Sambut Marketplace UMKM, Banyuwangi Latih 5000 Warga Berbisnis Pakai Bahan Lokal
Kamis, 17 Maret 2016
BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi terus mendorong tumbuhnya perekonomian rakyat. Mengoptimalkan potensi lokal, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu melatih 5.000 warga dengan beragam ketrampilan mengolah bahan lokal setempat. Warga didorong menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang nantinya pemasarannya melalui situs marketplace UMKM Banyuwangi yang kini sedang dikembangkan desainnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan Banyuwangi Harry Cahyo mengatakan, pelatihan ini digelar untuk melahirkan wirausahawan baru. "Kami mendorong agar rakyat memiliki bekal untuk berwirausaha. Seiring dengan perkembangan pesat pariwisata kami, industri kreatif menjadi pelengkap pertumbuhannya," ujar Harry.
Hingga pertengahan tahun ini, kata Harry, akan ada 53 pelatihan memanfaatkan bahan-bahan lokal. Mulai dari membatik, pengolahan komoditas pertanian, ikan laut, hingga pemasaran produk. "Pelatihan ini berbasis potensi desa. Desa penghasil buah naga misalnya kami ajarkan bagaimana membuat produk olahannya. Desa yang berada di pesisir, kami datangkan tenaga ahli untuk membekali ketrampilan mengolah ikan," ujar Hary.
Seperti di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo, para perempuannya diajarkan bagaimana membuat mie dari buah naga. Mie yang biasa kita tahu berwarna kuning, menjadi merah sesuai warna buah naga. "Dengan produk olahan, nilai tambahnya semakin tinggi. Misalnya, ketika harga buahnya sedikit menurun, produk olahannya bisa lebih menguntungkan," kata Harry.
Begitu juga pemuda di Desa Kabat, mereka diajarkan mengolah batok kelapa. Kulit kelapa ini diolah menjadi pernak-pernik barang rumah tangga, mulai dari sendok, mangkok, juga gayung. "Batok ini juga dibentuk menjadi hiasan rumah bentuk burung. Semua produk itu nanti pemasarannya difasilitasi lewat market place UMKM Banyuwangi yang dalam waktu dekat akan diluncurkan," ujar Harry.
Ditambahkan Hary, pelatihan ini digelar di sejumlah desa. Usulan materi pelatihan ini pun datang dari warga desa. "Lewat Musyawarah Perencanaan Pembangunan di tingkat desa, warga desa ini mengajukan pelatihan yang diingini. Mereka sesuaikan dengan potensi yang mereka miliki, sehingga materialnya mudah didapat," jelas Harry.
Dia menambahkan, ada 10 bidang keahlian yang bisa diikuti oleh para peserta. Yakni pelatihan batik, teknologi bordir, konveksi, olahan hasil pertanian, dan teknologi agro. Juga ada pelatihan tentang aneka kerajinan, olahan ikan, pembuatan paving, serta pemasaran produk lewat IT. "Pada hari ini (Kamis-17/3), kita juga menggelar pelatihan membatik menggunakan pewarna alam di Desa Bakungan. Para pembatik ini juga mulai kami dorong menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Akan memberi nilai lebih pada produknya," ujar Komang.
Dia mengatakan, dalam melaksanakan beragam pelatihan produk khas UMKM tersebut, pihaknya bekerjasama dengan Balai Besar Batik Yogya, Balai Besar Industri Kreatif Denpasar, Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Balai Diklat Kemenperin, serta menggandeng sejumlah lembaga pengabdian masyarakat perguruan tinggi. (Humas)