Ratusan Mahasiswa Unair Timba Ilmu Keanekaragaman Budaya di Banyuwangi

Sabtu, 3 Oktober 2015


BANYUWANGI - Ratusan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menimba ilmu membuat kebijakan publik terkait pengembangan budaya di Banyuwangi. Mereka yang tergabung dalam program study excursie ini  belajar bagaimana mengelola segala potensi budaya dan permasalahan yang timbul di suatu daerah.

Diterima langsung Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di Pendopo, Sabtu (3/10) 350 mahasiswa dari berbagai fakultas ini langsung melakukan dialog. Mereka menanyakan sejumlah kebijakan yang dibuat Banyuwangi. Mulai dari mengenalkan budaya Banyuwangi secara massif, pengelolaan tambang, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi. 

Seperti yang ditanyakan salah seorang mahasiswa Unair asal Mojokerto yang bertanya bagaimana strategi seorang Bupati Anas mampu menghadapi penolakan yang muncul dalam masyarakat terhadap kebijakannya. Anas pun dengan lugas menjawab bahwa salah satu seni dalam memimpin sebuah daerah adalah seorang pemimpin dilarang bosan dan harus ajeg setiap saat menyampaikan alasan dan tujuan kebijakan ini dibuat.

“Kapan pun dan di acara pun kami harus menjelaskan setiap keputusan yang kami buat, karena orang Banyuwangi itu pada dasarnya memiliki budaya kritis. Seperti masalah tambang Tumpang Pitu lalu, saat masyarakat mulai banyak yang mempertanyakan, kami langsung buka line dan dialog interaktif dengan seluruh radio di Banyuwangi. Dengan harapan selain masyarakat tahu maksud kami, mereka juga bisa menyampaikan aspirasi dan unek-uneknya secara langsung ke kami,’ kata Anas.

Anas pun dalam kesempatan itu juga menjelaskan bahwa pembangunan di Banyuwangi dilakukan melakukan pendekatan budaya. Kebudayaan kita bangun dan kita kemas dengan cantik, agar masyarakat menjadi bangga dengan kebudayaannya sendiri. “

“Gandrung saat kita kemas menjadi Gandrung Sewu akhirnya menjadi sebuah gelaran nasional. Semua orang dari berbagai daerah datang ingin menyaksikan tontonan yang apik ini. Otomatis mengangkat budaya kita, di samping para penari Gandrungnya pasti akan bangga karena telah dipentaskan di panggung nasional. Ini salah satu cara kami melakukan konsolidasi budaya,” kata Anas.

Sementara itu,  Direktur PDD (pendidikan di luar domisili) Unair di Banyuwangi Tjitjik Srie Tjahjandarie bahwa study excursie bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih kepada mahasiswa. Dengan kunjungan belajar ini, mahasiswa diharapkan bisa mengerti mengenai penerapan serta pengaplikasian sari ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan prakteknya di lapangan.

“Banywuangi sengaja kami pilih, karena kami melihat komitmen pemkab di sini dalam mengembangkan potensi, khususnya budaya sangatlah tinggi. Ini kami perlukan agar mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini bisa bertambah wawasan kebangsaan dan nasionalisme mereka. Bahwa budaya dan potensi yang dimiliki tiap daerah harus menjadi kebanggan di setiap warganya,” kata Tjitjik.

Ratusan mahasiswa ini merupakan hasil seleksi dari 5.700 mahasiswa se-Unair. Mereka yang terpilih, sebelumnya membuat karya tulis tentang kepedulian terhadap program pengembangan budaya, lalu mempresentasikannya.

Selain berdialog langsung dengan Bupati Anas, mereka akan melakukan city tour ke sejumlah kantong suku-suku yang ada di Banyuangi. “Mereka juga akan berkunjung ke Kampung Mandar, dan akan bermalam di Desa Kemiren untuk melihat bagaimana masing-masing etnis tersebut beraktivitas. Ini akan memahamkan mereka tentang keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia,” pungkas Tjitjik. (Humas Protokol) 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :