Ribuan Orang Napak Tilas, Susuri Jalur Perang Puputan Bayu
Minggu, 29 Desember 2013
SONGGON - Ribuan orang napak tilas menyusuri sepanjang jalur perang Puputan Bayu, Minggu (29/12). Menempuh jarak 7 Km yang terdiri atas 2 Km jalan aspal dan 5 Km jalan setapak di tengah hutan mulai dari Lapangan Sragi hingga Rowo Bayu, seluruh peserta terlihat bersemangat dan menikmati sepanjang jalur yang dilalui.
Anang, salah satunya. Peserta yang berasal dari grup Palang Merah Indonesia (PMI) ini mengatakan, ada tantangan tersendiri yang dirasakannya bersama rekan-rekannya dalam napak tilas ini. Dan ini adalah kelima kalinya dia ikut memeriahkan napak tilas Puputan Bayu. "Napak tilas dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang ke 242 kali ini jalurnya lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi jalan yang dilalui sudah jauh lebih baik, kalau dulu kan rusak parah,"ujar lelaki yang membawa serta 13 rekannya (2 regu) dalam kegiatan ini.
Tak hanya Anang yang mengaku terkesan dengan kegiatan ini. Peserta lain pun juga tampak all out mempersiapkan event yang berlangsung setahun sekali ini. Ada regu yang sengaja berpakaian Bhinneka Tunggal Ika, dan ada yang mengecat wajahnya dengan cat berwarna gelap serta memodifikasi kostumnya dengan botol minuman. Jadi botol minuman tak perlu dibawa-bawa di tangan, melainkan digantung layaknya ransel di punggung serta dilengkapi dengan selang kecil yang panjang agar memudahkan dihisap jika si peserta kehausan.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi peran serta seluruh peserta yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari dinas/instansi, pelajar, mahasiswa dan umum. "Kita bisa memaknai napak tilas ini sebagai upaya meningkatkan semangat dan jiwa patriotisme dengan cara yang lain," ujar Bupati Anas yang dalam kesempatan itu didampingi anggota Forum Pimpinan Daerah, pejabat komponen Pemkab Banyuwangi, para kepala SKPD dan camat.
Seolah tak mau melewatkan moment bersejarah ini, seluruh warga desa yang tempat tinggalnya dilalui peserta napak tilas dengan sukarela menyediakan makanan dan minuman di tepi-tepi jalan. Juga menyalakan berbagai musik untuk makin menyemarakkan suasana. Menariknya, Bupati Anas beserta rombongan juga ikut berjalan bersama peserta sejauh 1 Km.
Perlu diketahui, perang besar-besaran di daerah Bayu yang dinamakan perang Puputan Bayu terjadi pada tahun 1771 - 1772. Bangsa Belanda meyakini perang ini sebagai perang yang paling kejam dan meminta banyak korban jiwa. Orang Blambangan yang tak rela tanahnya diinjak-injak penjajah, berbekal pedang dan tombak di tangan, berusaha mempertahankan wilayahnya sekuat tenaga.
Pada tanggal 17 Desember 1771, VOC mendatangkan tentaranya dari Batavia, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan semua adipati taklukannya di pesisir timur Jawa Timur termasuk Madura. Ada 10 ribu tentara VOC yang datang ke Blambangan. Perang yang terjadi mengakibatkan Pangeran Jogopati, Patih Jaga Lara, Sayu Wiwit dan hampir semua pasukan gugur. Banyak kepala pejuang Blambangan terpisah dari lehernya serta dipajang di turus-turus pagar dan digantung di pepohonan. Sebanyak 60 ribu rakyat Blambangan gugur, padahal jumlah penduduk Blambangan ketika itu tak lebih dari 65 ribu orang.
Meski begitu, pejuang Blambangan terus berjuang merangsek maju, menyebabkan tentara Belanda ciut nyali. Banyak dari mereka yang kemudian meregang nyawa. Benteng-benteng musuh digempur hingga tak ada yang tersisa. Akhirnya, berdasarkan cerita tersebut, DPRD Banyuwangi pada sidangnya tanggal 9 Mei 1995 lewat cara aklamasi menetapkan 18 Desember sebagai hari jadi Banyuwangi. (Humas & Protokol)