Ratusan Mahasiswa FKH Unair Surabaya Jalani Pengabdian Masyarakat di Banyuwangi
Senin, 3 Agustus 2015
BANYUWANGI - Ratusan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mendatangi Banyuwangi, Senin (3/8). Kedatangan mereka yang langsung diterima Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendopo Sabha Swagata Blambangan tersebut bukan tanpa maksud. Mereka akan terjun langsung ke tengah masyarakat untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini.
Menariknya, kegiatan ini tak hanya diikuti mahasiswa Unair saja, melainkan juga beberapa mahasiswa asing (program pertukaran mahasiswa) asal Taiwan dan Malaysia, serta mahasiswa dari universitas lain di Indonesia (Universitas Mataram-NTB dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya).
Dekan FKH Unair Prof Hj Romziah Siddiq, Phd, drh mengatakan, mahasiswa Unair telah sejak tahun 2007 rutin mengikuti program pengmas, baik pengmas berskala nasional maupun internasional. Seperti pengmas kali ini yang melibatkan mahasiswa asal luar negeri. "Di sini mereka akan banyak belajar menangani berbagai hewan. Tak hanya hewan komoditas,dan hewan peliharaan (pet), tapi juga hewan wildlife, mengingat Banyuwangi punya beberapa Taman Nasional,"ujar Romziah.
Mengapa Banyuwangi yang dipilih sebagai lokus pengmas salah satu universitas negeri ternama di Indonesia tersebut? Menurut Romziah, dari lumbung ternak yang ada di Indonesia, 30 persennya ada di Jawa Timur.
Jika sebelumnya Pujon - Malang yang disasar, kali ini Banyuwangi. Hal itu dikarenakan, ke depan Banyuwangi dengan segala potensi ternaknya juga diproyeksikan menjadi lumbung ternak.
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Peternakan Banyuwangi, populasi sapi potong di Banyuwangi hingga triwulan II tahun 2015 sebanyak 107.949 ekor. Jumlah itu mencakup sapi jantan 34.438 ekor dan sapi betina 73.511 ekor. Sementara sapi perah jumlah betinanya 748 ekor dan sapi jantannya 120 ekor. Total jumlahnya 868 ekor.
Populasi kerbau total mencapai 3895 ekor, dengan jumlah pejantan 1.485 ekor dan betina 2.410 ekor. Populasi kuda jumlah pejantan 318 ekor dan 208 betina ekor, sehingga totalnya mencapai 526 ekor. Populasi unggas (ayam buras 1.219.281 ekor, ayam ras petelur 574.313 ekor, ayam ras pedaging 664.765 ekor, itik 314.326 ekor, dan entok 19.522 ekor). Sedangkan populasi aneka ternak seperti kelinci 8.557 ekor, burung puyuh 56.414 ekor , dan burung dara 22.255 ekor.Jumlah itu tersebar di 24 kecamatan yang ada di Banyuwangi.
Mahasiswa FKH Unair yang total berjumlah 240 orang tersebut akan disebar di 7 desa di Kecamatan Kalipuro dan 12 desa di Kecamatan Wongsorejo. Wongsorejo dan Kalipuro merupakan dua wilayah yang populasi sapi potongnya cukup tinggi. Di Kalipuro, jumlah sapi potong total mencapai 18.004 ekor, sedangkan di Wongsorejo total mencapai 24.162 ekor.
Dua kecamatan tersebut sebelumnya juga merupakan daerah kantong kemiskinan di Banyuwangi. Sebelum Bupati Anas menjabat sebagai bupati, dua daerah tersebut tingkat kemiskinannya tinggi, bahkan tingkat kemiskinan di Kalipuro hingga mencapai 40 persen. Namun kini kondisinya sudah lebih baik, dengan tingkat kemiskinannya tinggal 4 persen saja. Dalam program pengmas yang bertemakan Banyuwangi Veterinary Project 'Next Stock Source of Java' tersebut, mereka akan terlibat langsung dalam penanganan kesehatan ternak warga. Tidak tanggung-tanggung, mereka akan berada di Banyuwangi selama 7 hari (3 - 9/8).
Sementara itu, Bupati Anas memberikan apresiasinya terhadap program pengmas yang diselenggarakan
oleh FKH Unair Surabaya tersebut. Dirinya bahkan dengan sengaja meluangkan waktu untuk hadir menemui para peserta pengmas karena merasa program ini sangat penting, dan melibatkan orang-orang muda yang berkompeten di bidangnya.
"Ini adalah langkah yang bagus. Saya berharap, lewat pengmas ini dunia kampus bisa terlibat sungguh-sungguh, supaya ini jadi pengalaman dalam memecahkan masalah. Tak hanya sekedar menggugurkan kewajiban,"tandasnya.
Apalagi, tambah bupati, tahun 2016 nanti pemkab akan fokus pada pengembangan ekonomi dan pengembangan SDM. "Semoga kehadiran anda disini menjadi inspirasi dan menyuntikkan semangat bagi
warga yang tinggal di desa-desa terpencil,"katanya. Bupati juga berharap, daerah yang dijadikan lokasi pengmas bisa mendapatkan manfaat dari program tersebut.
Bupati Anas dalam kesempatan itu juga menggambarkan bahwa 2 kecamatan yang dituju (Kalipuro dan Wongsorejo) punya tipikal dan kultur yang khas terkait penanganan hewan ternak mereka. Dimana sebagian besar menempatkan kandang ternaknya sangat berdekatan dengan tempat tinggalnya. Hal itu mereka lakukan agar mudah mengontrol ternaknya dan menghindarkannya dari pencurian. “Tinggal bagaimana anda mengemas penjelasan pada masyarakat agar tak terkesan menggurui, dan masyarakat terkesan akan kehadiran anda,” ujar bupati.
Salah seorang peserta yang merupakan program pertukaran mahasiswa, Chiahfu mengatakan, program
ini sangat menarik baginya. "It's perfect. Saya jadi belajar mengenal kultur daerah lain yang bermacam-macam dalam menangani ternaknya,"tandas Afu, sapaan akrabnya.
Berada di Banyuwangi juga membuat mahasiswa semester 7 asal National Ping-Tung University of Science and Technology (NPUST) Taiwan itu senang. "It will be a good experience, lots of memory in this beautiful city (ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, banyak kenangan yang akan saya peroleh di kota yang indah ini)," pungkasnya. (Humas & Protokol)