Raperda Cagar Budaya Disahkan, Langsung Lakukan Penata
Rabu, 23 April 2014
BANYUWANGI - Setelah Raperda Cagar Budaya diresmikan, Pemkab Banyuwangi langsung melakukan langkah cepat dengan melakukan menggelar pertemuan bersama budayawan dan pemerhati cagar budaya. Pertemuan itu dihadiri Bupati Abdullah Azwar Anas, budayawan Hasnan Singodimayan, Bambang Lukito dan Hasan Basri serta pemerhati cagar budaya Ika Ningtyas.
Dalam pertemuan tersebut Bupati Anas mengatakan akan segera melakukan beberapa langkah penataan cagar budaya yang ada di Banyuwangi. Salah satunya dengan membuat peta arkeologi Banyuwangi. “Ada 286 situs cagar budaya di Banyuwangi belum termasuk bangunan-bangunan bersejarah. Dengan peta arkeologi akan memudahkan wisatawan untuk dapat mengetahui lokasi cagar-cagar budaya,” kata Bupati Anas.
Selain membuat peta arkeologi, Pemkab juga berupaya mengumpulkan benda-benda bersejarah yang ada di masyarakat. Tidak hanya berupa benda, termasuk data-data bersejarah. “Kita sedang mengatur langkah untuk itu, akan ada tim yang merumuskan. Termasuk pemberian reward bagi masyarakat yang bersedia mengembalikan,” ujar Bupati.
Penandaan atau pembuatan ‘tetenger’ juga akan dilakukan di beberapa lokasi cagar budaya. Sebab banyak benda-benda yang menjadi tetenger rusak maupun diambil orang. “Salah satunya kita membuat penandaan di Situs Macan Putih,” cetusnya.
Bupati melanjutkan dalam melakukan penataan, tidak hanya memperhatikan aspek keberadaan bendanya namun juga aspek histografinya. Yakni bagaimana mengisahkan cerita yang ada di balik benda atau situs cagar budaya itu. “Sebuah situs cagar budaya menjadi menarik untuk dikunjungi karena cerita yang dibawanya, nanti kisah-kisah ini harus disosialisasikan dan wajib dikuasai oleh para tour guide,” ucap Bupati.
Penataan cagar budaya ini kata Bupati tidak hanya sebagai upaya melestarikan nilai-nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan namun sebagai langkah menyiapkan destinasi wisata baru bagi peminat sejarah. “Ini sebagai alternatif wisata yang ada di Abnyuwangi. Kalau wisata alam atau wisata buatan mungkin akan ada masa jenuhnya, namun pariwisata sejarah telah terbukti di banyak negara tak pernah sepi dari pengunjung,” pungkas Bupati.