Sarasehan Budaya Awali Using Culture Festival
Jumat, 6 Mei 2016
Banyuwangi - Satu lagi budaya dan kreativitas masyarakat Banyuwangi ditampilkan. Kali ini giliran tradisi warga Desa Banjar, Kecamatan Licin menggelar Osing Culture Festival (OCF). Acara yang digelar selama tiga hari dari Jumat sore (6/5) diawali dengan sarasehan kebudayaan.
Sarasehan budaya tersebut mengangkat tema kebudayaan Osing. Budayawan Punjul Ismuwardoyo didapuk menjadi pembicara utama. Menurut Punjul, tradisi dan seni budaya Banyuwangi ini sangat beragam, layaknya budaya nusantara. "Banyuwangi ini adalah Indonesia kecil. Semua kesenian di Indonesia bisa ditemui di Banyuwangi, tetapi kesenian Banyuwangi belum tentu ditemui di daerah lain," ungkap Punjul yang anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi ini mengawali paparannya.
Namun, Punjul mengingatkan, jangan sampai kesenian maupun kebudayaan khas Banyuwangi menjadi katak dalam tempurung. Terlalu bangga dengan kesenian yang ada, sehingga lupa berinovasi dan meningkatkan kreativitasnya. "Oleh karena itu, penting kesenian Banyuwangi bisa mengapresiasi kesenian daerah lain. Menyerap dan bisa mengkolaborasikannya, seperti Osing Culture Festival ini," imbuhnya.
Dalam Osing Culture Festival yang pertama kali digelar ini, eventnya tidak "anti" dengan kesenian dari luar. Dalam rangkaiannya menampilkan kolaborasi kuntulan dengan musik jazz. Tak tanggung-tanggung hadir dalam OCF 2016 ini Bogie Prasetyo, drumer internasional asal Malang, Aaron penyanyi asal Amerika Serikat, Vieuxaliou Cissoko komposer asal Sinegal, dan Herness and friend yang akan tampil mengkolaborasikan jazz dengan kuntulan Dharma Kencana asli Desa Banjar. Sementara itu, ketua karangtaruna Desa Banjar yang menjadi inisiator OCF, Suyitno, menegaskan bahwa OCF adalah pemantik untuk menyadarkan masyarakat Banjar akan potensi daerahnya. Tujuan utamanya, imbuhnya, untuk mengangkat potensi desa Banjar.
"Pariwisata Banyuwangi yang makin maju memicu kami untuk bisa menampilkan potensi desa untuk bisa menjadi daya tarik wisatawan. Setelah kita observasi, potensi yang khas Desa Banjar adalah gula nira (Aren). Makanya tema yang Banjar usung adalah The Power of Banjar Palm Red Sugar," cetus Suyitno.
Pada hari kedua pelaksanaan OCF yang berlangsung besok Sabtu (6/5) pagi dan merupakan inti acara, para pengunjung akan diajak menyusuri perkebunan nira dan melihat bagaimana nira disadap. Setelah itu para para pengunjung akan dipertontinkan bagaimana sadapan nira tersebut diolah menjadi gula aren. "Tradisinya cukup unik, karena mereka yang menyadap nira mengenakan baju serba hitam. Selain itu, penonton bisa melihat bagaimana nira tersebut fiolah menjadi gula aren," pungkas Suyitno.
Sementara itu, Camat Licin Muhamad Lutfi mendukung penuh gelaran OCF yang masuk rangkaian Banyuwangi Festival. "Banjar ini masuk menjadi salah satu pilot project smart kampung. Oleh karena itu, kita proyeksikan desa Banjar ini menjadi desa wisata. Ke depannya kita akan membuat peraturan desa yang mengatur pengelolaan desa wisata," pungkas Lutfi. (Humas)