Staf Khusus Wapres Sosialisasikan Pendidikan Karakter

Selasa, 18 Juni 2013


BANYUWANGI  -  Pendidikan karakter menjadi penekanan khusus pada kurikulum 2013. Untuk itu Dinas Pendidikan secara khusus mengundang pakar pendidikan sekaligus staf khusus wakil presiden penyusun kurikulum 2013, Haidar Bagir, untuk memberikan sosialisasi aplikasi pendidikan karakter, secara langsung kepada ratusan tenaga pendidik di Pendopo Shaba Swagata, Senin (17/6).

Haidar mengatakan tujuan pendidikan bukan sekedar mengantar seorang anak mencapai sukses menggapai kemakmuran materi semata, namun sukses dalam semua bidang kehidupannya.Dimana seorang anak menjadikan kejujuran, kebaikan dan keindahan (truth, beauty, goodness) sebagai landasan dalam tindakannya.  Untuk mencapai itu, dibutuhkan penanaman nilai-nilai karakter yang menyeluruh  dalam pendidikan yang diterimanya. “Pendidikan karakter harus dilakukan melalui praktek, penghayatan dan proses internalisasi secara langsung oleh setiap anak di sekolah,” kata Haidar.

Untuk itu, lanjut Haidar dalam kurikulum 2013, pendidikan karakter bukan lagi domain pendidikan agama seperti pada masa sebelumnya. Namun pendidikan karakter menjadi ‘ruh” bagi semua bidang pendidikan yang diajarkan di sekolah. Dalam kurikulum 2013, mata pelajaran dikemas dalam program tematik terpadu yang didalamnya menggunakan penilaian dengan ‘kompetensi inti’ yang menjadi standar kelulusan dan mengikat semua pelajaran. “Kompetensi inti terdiri atas kompetensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Dan kompetensi inti ini akan dimasukkan dalam semua pelajaran di sekolah,” ungkap Haidar.

Haidar mencontohkan, kompetensi inti dengan parameter sikap, seperti perilaku jujur, peduli, menolong, nantinya harus diterapkan baik dalam pelajaran agama, sains atau bahasa karena ada penilaian tersendiri pada setiap mata pelajaran tersebut. Karena itu pemahaman guru tentang nilai-nilai pendidikan karakter dan bagaimana menerapkannya harus benar-benar ditekankan dalam kurikulum ini. “Yang harus dihindari adalah mengajar murid secara kognitif. Guru tidak boleh lagi sekedar mengajarkan hafalan kepada murid namun ada karakter yang dibentuk. Misalnya mengajarkan sholat, bukan lagi meminta anak menghafalkan rukun-rukunnya saja tapi apa makna dibalik setiap gerakan sholat itu,” papar Haidar.

Meski nampak berat karena setiap guru dituntut menggunakan metode baru di luar kebiasaan sebelumnya, namun Haidar menjamin pelaksanaan kurikulum baru akan lebih menyenangkan dan bermanfaat bagi murid dan guru. Apalagi, petunjuk teknis aplikasi pendidikan karakter pada kurikulum 2013 secara lengkap juga telah disiapkan.”Yang penting  para guru harus mau membaca dan mempelajarinya,” pinta Haidar.

Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan kurikulum pendidikan menjadi salah satu bidang penting yang menjadi perhatian serius pemerintah kabupaten. Karena kurikulum pendidikan akan menentukan kemana arah kebijakan pendidikan yang berpengaruh pada output kualitas SDM khususnya di Banyuwangi. “Kurikulum pendidikan berperan penting dalam membentuk kualitas SDM generasi penerus kita. Insyaallah dengan adanya pendidikan karakter dalam kurikulum baru dan diaplikasikan dengan penuh integritas dan kepedulian oleh para guru dan kepala sekolah akan muncul bibit-bibit SDM terbaik di Banyuwangi,” tutur Bupati.

Pada acara tersebut tidak kurang 350 insan pendidik yang terdiri atas guru, Kepala Sekolah, Kepala UPTD, pengawas dan penilik hadir dalam acara tersebut. Kesempatan itu juga dihadiri oleh Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko serta jajaran Kepala Dinas, Badan dan Kantor.

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :