Puter Kayun Banyuwangi, Ritual Napak Tilas Sambil Naik Dokar

Jumat, 15 Juli 2016


Puter Kayun Banyuwangi, Ritual Napak Tilas Sambil Naik Dokar

BANYUWANGI – Masyarakat Using Banyuwangi memiliki banyak tradisi di bulan Syawal. Selain Seblang, Barong Ider Bumi, setiap usai Lebaran ada tradisi Puter Kayun. Puter Kayun adalah tradisi napak tilas masyarakat Using Boyolangu, Kecamatan Giri Banyuwangi dengan cara beramai-ramai naik delman.

Ritual ini digelar satu tahun sekali, tepatnya hari ke-10 bulan Syawal. Ratusan warga ini mengendarai dokar (delman) dari Kelurahan Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol sejauh lima belas kilometer.

Seperti siang tadi, Jumat (15/7), belasan dokar dihias aneka bunga cantik dan beragam asesoris yang menarik, layaknya andong wisata. Dokar-dokar ini adalah milik warga Boyolangu yang memang masih memegang adat Puter Kayun.

Puter Kayun dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dalam kesempatan itu, Bupati Anas mengatakan bahwa tradisi puter kayun yang masuk Banyuwangi  Festival ini berasal dari masyarakat yang tumbuh dari bawah.  

Bupati pun bangga bahwa tradisi puter kayun ini bisa masuk agenda besar Banyuwangi festival. Tradisi ini benar-benar prakarsa dari bawah dan pemerintah daerah akan terus mewadahi dan selalu nguri-nguri budaya yang telah tumbuh dan menjadi identitas masyarakat.

“Banyuwangi festival akan konsisten mengangkat tradisi lokal masyarakat setempat. Festival yang sifatnya tradisi lokal akan tetap kami gelar di daerah tersebut, bukan justru kami usung ke kota. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, ini juga sebagai cara untuk menumbuhkan banyak obyek atraksi wisata di Banyuwangi,” ujar Anas.

Selanjutnya Bupati Anas memecah kendi sebagai tanda dimulainya tradisi Puter Kayun. Anas mendapat kesempatan naik dokar utama, diikuti tamu dan warga desa lain yang ada di urutan belakangnya.

Sambil dokar berjalan, seluruh masyarakat Boyolangu berdiri mengiringi dokar-dokar di sepanjang jalan yang menjadi rute puter kayun. Sampai di urutan dokar terakhir, masyarakat pun bergeas mengikuti rombongan dokar-dokar ini hingga di pantai Watu Dodol.

“Ini tradisi leluhur yang sangat menyenangkan. Bisa bareng-bareng tamasya dan selamatan bersama di pantai Watu Dodol.  Dan ini harus kami ikuti sampai selesai ritual Puter Kayunnya, dan kembali bersama-sama pula,” ujar Ahmad, salah seorang warga asli Boyolangu.     

Setelah sampai di Pantai Watu Dodol, mereka juga menggelar selamatan dengan makan bersama di sepanjang pantai sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang mereka dapatkan selama setahun terakhir.

Selain selamatan, sebagian tokoh adat juga menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal saat pembuatan jalan. Tradisi tersebut ternyata juga menjadi ajang berlibur dan bersilaturahmi bagi mereka yang tak sempat bertemu selama Lebaran.

Dikatakan ketua adat Puter Kayun Mohamad Ikrom, rute yang dilalui parade delman ini menyusuri jejak dari leluhurnya, Ki Buyut Jakso. "Konon, Dulu membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," ujar Ikrom.

Sejak itu, lanjut Ikrom, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya. "Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar. Hingga ada yang menyebut puter kayun ini sebagai lebarannya kusir dokar,” ujarnya.

Sebelum pelaksanaan puter kayun, tradisi ini diawali sejumlah ritual. Dimulai dari tradisi kupat sewu (seribu ketupat) yang digelar tiga hari sebelum puter kayun. Dalam kupat sewu ini, masyarakat Boyolangu membuat ketupat, lepet dan makanan lain sebagai pelengkap. Tiap rumah membuat kupat dan lepet untuk dibagi-bagikan kepada tetangga dan saudara. Selain dibagikan ketupat ini juga untuk selamatan yang digelar disepanjang jalan desa.

“Dalam selamatan yang digelar pada Selasa 12 Juli lalu, warga menggelar tikar di depan rumah masing-masing dan menyajikan kupat. Jika dihitung, ada lebih seribu kupat yang disajikan dalam selamatan ini. Tujuannya, tentu agar warga selamat dan diberi rezeki yang berlimpah serta terbebas dari musibah,” kata Ikrom. 

Keesokan harinya, Rabu 13 Juli dilanjutkan dengan arak-arakan beragam budaya mengelilingi kampung. Mulai dari tapekong, kebo-keboan, kuntulan, barong, ondel-ondel, gandrung, hadrah dan patrol semua ditampilkan. Rangkaian berikutnya, mereka berziarah ke makam Buyut Jakso yang ada di Boyolangu, lalu dilanjutkan dengan tradisi Puter Kayun. (Humas)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :