Ratusan Pecinta Kopi Antusias Nonton Bareng ‘Aroma of Heaven’

Minggu, 18 Desember 2016


BANYUWANGI – Acara nonton bareng film dokumenter ‘Aroma of Heaven’, Sabtu malam (17/12), berlangsung sukses. Ratusan orang dari berbagai komunitas, khususnya komunitas pecinta kopi terlihat antusias dan menikmati event yang digelar di Gedung Wanita Banyuwangi tersebut.

Sebelum nobar dimulai, sang sutradara, Budi Kurniawan memberikan sambutan pembuka. Budi mengatakan, film ‘Aroma of Heaven’ yang berjudul asli  ‘Biji Kopi Indonesia’ ini dibuat untuk  memperlihatkan kopi sebagai salah satu komoditas penting Indonesia. Selain itu juga merepresentasikan keberagaman budaya dan tradisi bangsa Indonesia yang berakar pada kopi.

Film ini, ujar Budi, menggambarkan lebih dari sekedar asal-usul kompleksitas cita rasa kopi. Tak hanya bicara tentang trend dan gaya hidup meminum kopi masa kini. Tapi mengajak penikmatnya untuk mengetahui seberapa dekat mereka mengenal kopi yang dikonsumsi sehari-hari.

“Film berdurasi 65 menit ini akan membawa kita ke tempat-tempat yang belum pernah terekspose sebelumnya. Juga mengajak kita menjadi lebih dekat dengan kopi lewat pendekatan tradisi, seni budaya, keyakinan adat bahkan keimanan yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Budi.

Pembuatan film ini, tutur Budi, berawal dari keingintahuan mendalam untuk mendokumentasikan perjalanan kopi Indonesia yang memiliki sejarah lebih dari 300 tahun sejak pertama kali ditumbuhkembangkan di Indonesia. Mulai dikompilasi sejak tahun 2011, meski banyak rintangan yang dihadapi, akhirnya film ini berhasil terselesaikan dan dirilis tahun 2014. Sejumlah tokoh  dari berbagai disiplin ilmu turut menjadi pelaku dalam film dokumenter ini. Di antaranya sumber sejarah baik lokal maupun internasional, petani tradisional, para akademisi mulai dari ahli filsafat, antropolog, pertanian, hingga pebisnis.

“Berbagai daerah di Indonesia yang punya potensi kopi, kami eksplore. Karena itu tak heran jika dalam film ini terdapat berbagai bahasa daerah. Mulai dari Jawa, Sunda, Gayo, sampai Using. Selain itu juga kami gunakan bahasa Belanda dan Inggris,” kata Budi.

Menariknya, proses syuting  film ini juga dilakukan di Banyuwangi. Yakni di Perkebunan Kopi Kali Bendo dan  di Desa Adat Kemiren. Diceritakan bahwa sejak dahulu, tradisi minum kopi di Banyuwangi telah menjadi tradisi warga setempat dalam menyambut tamu. Tradisi ini diperkuat dengan filosofi warga ‘Sak Corot Dadi Seduluran’ dimana dengan meminum kopi yang disuguhkan menjadi simbol penyambung silaturahmi dan menambah persaudaraan.

Berkat tangan dingin Budi dan timnya, ‘Aroma of Heaven’ berhasil meraih sejumlah penghargaan di tingkat internasional. Antara lain sebagai Best Editing Award  Ahvaz International Science Film Festival di Iran pada 2015. Juga sebagai Best Documentary Award Hainan International Maritime Silk Road Film Festival di China pada 2015. Film ini juga diiikutkan pada sejumlah kompetisi film dokumenter lainnya di Laos, Canada dan Philadelphia.

Rifqi Nuril Huda adalah satu di antara peserta yang menyatakan rasa senangnya bisa mengikuti kegiatan ini. “Saya beruntung bisa ikut acara yang mengedukasi kita tentang kopi ini. Tadinya pengetahuan saya soal kopi minim sekali, karena selama ini saya hanya penikmat yang hanya bisa merasakan, kopi ini enak nggak di lidah saya. Selebihnya saya tidak tahu banyak,” kata anggota komunitas Mata Indonesia yang hadir beramai-ramai dengan beberapa rekannya ini.

Baginya, film besutan sutradara BudFilm dan Produksi Film Negara (PFN)  ini sangat menginspirasi. Karena disitu dijelaskan sejarah kopi di Indonesia. Termasuk keragaman kopi Indonesia di berbagai daerah yang ternyata sangat disukai pecinta kopi dunia. Seperti kopi Gayo, Toraja dan Banyuwangi. “Saya jadi tahu dari film ini, ternyata kopi Banyuwangi juga termasuk yang sangat diminati. Saya makin bangga menjadi orang Banyuwangi,”tandas Rifqi yang mengaku berencana membuka warung kopi lokal  bersama teman-teman sesama komunitasnya. (Humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :