekelompok orang, tradisi bermusik ini biasanya dimainkan untuk membangunkan warga untuk bersahur di Bulan Suci Ramadhan. Syair-syair yang dinyanyikan biasanya mengambil dari kitab Barjanji dan lagu daerah Banyuwangi.
Pembukaan festival patrol berlangsung lancar dan semarak, meski malam itu sempat diguyur hujan. Tak sedikit pun peserta terlihat beringsut dari tempatnya. Warga pun tetap membanjiri lokasi pembukaan tanpa menghiraukan dinginnya udara malam yang saat itu kembali diselimuti gerimis.
Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan alat musik terothok oleh Bupati Azwar Anas, dilanjutkan dengan penampilan anggota Polres Banyuwangi yang didaulat sebagai tamu kehormatan pada malam itu. Sontak, penampilan cantik dari korps berseragam coklat ini pun mengundang tepuk tangan para warga.
Di hari pertama, event ini digelar cukup meriah dengan menampilkan 12 grup penampil. Mereka semua akan perform sambil berjalan keliling kampung. Namun sebelumnya, masing-masing grup tersebut diberi kesempatan unjuk kebolehan bermusik dan bernyanyi di atas panggung.
Salah satunya, kontingen dari Kecamatan Muncar. Grup yang mengusung nama Patrol Gong Bambu ini tampil apik meski hanya berlatih satu minggu. “Kesempatan ini sudah lama kami tunggu, jadi saat mendengar ada festival patrol kami langsung membentuk grup dan berlatih serius,” kata Joko Budi Prakoso (43), koordinator kontingen saat ditemui sebelum acara.
Bupati Azwar Anas mengatakan festival patrol sengaja digelar untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang saat ini sudah mulai tergeser akibat perkembangan teknologi. Menurutnya, patrol adalah tradisi unik karena hanya bisa dijumpai saat bulan Ramadhan. “Patrol adalah tradisi kebersamaan yang harus kita lestarikan. Tradisi ini tidak hanya membangunkan orang untuk makan sahur, tapi juga menjaga keamanan lingkungan. Melalui festival semacam ini, kita coba membangkitkan kembali tradisi lama yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat akibat perkembangan IT,” kata Bupati Azwar Anas.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY. Bramuda mengatakan, festival patrol diikuti 24 grup patrol yang dihimpun dari seluruh kecamatan yang ada di Banyuwangi. Masing-masing grup, terdiri dari 12 orang yang memiliki keahlian berbeda-beda. Ada yang pegang seruling, therotok, gong, tempal, kentongan atau pethit.
Selain alat musik, festival ini juga disertai vokalis yang mengiringi musik patrol dengan sejumlah lagu-lagu bernafaskan Islami. Seperti muruk ngaji, tombo ati, muji syukur yang merupakan lagu wajib festival ini.
“Selama dua malam, para peserta akan berkeliling ke kampung-kampung. Setiap malam, ada 12 grup penampil,” ujar Bramuda.
Tadi malam (Minggu, 26/6), lanjut dia, grup penampil diantaranya adalah kontingen dari Kecamatan Muncar, Rogojampi, Banyuwangi, Giri, Genteng dan Tegaldlimo. Mereka start dari depan Stadion Diponegoro – finish Pendopo Kabupaten dengan melewati jalan kampung. Rutenya, Jalan Kapuas, Musi, Bengawan, Kali Lo, Kelurahan Pengantigan, Kelurahan Singotrunan. Selanjutnya, lewat Jalan Nias, Kelurahan Temenggungan menuju Pendopo.
Sedangkan malam kedua nanti (Senin, 27/6), giliran 12 kontingen lainnya, diantaranya dari Kecamatan Singojuruh, Kalipuro, Gambiran dan Wongsorejo. Mereka akan mengambil start dari tempat yang sama di depan Stadion Dipongoro – finish depan RTH Taman Makam Pahlawan. Tentunya melewati sejumlah kampung di wilayah ini, antara lain Jalan Jagung Suprapto, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Ikan Putihan.
“Diakhir acara, kita akan umumkan lima grup terbaik sebagai juaranya. Ini dinilai dari teknik penabuhan patrol, atraksi penampilan, harmonisasi antara irama musik dan gending yang dibawakan. Selain juga kekompakan, semangat dan ketertiban saat berpatrol. Tak hanya itu, kita juga akan pilih lima unggulan sebagai penyaji terbaik,” terang Bramuda.
Sebelum festival patrol, festival Ramadhan telah dimeriahkan sejumlah event beraroma religus lainnya. Mulai festival Hadrah Pelajar 10 - 11 Juni, Tartil Al Quran 9 - 27 Juni, dan Banyuwangi Islamic Expo dari 8 - 18 Juni 2016. Festival Ramadhan sendiri adalah rangkaian dari Banyuwangi Festival 2016. (Humas)