Sinergi Bumdes-Bulog di Banyuwangi Mudahkan Warga Akses Sembako

Sabtu, 11 Februari 2017


BANYUWANGI – Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat sinergi dengan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam hal distribusi bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau. Ada lima jenis komoditas yang dikerjasamakan, yaitu beras, minyak goreng, gula, tepung terigu, dan bawang putih. Lima komoditas itu adalah barang yang paling banyak dicari sekaligus rentan fluktuasi harga ”Dengan sinergi yang telah dirintis sejak akhir tahun lalu, warga desa yang menjadi pilot project mendapat kemudahan mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau, sehingga inflasi menjadi rendah dan stabil,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Anas mengatakan, ekonomi perdesaan ikut terbantu dengan penguatan Bumdes tersebut. Hasil usaha Bumdes pada akhirnya ikut dirasakan juga oleh masyarakat. ”Saat ini sudah ada 14 desa yang meneken kesepakatan dengan Bulog. Sebagian sudah dropping barang. Tahun ini akan kami tambah terus sinergi terus ke desa-desa lainnya,” papar Anas. Salah satu Bumdes yang telah menjalankan sinergi itu adalah Bumdes Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Kepala Desa Ketapang Slamet Kasihono mengatakan, sinergi dengan Bulog direspons positif oleh masyarakat. ”Bahkan kami sudah tiga kali repeat order ke Bulog senilai puluhan juta rupiah. Kami juga bersinergi saat ada operasi pasar cabai beberapa waktu lalu,” ungkapnya. Ke depan, Slamet akan mengembangkan sinergi itu dengan membentuk Rumah Pangan Kita (RPK) di dusun-dusun. Dimulai denga dusun yang terjauh, yaitu di daerah perkebunan Selogiri. RPK merupakan agen yang menyediakan sembako bersinergi dengan Bulog. ”Kami ingin mendekatkan Bumdes kepada masyarakat, khususnya yang jauh. Agen RPK di dusun ambil bahan dari kita, sehingga warga bisa dapatkan harga yang lebih murah,” ujar Slamet. Slamet menambahkan, Bumdes di desanya berkembang cukup pesat hingga mampu berkontribusi ke pendapatan desa. Selain menjual beragam kebutuhan pokok, Bumdes tersebut juga membuka pembayaran online bersama (PPOB), toko serba ada, dan warung makan. Slamet bercerita, keinginan mendirikan Bumdes pada 2013 ini untuk mendorong kemandirian di tingkat desa. Bumdes mempunyai peranan strategis untuk menjadi instrumen bagi penguatan ekonomi perdesaan. ”Bumdes bisa membantu warga melalui penyediaan kebutuhan pangan yang terjangkau dan pasti pasokannya,” ujar Slamet. Awalnya, tak mudah menjalankan Bumdes. Modal dan pasar menjadi tantangan utama. Kas desa ketika itu sangat minim. ” Kepada staf Bumdes, saya mohon kesabarannya untuk tidak terima gaji dulu. Tidak digaji, tapi dianggap utang. Saya janjikan, 6 bulan semua gaji yang tertunda akan terbayar. Kami bersyukur, semua lancar dan terus berkembang,” kata Slamet. Di masa awal, sambung dia, pasar yang ada hanya sebatas aparat desa. Kini, pasarnya terus berkembang ke masyarakat umum. Apalagi, Bumdes mempunyai toko yang terletak di pinggir jalan umum, sehingga mudah dijangkau calon konsumen. ”Waktu itu saya mengumpulkan para ketua RT dan RW, saya imbau agar warga memanfaatkan Bumdes secara maksimal. Desa harus mandiri. Semua urusan harus bisa kita kerjakan. Kami bersyukur, pasar dan usaha kami akhirnya terus berkembang. Bahkan, kami juga membuka bisnis fotokopi dan menjadi agen layanan keuangan dari salah satu bank pemerintah. Pelanggan pembayaran online bersama (PPOB) kami sudah lebih dari 700 orang," ujarnya. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :