Said Aqil Siraj Tasyakuran HUT RI Di Pendopo Shaba Swagata

Jumat, 16 Agustus 2013


BANYUWANGI – Menyambut Dirgahayu ke-68 Kemerdekaan RI, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar tasyakuran bersama di Pendopo Shaba Swagata Blambangan. Menariknya, tasyakuran dengan ratusan tumpeng ini, selain dihadiri Bupati  Abdullah Azwar Anas, Wabup Yusuf Widiatmoko, Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), Sekkab Slamet Kariyono, dan seluruh satker, veteran  serta semua tokoh masyarakat dan agama serta masyarakat, hadir pula Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

Dalam kesempatan ini, Ketua PBNU ini menyampaikan tausiyah tentang makna kemerdekaan. Salah satunya, menyerukan untuk Indonesia menjadi negara yang damai. Sama halnya dengan  keinginan Rosululloh Nabi Muhammad SAW yang telah menegakkan negara yang damai, yakni Madani. “Sama seperti Indonesia yang beragam suku, tetapi ukuwah sebangsa setanah air harus nomor satu,” terang Said Agil.

Kita semakin hari harus semakin yakin Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk Banyuwangi yang memiliki kekayaan banyak harus dijaga. “Keberagaman di Indonesia merupakan anugerah. Karena Islam diturunkan untuk menghargai martabat kehormatan manusia. Mudah-mudahan kita tetap menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Ayo kita pertahankan budaya kita,” ujarnya.

Sekedar diketahui, sebelum makan tumpeng, dilakukan tahlil bersama yang dipimpin Habib Ba’abud dilanjutkan pemberian santunan kepada yatim piatu dan sembako kepada kaum dhuafa. Dalam tasyakuran kali ini, Bupati Anas memberikan kesempatan kepada salah seorang pejuang kemerdekaan yang sudah berusia 87 tahun, Mohamad Bahar untuk memberikan testimoni tentang makna kemerdekaan.  Dengan mengucap pekik merdeka, pejuang yang masih terlihat bugar di usia senja ini, menyatakan tekadnya untuk membela negara ini sampai mati. “Di laut, di darat, kita tetap belani negara ini,” ucapnya.(Humas dan Protokol)  



Berita Terkait

Bagikan Artikel :