Ribuan Masyarakat Pancer Gelar Ritual Petik Laut

Sabtu, 23 September 2017


BANYUWANGI - Ribuan masyarakat Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran kembali menggelar ritual Petik Laut, dengab melarung sesaji ke tengah laut. Ritual digelar Pantai Pancer (23/9). Yang istimewa dari ritual ini karena dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiyatmoko dan ikut dalam ritual. Petik laut adalah ritual larung sesaji ke tengah laut. Ritual ini digelar setiap satu tahun tepatnya tiap satu Syura atau satu Muharam kelender Islam. Ritual ini digelar sebagai bentuk wujud syukur masyarakat kepada Tuhan YME atas rezeki yang melimpah. Juga sarana berdoa agar diberikan keselamatan saat mereka beraktifitas dilaut. Ritual ini, telah dilakukan sejak empat puluh satu tahun yang lalu, yang dilakukan mulai dari para sesepuh hingga warga Pancer yang bekerja sebagai nelayan. Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko mengapreasi semangat warga yang masih melestarikan adat trasional ini. "Masyarakat Pancer ini hebat, dengan swadaya sendiri bisa mengemas ritual ini menjadi sebuah even yang bisa menarik masyarakar lain untuk datang ke sini," kata Wabup. Kalau sudah menjadi even tahunan agenda Banyuwangi Festival, kata Wabup, petik laut Pancer bisa dilaksanakan lebih kreatif. “Saya harap tahun depan bisa lebih kreatif, sehingga bisa menjadi destinasi baru yang bisa dikunjungi wisatawan," kara Wabup. Dalam ritual ini, Wabup yang didampingi Forum Pimpuan Kecamatan Pesanggaran dan tokoh masyarakat, menyematkan anting – anting dan pancing emas di kepala kambing yang sudah disembelih. Selanjutnya kepala kambing tersebut ditempat pada sampan (perahu) kecil bersama sesaji lainnya untuk diarak menuju pinggir pantai Pancer. Dengan mengucap bismillah, Wabup langsung memotong tali pengikat sampan yang berisi sesaji dan kemudian sampan dilarung hingga ke tengah laut. Ditambahkan Ketua Paguyuban Rukun Nelayan Pantai Pancer, Husni Tamrin dalam ritual ini, warga bisa menggelar petik laut selama tujuh hari. Mulai dari bersih dusun, doa bersama lima agama, khataman, wayang kulit, larung sesaji hingga pentas hiburan rakyat."Dan itu sudah wajib dan tidak boleh ditinggalkan,"pungkasnya.(*)


Berita Terkait

Bagikan Artikel :