Sambut MEA, Banyuwangi Beri Kursus Bahasa Asing Bagi Warga Desa
Kamis, 21 Mei 2015
BANYUWANGI – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata. Pemerintah Banyuwangi pun menyiapkan warganya dengan membekali ketrampilan berbahasa asing. Di setiap desa di Banyuwangi, kini disediakan kursus bahasa asing. Bahasa Inggris, Mandarin, dan Arab.
Masyarakat pun sangat antusias menyambut kursus gratis ini. Itu terlihat ketika ribuan orang mendatangi peluncuran Kursus Bahasa Asing Berbasis Desa di pendopo Kamis (18/5). Mulai dari pemuda, ibu rumah tangga, hingga guru-guru PAUD.
Seperti yang diutarakan oleh Fauzi (21). Pemuda yang berprofesi sebagai petani ini mengatakan sangat senang saat pemkab memberikan pelatihan bahasa inggris di desanya. “Meski saya petani, saya merasa perlu bisa pintar bahasa Inggris. SMA dulu juga dapat pelajarannya, tapi kalau lewat kursus kan lebih bisa cepat trampilnya karena langsung praktek satu-satu,” ujar pemuda asal Glenmore ini.
Kursus bahasa asing ini tingkat desa dan kelurahan ini diselenggarakan di 217 desa dan kelurahan yang ada di Banyuwangi. Satu desa melaksanakan satu kursus bahasa dengan satu tutor. Jadwal pertemuan seminggu 3 kali. “Pengajarnya kami ambilkan dari guru bahasa dan Lembaga Kursus dan Pelatihan. Desa silakan memilih satu bahasa sesuai minatnya. Bila ada warga yang memilih bahasa lain, silakan datang ke desa sebelah,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Ditambahkan Anas, kursus bahasa ini digelar di tingkat desa sebagai upaya untuk memfasilitasi warga desa bisa berkomunikasi bahasa internasional. “Selama ini kesannya kursus hanya bisa dijangkau warga kota dan biayanya mahal. Karena itu, kami sengaja membuat kursus gratis berbasis desa, yang lokasinya dekat dengan tempat tinggalnya,” kata Anas.
Lokasi kursus pun dilaksanakan sesuai kesepakatan warga, ada yang di balai desa, musholla, hingga ruang kelas Taman Kanak-kanak. Seperti yang dialami Indrawati (27), warga Kabat Banyuwangi. Ibu rumah tangga ini telah mengikuti kursus bahasa Inggris sebanyak 2 kali yang digelar di TK dekat rumahnya. “Selain dekat rumah, motivasi belajar Inggris yang utama supaya bisa mengajari anak saya Bahasa Inggris. Biar anak saya bangga ibunya bisa cas cis cus,” ujar Indrawati terkekeh.
Berbeda dengan Nanang Maulana mahasiswa STAI Ibrahimy yang mengikuti kursus bahasa Arab. Nanang memanfaatkan kursus ini untuk melancarkan niatnya melanjutkan studi pasca sarjana di Thailand yang mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris dan Arab. (Humas & Protokol)