Ratusan Relawan Ikuti Gelar Relawan Penanggulangan Bencana
Rabu, 2 Oktober 2013
BANYUWANGI – Ratusan relawan berkumpul di GOR Tawangalun Banyuwangi untuk mengikuti gelar relawan penanggulangan bencana, hari ini, Rabu (2/10). Mereka terdiri dari berbagai unsur seperti organisasi kemasyarakatan, umum, SAR, pecinta alam, kalangan media, lintas agama dan organisasi kepemudaan.
Menariknya, yang terlibat dalam event ini tak hanya relawan asal Banyuwangi saja, tapi juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa dan Bali, relawan dan organisasi sosial kemasyarakatan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.
Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana - BNPB, Dodi Ruswandi yang hadir mewakili Kepala BNPB Samsul Ma’arif, Msi, mengatakan gelar relawan rutin diadakan setiap tahun di kabupaten/kota yang rawan bencana, dengan tempat yang berbeda-beda. “Banyuwangi salah satunya. Sebab daerah ini pada tahun 2012 berpotensi terdampak letusan 2 gunung api sekaligus, yakni Gunung Raung dan Ijen. Selain itu pada tahun 1994 silam, salah satu kawasannya pernah terkena tsunami yang cukup parah. Belum lagi bencana lain yang kerap menimpa seperti tanah longsor, banjir, angin puting beliung dan kekeringan,” jelas Dodi. Dodi juga menegaskan, kepala daerah memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan apabila terjadi bencana. “Kami dan seluruh relawan akan merapat untuk membantu jika terjadi bencana nasional,”tandasnya.
Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas menyatakan kegembiraannya atas berkumpulnya para relawan dari berbagai kota di Banyuwangi. “Pertemuan ini menjadi wahana saling silaturahmi antar pembina relawan dan relawan. Kami berharap, para pembina relawan dan relawan ini bisa teridentifikasi dan terinventarisir jumlahnya. Karena meski tanggung jawab atas terjadinya bencana ada di pundak pemerintah daerah, masyarakat juga merupakan garda terdepan yang akan bersinergi dengan kami, di samping kerjasama dengan seluruh stakeholder ( pemangku kepentingan, Red),”tutur bupati yang mengaku secara bertahap akan terus bekerja sama dengan pihak swasta dalam penanganan bencana.
Kegiatan ini direncanakan akan berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 2 hingga 4 Oktober mendatang. Diawali dengan apel gelar relawan di lapangan outdoor GOR Tawangalun yang diikuti oleh 3000 orang peserta apel dari unsur TNI/Polri, pelajar, mahasiswa, relawan, organisasi kemasyarakatan, acara dilanjutkan dengan sesi akademik yang diikuti 650 relawan di lapangan tenis indoor GOR Tawangalun.
Beberapa materi terkait kebencanaan, seperti Peran Lembaga Relawan dalam Penanggulangan Bencana, Kondisi dan Situasi Gunung Raung dan Ijen, Ancaman Tsunami di Lautan Selatan Jawa dibawakan oleh para nara sumber yang kompeten di bidangnya. Antara lain Dodi Ruswandi, Sugeng Tri Utomo dan Tri Budiarto (pakar kebencanaan), Subandono Dipo Saptono (Dirut Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan), dan Muhammad Hendrasto (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Tidak itu saja, relawan juga akan mengikuti diskusi cluster, baik internal maupun antara cluster, serta simulasi SOP antara cluster relawan.
Seluruhnya ada total 16 tenda yang dibagi atas 8 cluster pelatihan. Ke-8 cluster tersebut diantaranya cluster informasi komunikasi, pelatihan tim rescue dan evakuasi, pendampingan psikologi, shelter, dan logistik. Tiap relawan dibagi sesuai kompetensinya, agar benar-benar dalam menjalankan tugasnya di lapangan. Tak heran jika para relawan berasal dari berbagai bidang, seperti PMI, Bulan Sabit Merah, Pecinta Alam, Resimen Mahasiswa (Menwa), Pramuka, Senkom Mitra Polri, dan Artha Graha Peduli. (Humas & Protokol)